Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~105 (Suamiku)



...Happy reading...


****


Sultan sebenarnya sangat khawatir dengan sang istri yang tak mau memakan apapun selain minum jus alpukat. Tetapi melihat senyuman dari wajah istrinya membuat Sultan sedikit lega. Selama kehamilan Ika hanya sesekali ke restoran, selain itu semua pekerjaannya dilakukan di rumah bersama dengan sang suami yang memang selalu berada di rumah tetapi uangnya selalu mengalir dengan banyak hanya sesekali saja Sultan keluar untuk menemui orang yang akan menyewa rumah atau mengecek tokonya.


Saat ini Sultan dan Ika sedang duduk di karpet dengan bersandar di sofa. Sultan sedang mendesain rumah di laptopnya, desain rumah yang memang sangat Ika inginkan sebenarnya tetapi Sultan tak mengatakannya rumah ini akan tahap pengerjaan bulan depan di dekat rumah mereka, sebenarnya ini adalah mahar untuk Ika yang sesungguhnya.


"Desainnya bangus banget, Bang. Rumah siapa?" tanya Ika dengan bersandar di dada bidang Sultan.


"Rumah kolega Abang. Dia minta desain yang seperti ini. Bagus banget emang, Dek?" tanya Sultan memastikan.


"Bagus banget, Bang. Aku suka desainnya seperti rumah impian aku," ucap Ika dengan lembut. Sultan mengecup puncak kepala Ika dengan sayang.


"Bulan depan pembangunannya gak jauh dari rumah kita. Adek mau menjadi orang yang meletakkan batu pertama?" tanya Sultan dengan pelan.


"Loh kok aku, Bang? Bukannya punya kolega Abang ya?" tanya Ika dengan terkejut.


"Beliau gak bisa hadir karena ada kerjaan di luar kota. Abang yang handle semuanya, jadi Adek aja yang meletakkan batu pertama. Hitung-hitung bantu Abang kerja," jawab Sultan berbohong. Ia ingin tertawa sekarang melihat wajah lucu istrinya saat mengerjapkan matanya ke arahnya.


"Serius boleh?" tanya Ika dengan penasaran.


"Bolehlah. Kan ini pekerjaan Abang. Abang bosnya dan kamu istri bosnya. Gak ada yang bisa melarang kamu," ucap Sultan dengan terkekeh.


"Suamiku bisa sombong juga," goda Ika membuat Sultan tertawa. Irama jantungnya juga kembali lebih cepat karena Ika menyebutkan kata 'suamiku'. Kata sederhana yang membuat Sultan bahagia.


"Bukan sombong, istriku tercinta! Itu kenyataan tahu!" jawab Sultan dengan terkekeh. "Anak-anak swalayan juga terkejut waktu kita nikah," ucap Sultan dengan mengingat bagaimana keterkejutan anak buahnya karena memang ia tidak pernah dekat dengan gadis manapun dan ternyata ia malah jatuh cinta dengan gadis dari Jakarta. Takdir dan jodoh tidak ada yang tahu.


"Pastilah mereka terkejut, Bang. Tapi Bang, aku akhir-akhir ini sering mimpi ayah. Aku jadi pengin pulang," ucap Ika dengan sendu membayangkan wajah tua ayahnya yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.


"Liburan semester Cut 3 bulan lagi. Masih kelas satu masih boleh absen kan ya. Belum banyak materi pelajaran. Apa kita ke Jakarta aja?" ucap Sultan yang membuat Ika membelalakkan matanya.


"Sayang Cut, Bang kalau sering absen!" ucap Ika dengan cepat. Ia tak mau mengorbankan sekolah anaknya.


"Apa ibu sama bapak suruh ke Medan aja buat jagain Cut selama kita di Jakarta?" Sultan memilih opsi kedua siapa tahu Ika menyetujuinya.


"Jangan! Kasihan Cut kalau kita tinggal," ucap Ika dengan sendu. "Ini bukan Medan-Aceh, Bang! Tapi Medan-Jakarta, walau bisa di tempuh beberapa jam menggunakan pesawat tetap aja jauh banget," ucap Ika menghela napasnya.


Sultan juga ikut menghela napasnya. Ia tahu Ika sangat merindukan kedua orang tuanya serta saudaranya yang lain. "Libur seminggu gak apa-apa. Ini tanggal 15. Kita berangkat ke Jakarta sesudah melihat pembangunan rumah dan Adek yang meletakkan batu pertamanya. Ada waktu 15 hari lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Nanti Abang yang akan ke sekolah Cut untuk mengkomfirmasi semuanya."


