
...Happy reading...
***
Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit kemarin. Leon tampak lebih segar dan bertenaga, pancaran kebahagiaan saat kentara terlihat di wajahnya, apalagi setelah memenangkan perdebatan Laura dan Dirga harus tinggal di apartemennya. Ratna yang awalnya sangat tegas menolak menjadi pasrah karena Leon lebih keras kepala, alhasil Ratna juga menemani anak dan cucunya agar Leon tidak bisa macam-macam sebelum pernikahannya. Bukannya tidak mungkin jika Ratna tidak menemani Laura bisa-bisa Leon melakukan hal di luar batas kembali, misal menjenguk cucu kembarnya! Itulah yang ditakutkan Ratna saat ini. Leon yang awalnya ingin protes mengurungkan niatnya karena tatapan tajam dari sang ayah. Tak masalah jika dirinya tidak bisa bermesraan dengan Laura untuk saat ini, ketika mereka menikah nanti Leon akan meminta haknya sampai mereka berdua lelah.
Saat ini keduanya berjalan beriringan mengecek gedung pernikahan mereka. Leon ingin sesuatu yang berkesan untuk istrinya, maka dari itu pernikahan mereka diadakan dengan pesta yang sangat meriah. Beribu undangan susah di sebar keseluruh kerabat, rekan kerja, sahabat, teman sekolah, termasuk para pembaca setia cerita mereka. Laura dan Leon sangat mengharapkan seluruh tamu undangan mereka datang, banyak makanan yang sudah mereka pesan termasuk souvenir pernikahan mereka seperti perhiasan, bibit tanaman bunga, tote bag yang bertuliskan nama mereka, botol minuman yang bergambar foto mereka dan masih banyak lagi souvenir pernikahan yang akan diberikan kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Tentu pernikahan keduanya merogoh kocak hingga ratusan juta rupiah. Leon tak masalah mengeluarkan uang yang sangat besar untuk pernikahan mereka yang terpenting Laura bahagia.
"Capek?" tanya Leon saat mereka habis berkeliling gedung pernikahan mereka.
"Iya Mas," jawab Laura dengan raut wajah lelah bagaimana tidak sedari tadi wanita itu asyik berjalan mengelilingi gedung pernikahan mereka yang sangat luas agar bisa menampung seluruh tamu undangan dengan keadaan sedang hamil.
"Duduk di sini dulu!" ucap Leon memberikan kursi pada Laura. Laura dengan senang hati menerimanya, ia duduk dengan perlahan. Leon menyeka keringat yang keluar dari kening calon istrinya dengan tangannya sendiri. Perlakukan sederhana Leon mampu membuat senyum Laura mengembang, apalagi ia sedang hamil, perhatian dari Leon adalah hal yang sangat membahagiakan.
"Kamu masih kuat untuk pergi? Kita akan fitting baju pengantin setelah itu pergi ke makam mama untuk meminta restu," ucap Leon dengan serius.
"Masih Mas. Aku cuma hamil bukan sakit! Makam mama? Laura tidak mengerti apa yang Mas maksud!" ucap Laura yang merasa aneh dengan Leon. Bukannya ibu dari Leon Saera wanita yang seperti adik kakak dengan Ulan.
"Saya belum cerita ya? Ayah punya dua istri, istri pertama mama Adinda, beliau sudah meninggal sejak lama dan kak Ulan itu adalah anak kandungannya dan istri kedua ayah adalah bunda Saera. Saya, Ika, dan Ica adalah anak dari ayah dan bunda. Meski begitu saya sangat menyayangi kak Ulan," ucap Leon menjelaskan dengan singkat.
"Ayah menikah dengan bunda Saera saat mama Adinda sudah meninggal, kan?" tanya Laura.
"Enggak, Sayang! Ayah menikah dengan bunda karena desakan mama. Saat itu mama sedang sakit, karena merasa kasihan dengan ayah yang tidak ada melayani maka mama menyuruh ayah menikah lagi. Nanti saja kita ceritanya ya. Kamu seperti sangat penasaran dengan cerita keluarga saya," ucap Leon yang melihat kerutan di wajah Laura saat mendengar ia bercerita.
