
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
****
Sejak menikah dengan Cut, Dio memang sudah menyiapkan rumah untuk mereka tempati. Namun, Dio tak bisa mengajak Cut dan Mashita pindah dalam waktu dekat karena waktu itu Mashita masih ingin dekat dengan ayah kandungnya dan tidak ingin membuat Cut curiga. Tetapi hari ini Cut maupun Mashita mau diajak pindah, entah apa yang membuat dua wanita berbeda generasi itu sangat antusias pindah ke rumah baru mereka setelah Dio mengajak mereka.
Bukan tak ingin Cut mengingat Ihsan tetapi Dio merasa tidak pantas untuk terus tinggal di rumah Cut dari peninggalan Ihsan. Sebagai lelaki yang bertanggungjawab Dio harus memberikan tempat tinggal ternyaman untuk istri dan ketiga anaknya. Dan nanti rumah ini akan di sewakan saja, itulah yang Cut katakan padanya.
Di sini lah sekarang di rumah baru bergaya minimalis yang terkesan modern. Cut menatap takjub saat rumah barunya terlihat sangat fresh dan juga tertata rapi.
"Suka?" tanya Dio kepada istrinya.
"Suka, Bang! Suka banget malah," ucap Cut dengan tersenyum.
Dio tampak Lega mendengar jawaban sang istri. Ia sedikit meringis ketika tangannya di gerakan sedikit, sejak kecelakaan itu Dio maupun Cut tampak terlihat sangat romantis sekali.
"Sekarang ayo kita lihat kamar Shita!" ucap Dio dengan semangat.
"Yeee... Shita punya kamar baru! Pasti cantik kan, Yah?!" ucap Mashita dengan bahagia.
"Cantik dong, Sayang. Untuk anak Ayah kamarnya harus cantik," ucap Dio dengan lembut.
"Ayah baik deh. Shita makin sayang Ayah!" ucap Mashita memeluk kaki Dio dengan erat.
"Gak sayang sama Bunda?" tanya Cut dengan cemberut.
"Sayang Bunda juga tapi lebih sayang Ayah!" ucap Mashita sengaja mengejek bundanya sendiri karena selalu merebut ayahnya.
"Huhu...Ayah punya Bunda ya!" ucap Cut tak mau kalah.
"Punya Shita titik!" ucap Mashita semakin memeluk kaki Dio dengan erat. Entahlah semenjak mereka berbaikan Cut dan Mashita seperti kucing dan tikus tetapi membuat Dio terhibur.
"Hahaha.. Stop! Kalian ini. Shita dan bunda kesayangan ayah tahu! Jangan berantem lagi," ucap Dio mengusap kepala Mashita dengan sayang.
"Shita gak akan marah kalau nanti malam Ayah tidur sama Shita!"
"Enggak! Ayah tidur sama Bunda!" ucap Cut memicingkan matanya.
"Ayahhh... Bunda nakal gak mau berbagi," rengek Mashita yang membuat Dio tertawa kembali. Sedangkan Cut tersenyum senang karena sudah membalas anaknya, padahal ia hanya bercanda saja tetapi reaksi Mashita selalu seperti ini seakan takut jika Dio akan di rebut oleh dirinya dan orang lain.
"Bang, begitu besarkah rasa sayangmu untuk Shita sampai anakku saja lebih dekat denganmu," gumam Cut di dalam hati. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
*****
Dua bulan kemudian....
Cut merasakan perutnya sakit setelah ia bercinta dengan Dio. Sejak usia kehamilan Cut yang semakin tua keduanya sering melakukan hubungan intim untuk memperlancar persalinan Cut.
Cut tampak meringis menahan rasa sakit yang terus datang bertubi-tubi pada perutnya. Dio panik, ia dengan cepat membawa Cut ke rumah sakit. Untung saja kedua orang tua Cut maupun Dio sudah menginap di rumahnya sejak dua hari yang lalu karena menjaga Cut saat dirinya sedang bekerja.