"Beneran gak apa-apa?" tanya Ika dengan sendu.


"Beneran. Walau kamu tanggungjawab Abang dalam segala hal dan surga kamu ada di Abang. Tidak pantas rasanya Abang melarang kamu untuk bertemu dengan keluarga kamu, Dek. Walau bagaimanapun merekalah yang membesarkan kamu, Abang hanya tinggal melanjutkan tugas mereka saja," ucap Sultan dengan yakin. Ika terharu mendengar kata-kata Sultan, ia langsung menghujami Sultan dengan ciuman yang bertubi-tubi membuat Sultan terkekeh memeluk Ika dengan gemas.


"Sebentar lagi jemput Cut. Aku ikut," ucap Ika dengan manja.


"Kamu kemana yang gak ikut Abang, hmm? Ke kamar mandi juga ikut kan, Sayang?" ujar Sultan membuat Ika mengerucutkan bibirnya.


"Abang kan tahu aku langsung memuntahkan semuanya kalau aku makan. Cuma jus alpukat yang gak," ucap Ika dengan lirih. "Padahal Ica jadi gendut ya. Badannya melar banget waktu hamil, semuanya membengkak tapi anehnya Ryan makin gemas sama tuh anak," ucap Ika dengan heran.


"Karena ibu hamil itu seksi bagi suaminya," ucap Sultan dengan jujur.


"Berarti aku seksi nih, Bang?" tanya Ika menaik-turunkan alisnya. Sultan langsung mengangguk dengan cepat membuat kedua pipi Ika memerah.


"Seksi banget apalagi waktu tanpa busana dan hanya berdua sama Abang!" jawab Sultan dengan frontal.


"Ish.. Semua lelaki mah gitu," rajuk Ika manja. Sultan tertawa dan mengacak rambut Ika dengan gemas.


"Ganti bajunya kita mau jemput Cut!" ucap Sultan dengan tegas.


"Gini aja ayuk Bang!" goda Ika membuat Sultan mendelik tajam.


"Dek!"


"Kenapa? Kan seksi?" pancing Ika membuat suaminya semakin kesal.


"Sejengkal aja kamu keluar pakai pakaian haram ini. Abang bakar semuanya ya!" ancam Sultan.


"Hahaha.... Aku cuma bercanda suamiku, Sayang. Aku ganti pakai gamis kok kan ini sudah kewajiban aku. Uluh-uluh suamiku lucu kalau lagi kesal gini," ucap Ika membuat Sultan mencibikkan bibirnya dan mengikuti ucapan Ika tanpa suara membuat Ika tertawa senang dan berlari ke arah kamar.


"Ya Allah. Kamu lagi hamil, Dek. Jangan lari-lari," teriak Sultan kesal.


"LUPA BANG!" teriak Ika dengan terkikik geli.


"Lupa-lupa. Untung anakku kamu bawa di dalam perut kalau gak udah kamu lupain juga," ucap Sultan sedikit keras agar sang istri mendengar ucapannya.


Ika yang sedang memilih gamis di lemarinya menjadi terkekeh lucu kala suaminya kesal seperti ini. "Jangan marah!" ucap Ika dengan terkekeh.


"Abang marah. Awas saja pulang jemput Cut, Abang terkam kamu," ucap Sultan yang ternyata sudah berada di ambang pintu kamarnya memperhatikan istrinya yang sedang berganti pakaiannya. Sultan menelan ludahnya dengan kasar kala Ika dengan santainya berganti pakaian di hadapannya.


"Sekarang juga boleh," ucap Ika dengan genit.


Sultan mengelus dadanya. "AllahuAkbar...


Kuatkan hamba dari bidadari penggoda di depan hamba Ya Allah," ucap Sultan dramatis membuat Ika tertawa dan setelah itu Sultan juga ikut tertawa karena tawa sang istri yang sangat menular untuknya.


****


Kenapa ya part uwu-uwu gak banyak yang koment. Apa harus banyakin part sedih biar tisu para pembaca habis dan suara habis karena teriak-teriak ke author? Author jadi herman sama kalian. Gak mau sedih-sedih tapi sekalinya part romantis yang koment hanya segelincir orang🙊🤣🤣🤣


Jangan lupa ramein lagi yak.


like, vote, koment yang banyak!