"Apa Mas Leon akan menikah lagi kalau Laura sakit?" tanya Laura dengan lirih. Seperti tahu apa yang Laura pikirkan Leon tersenyum dan mengecup bibir Laura.
"Kamu satu-satunya, Sayang!" ucap Leon dengan lembut membuat Laura tersenyum bahagia.
"Sudah tidak capek lagi? Apa anak-anak ayah nakal di dalam?" tanya Leon mengelus perut Laura dengan lembut.
"Sudah tidak, Mas! Kami tidak nakal ayah," ucap Laura dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Leon yang gemas dengan tingkah calon istrinya mengacak rambut Laura dengan lembut, ia harus bisa menahan untuk tidak menyerang Laura begitu saja. Leon akui kehamilan Laura menambah kesan seksi di matanya.
"Ayo kita ke butik kak Ulan! Setelah itu kita ke makam mama Adinda," ucap Leon dengan lembut. Laura mengangguk dan menerima uluran tangan calon suaminya dengan senang hati bermanja dengan Leon sudah sangat ia bayangkan sejak 4 bulan lalu.
"Nanti beli martabak manis ya, Mas!" pinta Laura dengan manja.
"Kamu ngidam?" tanya Leon dengan serius.
Laura mengangguk. "Iya, aku sejak tadi membayangkan martabak manis dengan toping coklat dan keju yang banyak," ucap Laura dengan meneguk air ludahnya sendiri membayangkan betapa nikmatnya martabak manis dengan toping coklat dan kejut.
"Ya sudah nanti saya belikan sesuai permintaan kamu. Apapun yang kamu minta sebisa mungkin saya akan turuti apalagi demi anak kembar kita nanti juga mampir ke toko mainan, saya mau membelikan mainan untuk Dirga," ucap Leon dengan lembut membuat Laura bahagia, suasana hatinya sekarang sangat senang lelah yang ia rasakan tadi entah lenyap kemana.
"Termasuk cukur kumis dan jenggot ya!" ucap Laura dengan menggoda.
"Saya lupa untuk mencukurnya. Bagaimana setelah sampai di partemen kamu yang mencukurnya?" usul Leon yang diangguki semangat oleh Laura.
"Boleh, biar aku saja yang mencukurnya, biar semakin ganteng waktu menikah," ucap Laura terkekeh geli membuat Leon juga tersenyum geli.
*****
Laura menatap pantulannya di cermin, baju pengantin yang Ulan rancang sangat pas di tubuhnya, baju yang menutup seluruh tubunnya dengan hiasan payet-payet menambah kecantikan dirinya. Ulan sudah merencanakan semuanya tetapi ia harus merombak baju agar pas di tubuh Laura yang sedang hamil. Tak sia-sia ia begadang demi baju pengantin calon adik iparnya tersebut.
"Aku sangat suka, Kak! Terima kasih," ucap Laura dengan tersenyum.
"Semua ini Leon yang mempersiapkan sejak lama. Sejak dia membawa kamu ke pesta pernikahan anak saya, Leon sudah meminta saya untuk merancang baju pernikahan untuk kamu. Baju pengantin ini sudah jadi sejak lama, dan akan diberikan saat makan malam di rumah ayah waktu itu, cuma siapa yang menyangka jika kamu akan menghilang. Alhasil baju ini hanya terpajang di butik, banyak yang mau membelinya karena suka dengan rancangan yang saya buat, tapi saya membuatnya khusus untuk kamu dan saya yakin Leon tidak mengizinkan saya menjual baju ini. Tetapi dengan keadaan kamu yang hamil kembar seperti ini baju yang awal sudah jadi saya rombak agar pas di tubuh kamu dan tidak menekan perut kamu. Bagaimana apa masih merasa tidak nyaman dibagian perut?" ucap Ulan bercerita sedikit tentang Leon agar Laura tahu pengorbanan adiknya selama ini.