"Sssttt... Sakit, Bang!" ucap Cut meringis kesakitan memegang perutnya.
Cut mengangguk dengan pelan. Keringat dingin muncul di dahinya karena menahan sakit.
"Dio, Cut kenapa?" tanya Ika dengan khawatir.
"Cut mau melahirkan, Ma! Dio mau bawa Cut ke rumah sakit," jawab Dio dengan cemas.
"Bawa ke mobil sakarang, Dio. Mama panggil papa dulu biar kami ikut. Nanti Shita biar menyusul dengan kedua orang tua kamu," ucap Ika tak kalah paniknya melihat keadaan anaknya yang kesakitan.
"Iya, Ma!" ucap Dio dengan pelan.
"S-sakit," ucap Cut dengan meringis.
"Sabar ya, Sayang. Kita akan ke rumah sakit sekarang!"
*****
Cut masih tampak lemas setelah melahirkan kedua anaknya yang membuat Dio tak tega. Kedua anak mereka sudah dibersihkan dan sudah di adzankan oleh Dio.
Dio memegang tangan Cut dengan lembut. "Makasih, Sayang!" ucap Dio dengan mata berkaca-kaca karena sebuah rasa haru saat Cut berhasil melahirkan kedua anaknya.
Cut mengangguk dengan tersenyum. "Abang gak apa-apa kalau anak kita semua cewek?" tanya Cut dengan perlahan.
Dio tertawa. "Ya gak apa-apa, Sayang. Nantikan kita bisa bikin lagi," ucap Dio dengan jahil.
"Rasa sakitnya aja masih terasa," ucap Cut dengan cemberut.
Cup...
Dio mengecup tangan Cut dengan mesra. "Sayang, anak itu rezeki kita gak bisa menolaknya. Mau perempuan semua atau pun lelaki mereka tetap istimewa untuk kita. Kita akan merawatnya bersama-sama. InsyaAllah jika Allah menitipkan anak lelaki kepada kita namtinya," ucap Dio dengan lembut dan sangat menenangkan untuk Cut.
Cut lega mendengarnya. "Kita rawat mereka bersama-sama ya, Bang. Aku berharap setelah kelahiran kedua anak kita kamu akan tetap menyayangi Shita sebagai anak kandung kamu," ucap Cut dengan lirih.
"Shita tetap akan menjadi anak pertama kita, Sayang! Jangan takut karena rasa sayang untuk mereka sama tidak akan pernah beda!" ucap Dio dengan tulus.
Cinta tak tahu bagaimana dia bekerja membuat dua orang jatuh hati. Seperti Dio dan Cut yang dipersatukan di saat Cut sudah menjadi janda. Cinta yang dulunya terkubur karena kahadiran sosok penuh cinta di dalam hidupnya kini tumbuh subur kembali setelah seseorang itu pergi.
Keegoisan Dio ternyata membawa kebahagiaan untuk keduanya. Akhir dari sebuah penantian keduanya adalah kebahagiaan .
"Ihsan terima kasih telah mempercayakan saya untuk menjadi penggantimu di hati Cut. Walau sampai sekarang Cut tak mengingatmu tapi aku tahu di hatinya masih tersimpan rasa cinta itu. Aku akan merawatnya, membuat cintanya semakin tumbuh subur kepadaku dan juga membuat ketiga anak kita bahagia," ucap Dio di dalam hati.
"Bang Ihsan sekarang aku bahagia. Maaf aku sudah melupakanmu tapi mungkin di kemudian hari aku akan mengingatnya tapi aku janji tidak akan menjadi Cut yang lemah karena di sampingku sekarang ada sosok malaikat tampan yang akan selalu menjagaku sepenuh hati sepertimu."
...End...
Akan ada extra partnya ya! Tungguin aja.
Terima kasih pembaca setia novel married with single parent. Akhirnya cerita ini benar-benar berakhir. Part Dirga Vera juga akan ada di extra part insyaAllah.