
...Jangan lupa ramein part ini yak....
...Happy reading...
****
Vera menggigit bibir bawahnya saat Dirga merangkak naik ke atasnya. Entah sejak kapan Dirga masuk ke kamarnya, yang jelas lelaki itu menginap di rumahnya bersama dengan Virgo berdalih tugas kuliah yang sangat susah dan membutuhkan bantuannya.
Dirga tersenyum manis saat Vera membuka matanya. Ia mengecup bibir Vera bertubi-tubi membuat Vera terkekeh.
"Dirga turun berat," rengek Vera dengan manja.
Dirga tak bergeming ia malah menatap wajah cantik Vera tak berkedip membuat Vera gugup di pandang dengan jarak sedekat ini oleh Dirga. "K-kenapa?" tanya Vera dengan terbata.
"Kamu cantik," jawab Dirga dengan tulus membuat Vera tersipu dengan pipi yang memerah seperti tomat.
Dirga membelai pipi Vera dengan lembut. Ia kembali mengecup bibir Vera dengan lembut, Vera juga membalas ciuman Dirga dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang cocok menjadi adiknya itu tetapi Vera terlanjur sangat mencintai lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Dirga setepah melepas tautan bibir mereka.
Dirga seperti mengetahui ada yang disembunyikan dari kekasihnya terlihat dari mata Vera yang seakan penuh kebimbangan.
"E-enggak ada kok," jawab Vera dengan gugup.
"Jangan bohong Vera. Aku tahu itu!" ucap Dirga dengan tegas.
Vera terlihat gugup. Ia bimbang untuk mengatakannya dengan Dirga, ia takut lelaki itu akan marah kepadanya. "A-aku..." Vera tercekat, ia mencium bibir Dirga dengan rakus.
Dirga terkejut karena Vera memulai ciuman mereka. Tanpa kata Dirga juga membalas ciuman Vera dengan dalam. Dirga yakin saat ini ada yang telah mengganggu pikiran kekasihnya.
"Ahhhhh..." Vera mendesah saat ciuman Dirga turun ke lehernya.
Vera memegang sprei dengan kuat kala Dirga menghisap lehernya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Tangan Dirga menyusup ke balik piyama Vera dan memainkan sesuatu di sana yang membuat Vera mendesah tak karuan.
"D-dirga ahhhh...." Vera blingsatan saat Dirga terus memainkan gairahnya yang ingin di sentuh lebih dari ini.
"C-cepat Dirga! Jangan permainkan aku," ucap Vera dengan suara yang berat karena gairahnya sudah terpancing sejak tadi.
Dirga tak banyak bicara. Ia terus menyusuri tubuh Vera dengan lidahnya, ia juga sudah membuang piyama Vera ke lantai membuat Vera sudah pasrah saat Dirga menguasai tubuhnya.
"D-dirga..." panggil Vera dengan napas yang terengah saat Dirga sedang memainkan puncak kedua gunungnya dengan rakus.
"Hmmm..." Dirga hanya berdehem karena sedang menikmati benda favoritnya.
"A-aku ditugaskan oleh ayah ke perusahaan cabang membantu kakakku yang sedang mengalami masalah. Aaahhhh..." Vera akhirnya berbicara dengan jujur kepada Dirga.
"Berapa hari?" tanya Dirga dengan menatap tajam ke arah Vera.
"E-enggak tahu. M-mungkin lama," jawab Vera dengan lirih.
"Hiks...aku gak mau di pandang rendah oleh mantan suami dan mertuaku makanya aku mengambil keputusan ini. Aku ingin membuktikan kepada mereka jika aku bukan wanita yang manja dan hanya menikmati kekayaan keluargaku saja," ucap Vera dengan lirih membuat Vera mengeraskan rahangnya.
"Dengan meninggalkanku begitu?" tanya Dirga dengan dingin.
Vera menggeleng. "B-bukan begitu. Aku janji akan pulang secepatnya," ucap Vera dengan terbata.
"Ini hanya sementara Dirga. Please ngertiin aku!" ucap Vera dengan memohon.
"Aku masih berjuang agar bisa menikahimu dengan segera tetapi kamu malah meninggalkanku begitu saja," ucap Dirga dengan tajam.
"Dirga...."
"Apa di sini aku yang hanya mencintaimu?" tanya Dirga dengan dingin.
"A-aku juga mencintai Dirga," ucap Vera dengan lembut.
Dirga terkekeh sinis. "Jika aku tidak mengizinkanmu pergi?" tanya Dirga dengan sinis.
"A-aku akan tetap pergi!" ucap Vera dengan mantap.
"Baiklah terserah kamu. Aku pulang!" ucap Dirga dengan dingin. Gairahnya sudah hilang sejak pembahasan yang membuat moodnya buruk.
"Dirga jangan pulang!" rengek Vera seperti anak kecil tetapi Dirga tak bergeming. Setelah menutupi tubuh polos Vera dengan selimut Dirga langsung turun dari kasur.
"Dirga ini sudah malam aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Vera dengan mencegah tangan Dirga.
"Tidur! Maaf mengganggu waktu tidurmu!" ujar Dirga dengan dingin dan melepaskan tangan Vera dari pergelangan tangannya.
"Enggak!" ucap Vera dengan cepat. Ia mengejar Dirga sebelum lelaki itu keluar kamarnya. Ia memeluk Dirga dari belakang.
"Hikss...hikss...jangan pergi di luar hujan aku takut," ucap Vera dengan lirih.
"Kak Vera lepas!" ucap Dirga dengan dingin.
"Vera, Dirga! Vera!" ucap Vera dengan tegas. Ia tak mau Dirga mengabaikannya.
"Shittt.. Kamu memang memancing gairahku Vera! Malam ini aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Dirga dengan dingin.
Ia mendorong Vera ke kasur sehingga membuat wanita itu terjatuh di kasur. Dirga melepaskan seluruh pakaiannya membuat Vera menelan ludahnya dengan kasar melihat tubuh telanjang Dirga di hadapannya.
Dirga menyeringai ia kembali menindih tubuh Vera. "Akan aku buat kamu tak bisa lepas dariku!" ucap Dirga dengan tajam.
"Ahhhh...."
Suara ******* keduanya semakin terdengar kala keduanya berbagi kenikmatan bersama. Dirga yang masih merasa kesal memasuki Vera tanpa ampun, bergerak dengan cepat yang membuat terus mendesah dibuatnya. Ia sudah terjerat pesona berondong muda yang menggagahi tubuhnya ini. Entah mengapa Vera berharap akan segera menikah dengan Dirga dan keluarga mantan suaminya tak lagi mengganggu kehidupannya.