
...Happy reading...
****
Semalaman Leon telah menjaga Laura dan sekarang lelaki itu sudah berada di rumahnya. Ia melihat sang kakak yang berada di rumahnya mengernyit bingung, Leon menghampiri Alan dan Ulan yang sedang duduk bersama dengan kedua orangtuanya.
"Kak Ulan sama Mas Alan tumben pagi-pagi sudah ada di sini?" tanya Leon yang duduk di sebelah Ulan.
Ulan tersenyum ke arah sang adik yang baru saja datang. "Kemana saja kamu kok baru pulang?" tanya Ulan dengan menyindir sang adik membuat Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Tidur di apartemen," jawab Leon dengan berbohong.
"Mas sama kakak Kamu ke sini mau meminta bantuan kamu," ucap Alan dengan menatap adik iparnya tersebut.
"Bantuan apa?" tanya Leon dengan raut wajah serius.
"Sebelumnya Mas sudah mengatakan ini semua dengan papa dan bunda. Mas ingin kamu mengatasi masalah perusahaan Mas yang ada di Singapura," ucap Alan tanpa berbasa-basi karena masalah perusahaannya harus segera ditangani secepatnya.
"Ayah sama bunda terserah kamu saja. Tapi jika bisa bantu mas dan kakakmu, perusahaan yang ada di sini biar Ryan yang memegang untuk sementara waktu," ucap Leo dengan menatap anak lelaki satu-satunya itu.
"Memang masalah apa? Kenapa tidak Elang saja yang menangani masalah perusahaan yang ada di sana?" tanya Leon dengan serius karena jujur saja ia tidak mungkin meninggalkan Laura dan Dirga dalam waktu yang cukup lama tanpa pengawasannya.
"Elang belum cukup pandai untuk mengatasi masalah perusahaan yang ada di Singapura. Elang juga baru belajar memimpin perusahaan Leon. Ada penggelapan dana perusahaan yang cukup besar dari orang dalam di perusahaan Mas. Dan Mas tidak bisa pergi ke sana karena tidak mungkin Mas meninggalkan kakak dan keponakanmu di sini dalam waktu yang cukup lama," ucap Alan dengan tegas. Namun, tersirat kata memohon di sana.
"Mas bisa membawa kak Ulan ke sana juga," ucap Leon berusaha menolak.
"Kakak tidak mau pergi ke Singapura," protes Ulan dengan cepat. "Ayolah adikku yang tampan, bantu kami sekali ini saja," ucap Ulan dengan memelas membuat Leon menghela nafasnya dengan berat.
"Kamu pimpin perusahaan hingga tidak ada masalah lagi," ucap Alan dengan memohon. "Nanti di sana kamu juga akan dibantu oleh rekan kerja Mas. Namanya pak Hendra, dia orang yang sangat bisa diandalkan," ucap Alan menatap kedua mata adik iparnya uang merasa berat untuk pergi.
"Berapa lama?" tanya Leon dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Kamu tidak mau membantu kami ya, Leon? Kalau tidak bisa kami tidak apa-apa," ucap Ulan dengan sendu. Satu alasan yang tidak ingin membuat dirinya pergi yaitu Jihan yang masih membutuhkan dirinya. Trauma yang dialami Jihan membuat Ulan dan Alan harus sering konsultasi ke psikiater agar menghilangkan trauma Jihan akibat pelecehan seksual yang dilakukan oleh segerombolan orang tidak dikenal. Karena itu pula Jihan yang ceria sudah tidak ada lagi, hingga Ulan dan Alan sebagai orang tua harus mampu mengembalikan anaknya seperti dulu dan keduanya menyesal karena sering meninggalkan Jihan dan Elang hanya karena pekerjaan.
Leon yang melihat wajah kakaknya menjadi murung merasa bersalah, ia paham sekali apa yang dirasakan Ulan saat ini. "Baiklah Leon akan pergi ke Singapura untuk mengatasi masalah perusahaan yang ada di sana serta memimpin perusahaan tersebut. Tapi, setelah dua tahun Leon ingin kembali ke sini lagi dan tidak mau memimpin perusahaan yang ada di sana," ucap Leon dengan tegas.
Saera menatap anaknya dengan bangga walau mereka terlahir dari rahim yang berbeda tetapi ke-empat anaknya sangat akur dan saling menyayangi satu sama lain terlebih Ika dan Ica yang sangat manja dengan Ulan dan Alan bahkan mereka sering menginap di rumah Ulan hanya untuk memakan masakan sang kakak.
"Mbak Dinda terima kasih atas kebahagiaan yang mbak berikan kepadaku. Aku tidak bisa membalasnya selain membuat anak-anak kita rukun," ucap Saera di dalam hatinya dengan penuh perasaan haru.
"Jadi kamu mau membantu kami, kan?" tanya Ulan dengan perasaan yang sangat lega.
"Iya Kak," ucap Leon dengan tersenyum tipis. Ini adalah keputusan yang sangat berat yang harus Leon ambil demi membantu sang kakak yang sangat ia sayangi. Walau ia harus meninggalkan Laura dalam waktu yang sangat lama. Dua tahun bukanlah waktu yang cepat baginya, meninggalkan Laura sama saja menyiksa hatinya karena rindunya terhadap wanita itu. Tetapi ini juga waktu yang sangat tepat untuk menguji perasaan wanita itu untuknya.
"Terima kasih Leon," ucap Ulan memeluk adiknya dengan erat.
"Sayang jangan peluk-peluk Leon!" ucap Alan yang cemburu. Saera dan Leon hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Alan yang tidak pernah berubah jika menyangkut dengan istrinya.
"Sudah punya anak dua dan semuanya sudah beranjak dewasa, masih saja kamu cemburu ketika Ulan memeluk adiknya sendiri," ucap Leo kepada Alan yang memang bersahabat sejak dulu.
"Kayak Papa tidak saja," ucap Alan membuat Leon tersenyum tipis karena melihat kemesraan ayah dan ibunya serta kakak dan kakak iparnya membuat Leon ingin segera menikahi Laura tetapi sial wanita itu masih saja menolaknya.
****
Aduh Om Leon mau pergi nih!
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa like, vote dan komentar sebanyak-banyaknya ya!