
...Hei-hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya biar aku semangat untuk update....
...Happy reading...
****
"Kin, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Dio dengan serius.
Satu tahun menjalin hubungan dengan Kinan tak membuat Dio bisa melupakan Cut di dalam hati dan benaknya. Dio pikir setelah ia menjalin hubungan dengan wanita lain membuat Dio bisa lupakan Cut, tetapi bayang-bayang Cut semakin nyata baginya dan Dio sama sekali tidak bisa membuka hatinya untuk wanita lain termasuk Kinan kekasihnya sendiri. Sepotong hatinya hanya merindu dan mencintai Cut.
Kinan tersenyum, ia sudah tahu hubungannya dengan Dio akan berakhir seperti ini karena selama ini hubungannya hanya berjalan di tempat saja. Menjadi kekasih Dio hanyalah sebuah status saja karena Dio tidak pernah mencintainya, mereka menjalin hubungan karena Dio ingin melupakan Cut tetapi sampai sekarang Dio tidak bisa melupakan wanita itu.
"Tidak masalah Dio, kita bisa berteman saja. Karena aku tahu hubungan ini tidak bisa dilanjutkan," ucap Kinan yang membuat Dio lega.
"Terima kasih, Kin. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita," ucap Dio dengan jujur.
"Aku mengerti Dio. Tetapi cobalah melupakan Cut karena dia sudah menjadi istri orang lain," ucap Kinan dengan bijak.
Dio menghela napasnya dengan kasar. "Ya aku tahu itu. Mungkin ini adalah karma yang aku dapatkan setelah terus menerus menolak Cut dulu dan sekarang aku yang merasakan apa yang Cut rasakan sejak dulu, pedihnya aku tidak lagi bisa menggapai Cut walaupun hanya sekedar mengucapkan kata penyesalan untuknya," ucap Dio dengan pedih. Sesak itulah yang Dio rasakan setiap mengingat Cut.
"Jangan berlarut-larut dalam sebuah penyesalan, Dio. Baiklah aku akan kembali ke ruanganku karena sebentar lagi aku akan melakukan operasi pada pasienku," ucap Kinan menepuk pundak.
"Selamat berteman!" ucap Kinan sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Dio sendirian di taman rumah sakit.
Dio tersenyum sinis. Matanya terpejam saat beberapa hari yang lalu ia melihat Cut dirawat di rumah sakit ini, sebenarnya Dio ingin mendekat tetapi ia tidak punya keberanian hanya untuk menyapa keluarga Cut yang sebenarnya masih keluarganya sendiri. Saat itu Dio sangat panik melihat Cut tidak sadarkan diri, ia ingin memeriksa Cut tetapi Dio tidak punya kuasa apapun. Dan yang paling menyedihkan lagi untuknya yaitu saat Dio mendapat kabar dari dokter yang menangani Cut, jika Cut sedang hamil anak Ihsan.
"Jika aku mempunyai kehidupan kedua maka aku ingin kamu menjadi istriku, Cut. Katakan aku egois selalu berdoa jika kamu adalah jodohku nantinya tetapi itu adalah keinginanku yang paling besar. Jika itu terjadi maka aku akan memperlakukanmu seperti ratu yang bertahta di hatiku," gumam Dio dengan lirih.
Dio meletakkan tangannya di dada kiri miliknya. "Bahkan detaknya masih sama setiap aku memikirkanmu," gumam Dio dengan tersenyum.
"Kamu masih sangat terlihat sangat cantik walau wajahmu pucat," ujar Dio dengan lirih. "Saat itu aku ingin mendekat dan menanyakan keadaanmu tetapi aku sama sekali tidak mampu, Cut. Aku memang pengecut tetapi aku melakukan ini supaya aku bisa melupakanmu tetapi tetap saja namamu yang bertahta di hatiku dari dulu sampai sekarang. Lalu aku harus bagaimana sekarang?"
***
"Aku haus, Bang. Mau minum," ucap Cut dengan pelan.
"Biar Abang saja yang ambil minumnya, kamu ke kamar saja, Sayang. Gak boleh capek-capek," ucap Ihsan dengan tegas.
"Ya ampun, Bang. Aku gak capek kalau cuma ambil minum di dapur," ucap Cut dengan geli melihat sikap siaga suaminya jika menyangkut tentang dirinya.
"Biar Abang saja yang ambil minumnya, Sayang!" ulang Ihsan dengan tegas.
"Ya sudah. Sekalian sama anggur ya, Bang. Sepertinya enak dan segar makan buah Anggur sekarang," ucap Cut mengalah.
"Iya, Sayang. Ada lagi?" tanya Ihsan dengan bahagia karena bisa menuruti kemauan istrinya yang sedang mengidam.
"Itu saja, Bang," jawab Cut dengan lembut.
"Baiklah. Sebentar ya anak Ayah. Ayah matikan laptop dulu baru mengambil apa yang kamu mau," ucap Ihsan mengelus perut Cut dengan lembut.
"Iya Ayah," jawab Cut dengan menirukan suara anak kecil yang membuat Ihsan tertawa.
Cup.
"I love you!"
"I love you too!"
"Ayah ke dapur dulu. Tunggu di kamar ya," ucap Ihsan dengan lembut.
"Iya Ayah!"