
...Happy reading...
****
6 bulan kemudian...
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk pasangan suami istri Ihsan dan Cut. Dua tahun menanti hadirnya momongan di dalam pernikahan mereka akhirnya keduanya mendapatkannya setelah penantian panjang yang mereka jalani.
Ihsan senantiasa menemani Cut untuk melahirkan. Melihat sang istri kesakitan Ihsan merasa tidak tega, sehabis subuh Cut mengeluh sakit pada perutnya yang semakin intens.
"S-sakit Bang," ucap Cut dengan lirih. Peluh sudah membasahi dahi Cut saat ini, tangan Cut menggenggam tangan Ihsan dengan kuat saat intruksi dokter menyuruhnya untuk mengejan.
"Iya, Sayang. Kamu pasti bisa," ucap Ihsan dengan lirih mengecup kening Cut dengan lembut.
"Terus Bu. Kepala bayinya sudah keluar," ucap Dokter dengan lembut.
"Huuuuu.....Akhhh....." Cut menghembuskan napasnya dengan perlahan, ia mengejan sesuai intruksi yang dokter katakan padanya.
Ihsan terus menyemangati sang istri, ia terus berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Dan setelah suasana yang menegangkan itu terjadi akhirnya Ihsan bisa bernapas dengan lega saat suara bayi terdengar di ruang persalinan.
Rasa haru, bahagia bahkan sampai Ihsan memgeluarkan air mata di depan istri, dan juga dokter serta para suster yang membantu persalinan sang istri. Rasa takut yang tadinya Ihsan rasakan berganti dengan rasa bahagia yang sangat luar biasa.
"Selamat Pak, Bu atas kelahiran bayi yang sangat cantik sekali dan tidak ada kekurangan suatu apa pun," ucap dokter wanita itu dengan tersenyum.
Cut menangis tanpa suara saat melihat anaknya menangis dan diletakkan di dadanya. "Terima kasih Dokter," ucap Cut dan Ihsan dengan perlahan.
"Sama-sama, Bu!"
Cut menatap anaknya dan suaminya secara bergantian. "Aku sudah menjadi bunda, Bang. Kita jadi orang tua sekarang hiks..." ujar Cut dengan lirih.
"Iya, Sayang. Kita sudah menjadi ayah dan ibu untuk anak secantik Baby Mashita," ucap Ihsan dengan sangat bahagia.
Setelah baby Mashita dibersihkan Ihsan mengazani anaknya. Ia sampai menangis sangat pertama kalinya menggendong anaknya.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Selamat datang dipelukan ayah dan bunda. Semoga kamu menjadi anak yang sholehah dan bisa membahagiakan ayah dan bunda juga saudara kamu yang lainnya.
Sultan dan Ika serta keluarga yang lainnya yang menunggu di luar merasa bahagia saat mendengar suara bayi Cut dan Ihsan sangat terdengar keras.
"Alhamdulillah, Pa. Kita sudah menjadi nenek dan kakek," ucap Ika dengan menangis haru.
*****
Saera menatap cicitnya dengan mata yang berbinar, semua orang tampak bahagia saat mendengar Cut sudah melahirkan secara normal dan keduanya baik-baik saja.
Cut tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya. Apalagi mertuanya yang kian berubah menjadi baik saat Cut Mashita lahir.
Dirga dan Vera ikut menjenguk Cut yang berada di rumah sakit.
"Ini dia calon papa dan mama muda sudah datang," ucap Sultan dengan menepuk punggung keponakannya.
Dirga hanya tersenyum tipis menyalami semua keluarganya. Begitu pun dengan Vera, walaupun ia sudah sangat susah bergerak karena saat ini Vera sedang mengandung bayi kembar.
"Kamu sehat, Ver?" tanya Laura pada menantunya saat Dirga membantu Vera duduk di sebelah Laura.
"Alhamdulillah sehat, Bun," ucap Vera dengan tersenyum saat mertuanya mengusap perut besarnya.
"Jaga baik-baik istri kamu Dirga. Jangan sibuk terus," ucap Laura dengan tegas.
"Iya, Bun. Vera adalah prioritas pertama setelah bunda," ucap Dirga dengan tersenyum yang membuat Vera tersipu malu.
Vera melihat anak dari Cut. Ia tersenyum senang saat mendengar rengekan baby Mashita.
"Cut, aku boleh gendong baby Mashita?" tanya Vera dengan mata yang berbinar.
"Boleh, Kak," jawab Cut dengan ramah.
"Mas, ambil baby Mashita," ucap Vera pada suaminya.
"Iya, Sayang. Sebentar," ucap Dirga dengan ragu.
Dirga mengambil baby Mashita yang berada di gendongan Ika. Dirga terlihat kaku sekali saat menggendong baby Mashita. "Jangan kaku banget, Dirga. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ayah," ucap Leon dengan mengejek anaknya.
"Jangan berisik, Yah. Aku takut tulangnya remuk, itu saja," kilah Dirga yang membuat semua orang tertawa.
"Bikinnya saja pintar tapi belajar gendong saja kaku," ucap Ryan yang membuat Dirga mendengkus kesal.
Ya ialah bikin anak pintar karena tinggal mengikuti insting seorang lelaki dan sangat beda dengan cara menggendong anak bayi seperti ini. Ingin sekali Dirga berkata seperti itu tetapi ia tidak ingin menjadi bahan ejekan para keluarganya.