
...Happy reading...
*****
Malam yang sunyi sesunyi hati Intan saat ini karena sang suami sampai sekarang belum juga pulang. Khawatir? Tentu saja Intan sangat khawatir karena seminggu ini Zico selalu pulang larut malam, entah apa yang dipikirkan Intan saat ini tetapi berulang kali ia menghela napas berat hingga suara pintu terbuka menyentak Intan dari lamunannya.
Ceklek...
Tampak sekali wajah lelah dari Zico membuat Intan dengan cepat menghampiri suaminya, mengambil tas kerja dan melepas jas, serta sepatu sang suami. Zico yang mendapat pelayanan seperti ini dari sang istri merasa bersalah karena sikap Zico yang mencoba menghindar dari Intan. Zico tersenyum samar saat Intan menatapnya.
"Kok belum tidur? Ini sudah jam 11 malam loh," ucap Zico melihat ke arah jam dinding di kamarnya.
"Aku khawatir sama Mas Zico. Kenapa seminggu ini Mas selalu pulang larut malam? Apa terjadi sesuatu di perusahaan Mas?" tanya Intan dengan khawatir.
Deg...
"Bukan! Aku pulang larut malam karena mencoba menghindarimu! Aku tidak ingin terus menyakitimu dengan berpura-pura mencintaimu!"
"Ahhh.. Hanya ada sedikit masalah, Sayang. Maafkan aku ya!" ucap Zico merasa bersalah.
Intan tersenyum. "Gak apa-apa Mas! Intan maklum dengan kesibukkan Mas Zico. Hanya saja Intan merasa kesepian," ucap Intan dengan lirih membuat Zico semakin merasa bersalah. Ia membawa Intan kepelukannya menghirup wangi tubuh wanita yang akhir-akhir ini membuat pikirannya tak menentu.
"Aku sudah mencintaimu sangat dalam Mas. Tolong jangan kecewakan aku! Aku tidak akan sanggup jika perhatianmu ini adalah kebohonganmu semata!"
Ada apa sebenarnya dengan hati Zico? Mengapa ia merasa tak rela melihat raut kesedihan dari istrinya?
"Mas mau mandi? Biar aku siapkan air hangatnya!" ucap Intan dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Zico yang selalu membuatnya nyaman.
"Nanti saja! Aku ingin buka puasa dulu, seminggu ini aku sangat sibuk sekali," ucap Zico dengan terkekeh membuat kedua pipi Intan memerah karena tahu apa yang di maksud suaminya.
"Kamu mau kan menjadi hidangan pembukanya malam ini?!" ucap Zico dengan mengelus kening Intan dengan sayang.
"Mas Zico ini bicara apa?" ucap Intan dengan malu.
"Jangan memperlihatkan wajah yang seperti itu, Sayang. Aku semakin gemas melihatnya dan lihatlah dia sudah memberontak di dalam celana. Apa kau bisa membantuku mengeluarkannya?" tanya Zico dengan serak.
Dengan ragu Intan mengangguk, ia melepas ikat pinggang suaminya dan melepaskan celana suaminya dengan tangan gemetar. Intan tahu Zico ingin dipuaskan olehnya sekarang. Dan Intan suka itu karena artinya Zico hanya menginginkannya.
"Kemari Sayang!" ucap Zico dengan serak setelah Intan berhasil memuaskan juniornya dengan tangan mungil Intan. Dengan patuh Intan naik ke atas pangkuan Zico dan dengan tidak sabaran mantan casanova itu melahab bibir istrinya dengan ganas, Intan mencoba menyeimbangi permainan suaminya hingga Intan melenguh saat Zico memasukkan miliknya.
"Ini, ini, ini dan semua ini hanya milikku. Kamu mengerti Sayang? Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku!" ucap Zico dengan posesif menunjuk bagian sensitif di tubuh istrinya dengan mata yang dikuasai gairah.
"I-iya Mas. Aku hanya milikmu!" ucap Intan dengan menggigit bibir bawahnya membuat Zico semakin menggila.
****
Leon menatap sang istri di layar ponselnya. Terdengar dengkuran halus dari sang istri membuat Leon tersenyum. Seminggu terasa sebulan baginya dan Leon ingin segera pulang memeluk sang istri.
"Cih, lo pikir hanya lo aja yang merindukan istri lo! Gue juga tahu. Lama-lama gue gila karena jauh dari si Ndut," ucap Ryan dengan sinis.
Leon dengan cepat membisukan suara karena ia masih melakukan video call dengan sang istri yang sudah tertidur, Leon tidak ingin mengganggu tidur sang istri setelah menangis karena merindukannya. Walaupun di Jepang sudah menunjukkan jam 01:00 tetapi tidak membuat Leon mengantuk karena ingin terus memandangi wajah sang istri yang terlihat sembab.
"Si Ndut? Siapa? Lo punya selingkuhan? Awas aja kalau lo berani menyakiti adek gue, gue penggal kepala lo!' ucap Leon dengan tajam.
"Enak aja kalau ngomong. Si Ndut itu Ica tahu. Lo tahu sendiri'kan semenjak nikah badan adek lo melar apalagi sekarang hamil. Beuh gemes gue sama bokongnya yang aduhai apalagi dadanya. Ahh... Gara-gara lo, gue bayangin si Ndut di sini," ucap Ryan dengan frustasi.
Leon mendengkus dan melempar bantal ke arah sahabatnya tersebut. "Kalau Ica tahu lo bilang dia melar. Gue pastiin junior lo gak bisa hidup dengan tenang!" ucap Leon dengan santai.
Glekkk..
Ryan menelan ludahnya dengan susah payah. "Jangan coba-coba lo ngadu sama Ica, Leon. Ini bahaya! Lo tahukan cewek itu sensitif kalau kita sebagai lelaki membahas tubuhnya, apalagi kita bilang gendut," ucap Ryan dengan sinis.
"Gue gak pernah ngomong gitu sama Laura ya! Istri gue seksi dari apapun," ucap Leon dengan datar.
"Alah bucin!" ejek Ryan.
"Bucin teriak bucin," ejek Leon.
Ryan yang mendapat balasan ejekan dari sahabatnya hanya bisa mendengkus sebal. "Jangan ganggu gue! Gue mau tidur. Mau mimpiin Si Ndut yang lagi puasin junior gue! Kalau bukan karena lo sahabat gue, mana mau gue ikut lo ke Jepang," omel Ryan.
"Lo sekretaris gue kalau lo lupa!" ucap Leon dengan sarkas.
"Cih dasar kakak ipar gak tahu diri!"
Akhirnya mereka berhenti berdebat setelah sama-sama merasa lelah hingga terlelap begitu saja.
*****
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa ramein part ini guys!
Like, vote, dan coment jangan lupa!