Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~13 (Perjuangan Terakhir)



...Hey-hey aku kembali lagi dengan cerita ini kembali. Ayo ramein lagi dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya agar aku semakin semangat update. Kalau rame bakal update lagi siang seperti biasa. Bacanya pelan-pelan biar gak cepat habis wkwkwk! Dan jangan lupa baca juga cerita "Cinta Sempurna Sang gadis Gendut" yang update setiap hari!...


...Happy reading...


****


Sudah 99 hari berlalu dan besok adalah hari terakhir Cut berjuang akan cintanya kepadanya Dio tetapi sudah 99 hari juga sikap Dio semakin dingin kepadanya membuat Cut merasa tidak dihargai selama ini perjuangannya untuk Dio. Bahkan Dio semakin terlihat mesra dengan Ratu walau gadis yang berstatus sahabat Dio itu selalu memanfaatkan Dio untuk kepentingannya sendiri dan besok juga penentuan bagi Cut menerima lamaran Ihsan atau tidak, mengingat Ihsan sedikit banyaknya bisa membuat Cut tersenyum di kala kegundahan yang ia rasakan sekarang.


Dengan langkah berat ia berjalan masuk ke ruangan Dio karena mereka akan menangani pasien bersama. Cut mengetuk pintu ruangan Dio sebelum masuk dan setelah mendapatkan izin dari Dio Cut masuk dengan langkah perlahan.


"Siang, Dok!" sapa Cut dengan tersenyum.


"Siang!" jawab Dio dengan datar. "Silahkan duduk!" ucap Dio dengan tegas. Cut mengangguk dan duduk di kursi berhadapan dengan Dio.


Ia menatap Dio dengan pandangan yang sulit diartikan. Dio memang tampan dan berhasil membuat Cut mencintai pria itu dari umur 7 tahun tetapi selama itu Dio sama sekali tidak berusaha mencintainya bahkan sampai Cut merendahkan harga dirinya untuk memperjuangkan cintanya. Pantaskah Cut berkorban lebih lama lagi?


"Ekhem..." Dio berdehem untuk menyadarkan Cut dari keterdiamannya menatap wajah Dio.


Cut kelagapan dan tersenyum canggung ke arah Dio. "Langsung saja. Hari ini saya mendapatkan pasien yang memiliki trauma karena kecelakaan, dan saya harap kamu bisa membantu saya untuk menangani pasien," ucap Dio dengan tegas.


"Baik Dokter! Saya akan membantu sebisa saya!" ucap Cut tak kala tegas.


"Bagus! Kamu baca data pasien dengan benar! Kita akan segera ke ruangan Mawar di mana pasien berada," ucap Dio dengan tegas dan terkesan dingin.


Dio menatap Cut. Gadis di depannya ini memang sangat cantik tetapi Dio sama sekali tidak mencintai Cut. Tetapi entah mengapa ia merasa tidak suka jika Cut berdekatan dengan lelaki lain atau sekedar mengobrol saja sudah membuat hati Dio panas. Dio benar-benar tidak sadar akan perasaannya sendiri, ia sudah dibutakan dengan nama Ratu yang selalu memanfaatkannya dan sayangnya Dio menerima begitu saja..


"Bang!" panggil Cut dengan lirih.


"Hmmm..." Dio berdehem saja untuk menjawab panggilan Cut kepadanya.


Cut menghela napas dengan berat. Ia menguatkan hatinya untuk mengatakan apa yang menganggu hati dan pikirannya. "Abang tahu gak besok hari apa?" tanya Cut dengan pelan.


"Minggu!" jawab Dio dengan singkat.


"Iya hari minggu. Maksud aku, Abang tahu besok hari apa?" tanya Cut dengan sabar.


Dio berdecak sebal menatap tajam ke arah Cut. "Ck, gak usah bertele-tele, Cut! Saya masih punya pekerjaan yang lebih penting dari pada harus meladeni pertanyaan kamu yang sama sekali tidak bermutu itu!" ucap Dio dengan dengan kesal.


Dio mematung mendengar ucapan Cut kepadanya. Ada perasaan yang tidak bisa dijabarkan oleh Dio! Ada perasaan sedih, gelisah, dan takut bercampur menjadi satu. Dio tak tahu mengapa perasaannya seperti itu yang jelas perasaan gelisah mendominasi perasaannya sekarang.


"Terus?" tanya Dio dengan datar.


Cut menatap sedih ke arah Dio. "Apakah selama 99 hari perjuangan cinta Cut tidak membuat Abang mencintai Cut walau sedikit saja?" tanya Cut dengan sendu.


"Ayo kita ke ruangan pasien!" ucap Dio tanpa jawab pertanyaan Cut membuat gadis itu merasa sedih.


"Cut butuh jawaban dari Abang!" ucap Cut dengan gemetar.


Dio menatap Cut dengan datar. "Dari awal perasaan saya tetap sama, Cut! Jadi jangan berharap lebih!" ucap Dio dengan dingin.


Deg...


Hati Cut berdenyut sakit mendengarnya. Ia terkekeh dengan lirih. Ia menjadi sangat bodoh karena cinta! "Cut tunggu di taman dekat rumah Om Leon besok. Besok adalah keputusan terakhir Abang," ucap Cut dengan tersenyum. Senyum yang menyimpan kesedihan yang sangat mendalam dan Dio dapat merasakan hal itu. Tetapi cinta tidak bisa dipaksakan bukan? Selama ini ia hanya mencintai Ratu dan perasaan itu masih bertahan sampai sekarang.


Dio tidak menjawab, ia berjalan keluar ruangan diikuti oleh Cut. "Cut harap Abanh akan datang. Besok Cut akan menunggu Abang, jam 8 malam Abang sudah harus ada di taman," ucap Cut dengan pelan.


Lagi dan lagi Dio tidak menjawab membuat Cut kembali menahan pedihnya ditolak. Dan keterdiaman mereka membuat Cut memikirkan Ihsan yang sangat baik kepadanya.


"Kerja yang profesional!" ucap Dio dengan tegas saat mereka sampai di ruangan pasien yang akan mereka berdua tangani.


"Iya, Bang!" jawab Cut dengan lirih.


"Bang!" panggil Cut sebelum mereka masuk ke dalam ruangan.


"Apa lagi sih?" tanya Dio dengan kesal bahkan nyaris membentak Cut.


"A-aku harap Abang gak lupa besok!" ucap Cut dengan tegas.


"Aish... Menyebalkan!" umpat Dio dengan kesal.


"Ya Tuhan, engkau maha membolak balikkan hati seseorang. Dan hamba harap besok Bang Dio mulai mencintai hamba karena itu adalah sesuatu yang hamba harapkan," doa Cut di dalam hatinya.


Akhirnya ia bekerja dengan perasaan gundah. Walau ia bekerja dengan benar tetapi pikiran dan hatinya tidak berada di sana. Semua ini karena Dio yang belum mencintainya.