Mata Laura berkaca-kaca, ia tidak menyangka Leon sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. "Terima kasih, Kak. Aku tidak menyangka jika mas Leon sudah mempersiapkan semuanya sejak lama. Bajunya juga sudah sangat pas di tubuh aku, aku suka dengan baju ini, nyaman sekali," ucap Laura dengan terharu.
"Sama-sama. Sekarang temui Leon pasti dia sangat terpukau dengan calon istrinya," ucap Ulan dengan menggoda.
Laura mengangguk dengan perlahan dirinya keluar dari ruang ganti bersama dengan Ulan. Di depannya sudah ada Leon yang menunggu dengan harap-harap cemas. Mata Leon terpaku menatap Laura, dari ujung kaki sampai ujung kepala tak luput dari penglihatan Leon, mulutnya menganga dengan lebar saat ia menatap bidadari di depannya.
"Cantik," puji Leon dengan kagum. Pipi Laura tersipu merah, seperti buah tomat karena pujian Leon.
"Jangan dilihatin terus nanti bisa copot matanya!" tegur Ulan dengan menggoda adiknya. Leon yang sadar langsung tersenyum tipis dan menghampiri kakak serta calon istrinya.
"Gimana gak dilihatin terus, Kak. Ada bidadari di depan Leon," ucap Leon menggoda Laura dan lagi-lagi membuat pipi Laura merona.
"Jangan gombalin aku terus, Mas!" ucap Laura merajuk membuat Leon terkekeh.
"Baju kamu sudah pas juga Leon?" tanya Ulan.
"Sudah, Kak! Terima kasih untuk semuanya," ucap Leon dengan hangat.
"Sudah sewajarnya Kakak membantu kamu. Bajunya sudah bisa dilepas, kalau tidak ada keluhan lagi," ucap Ulan yang diangguki keduanya. Ulan kembali membantu Laura melepaskan baju pengantinnya dan sekarang mereka sudah duduk santai di ruangan Ulan.
"Kak, Leon sama Laura mau ke makam mama. Kakak mau ikut?" tanya Leon dengan hati-hati.
Senyum Ulan memudar, sudah lama ia tidak memgunjungi makan mamanya karena kesibukkannya mengurus butik setelah Jihan kembali sehat. Ada kerinduan terlihat di matanya. "Kalian berdua saja, nanti kakak dan mas Alan ke makam mama, sudah lama juga kakak tidak ke makam mama," ujar Ulan dengan lirih.
"Ya sudah. Kami pergi dulu ya, Kak. Jaga kesehatan jangan sedih," ucap Leon memeluk kakaknya. Semua itu tak luput dari penglihatan Laura, ternyata benar Leon sangat menyayangi kakaknya walau mereka berbeda ibu.
****
Leon menggelengkan kepalanya menatap Laura. Setelah mereka dari makam mama Adinda, Leon membelikan martabak manis yang Laura inginkan. Dan betapa lahabnya Laura memakan martabak pesanannya, walaupun di mobil Laura hampir menghabiskan satu kotak martabak manis.
"Mas mau? Eh mas gak usah makan deh. Sekarang Mas gak boleh makan sembarangan," ucap Laura dengan santai dengan mulutnya penuh martabak.
Leon menghentikan mobilnya di parkiran apartemen. Tanpa di sangka oleh Laura, Leon mengecup bibirnya dengan lembut, Laura mendelik saat Leon memaksa mulutnya untuk terbuka, sisa-sisa coklat dan keju masih Leon rasakan di mulut Laura saat lidah mereka saling membelit.
"Manis!" gumam Leon di telinga Laura.
"Lebih manis bibir kamu dari pada martabak manis yang kamu makan," bisik Leon di telinga Laura. Tubuh Laura masih mematung, degup jantungnya masih terdengar keras, ia tidak berani mendekat ke arah Leon karena takut pria itu akan mendengar detak jantungnya.
*****
Undangan online sudah di sebar jangan lupa datang ya🙈
Bawa kado yang banyak, kadonya cukup like, vote, komentar dan favoritkan cerita ini. Banyak pembawa berarti banyak tamu undangan yang hadir
Sampai jumpa di pesta pernikahan Leon dan Laura.