
...Double up seperti biasa. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
***
Cut menggeliat dalam tidurnya, ia merasa tubuhnya sangat pegal sekali karena melayani suaminya, apalagi tugas yang ia kerjakan belum selesai.
Tugas?
Ya Allah, Cut lupa dengan tugasnya. Ia langsung bergegas bangun hingga membuat kepalanya pusing. Tanpa mengusik tidur suaminya Cut berlari ke arah meja di mana tugasnya berada, ia tidak sadar jika tubuhnya masih polos tanpa pakaian. Jam menunjukkan pukul 4 pagi rasa kantuknya langsung hilang karena kepanikannya sendiri.
"Kamu ngapain di situ, Sayang?" tanya Ihsan dengan serak. Ihsan terbangun karena tidak mendapatkan Cut di sampingnya.
"Tugas aku belum selesai, Bang. Gimana ini? Padahal tugasnya harus dikumpulkan pagi ini," jawab Cut dengan panik.
"Jangan sepanik itu, Sayang. Tugas kamu sudah selesai," ucap Ihsan menghampiri istrinya.
Glek...
Ihsan menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh polos istrinya. Matanya sudah tidak fokus dengan dua gundukan kenyal milik Cut tersebut.
"S-selesai? Cut ingat belum selesai mengerjakannya, Bang. Saat Abang meminta...."
Deg...
Cut menelan ludahnya dengan gugup saat dirinya mengingat sesuatu. Ia langsung menutup kedua gunumg kembar miliknya saat Ihsan menatapnya dengan intens. "A-abang jangan menatap Cut seperti itu!" ucap Cut mengambil kimono handuk yang ia gantung di dekat kamar mandi dan langsung memakainya
Ihsan yang sadar langsung terkekeh padahal miliknya saat ini sudah berdenyut sakit karena ulah tak sadar istrinya.
"Jawab Cut, Bang. Siapa yang mengerjakan tugas Cut?" tanya Cut tak percaya jika tugas-tugasnya sudah selesai semua.
"Kenapa Abang kerjakan? Seharusnya biarkan Cut menger..."
"Ssttt... Biarkan suami kamu membantu meringankan tugas kamu, Sayang. Kali ini kamu tidak boleh protes," ucap Ihsan dengan tegas.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, istriku tercinta! Sskarang ayo kita mandi wajib," ucap Ihsan dengan tegas membuat Cut tidak bisa berkutik saat Ihsan menggendongnya ke kamar mandi.
Suami baik tapi sangat modus! Itulah Ihsan di mata Cut sekarang karena saat ini di dalam kamar mandi keduanya tidak hanya sekedar mandi tetapi menghabiskan waktu untuk merengkuh kenikmatan bersama. Jika tidak mengingat sholat subuh mungkin Ihsan tak akan berhenti menggagahi tubuh istrinya.
****
Matahari sudah menampakkan sinarnya, Dio kembali pada aktivitasnya sebagai psikiater di salah satu rumah sakit terbaik. Tetapi semakin hari bayang-bayang Cut semakin nyata untuknya membuat Dio frustasi sendiri bahkan lelaki utu sampai kurang tidur padahal kesibukkannya sebagai dokter sudah menguras jam istirahatnya ditambah memikirkan Cut membuat lingkaran hitam di bawah mata Dio sangat terlihat.
Dio mulai melakukan terapi untuk pasiennya, pasien kali ini memiliki gangguan dalam tidurnya. Yaitu tidak bisa tidur hingga pagi menjelang, insomnia yang diderita pasiennya ini cukup terbilang serius.
"Saya harap anda jangan mengkonsumsi obat tidur untuk bisa membuat anda tertidur," ucap Dio setelah melakukan terapi prilaku pada pasiennya.
"Saya akan coba, Dok," ucap pasien tersebut dengan pelan.
"Di ruang manapun yang membuat anda nyaman dan bisa tertidur dengan pulas maka pejamkan mata anda, nikmati suasana nyaman tersebut hingga anda tertidur ya," ucap Dio dengan tegas.
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap pasien tersebut dengan tersenyum.
Dio menganggukkan kepalanya, ia hanya tersenyum tipis saat pasiennya keluar dari ruangannya. Setiap harinya ia merasa berat untuk bekerja padahal biasanya Dio tidak pernah merasa seperti ini.
"Cut, apa masih ada kesempatan untuk Abang memilikimu?" gumam Dio menatap langit-langit ruangannya. Dio tersenyum seakan membalas senyuman manis Cut yang berada di depannya, lagi dan lagi Dio hanya bisa berkhayal jika Cut berada di dekatnya.