
...Happy reading...
****
Saat ini Leon sedang berada di kantor Elang. Ia menatap tajam keponakannya yang tampak menunduk takut karena dirinya.
"Sejak kapan?" tanya Leon dengan tajam, ia sudah sangat pusing dengan permasalahan keponakannya yang menurutnya sangat membuat semua keluarga kecewa. Bagaimana bisa seorang Elang yang terlihat sangat dingin bisa mencintai lelaki? Otak keponakannya itu benar-benar sudah menghilang padahal perempuan lebih nikmat daripada sesama pedang. Leon tak habis pikir akan hal itu yang terjadi pada keponakannya.
"Sudah lama Om," jawab Elang dengan lirih. Walaupun Elang terkenal dingin tetapi jika berurusan dengan Leon orang yang lebih dingin dan kaku seperti kanebo kering Elang akan merasa ciut.
Leon mengusap wajahnya dengan kasar. "Bersiaplah dengan pernikahan kamu. Walau kamu tidak mencintai Mentari," ucap Leon dengan dingin. Elang mengangguk dengan pasrah, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan keluarganya untuk menikah dengan Mentari, pembantu di rumah orang tuanya sendiri.
"Renungkan semua. Dan minggu depan adalah pernikahan kalian, Om harus kembali ke restoran," ucap Leon dengan datar. "Sekali lagi kamu membuat kakak om kecewa. Om tidak akan tinggal diam, Elang!" ucap Leon penuh peringatan.
"Elang janji Om!" ucap Elang dengan tegas walau ada sedikit keraguan di hatinya tentang pernikahan dirinya dan Mentari yang dilangsungkan dengan sangat cepat karena semua keluarga sudah sangat kecewa dengan kelakuannya.
Leon melangkah keluar dari ruangan Elang dengan sangat tegas. Wajah dinginnya membuat para wanita menatap dirinya dengan sangat kagum, tetapi hanya satu wanita yang membuatnya jatuh cinta siapa lagi jika bukan Laura dan sebentar lagi ia akan membawa Laura kepada keluarganya dan memperkenalkan Laura sebagai calon istrinya tanpa sepengtahuan Laura.
Leon memasuki mobilnya dan ia dikejutkan dengan Jihan yang sudah berada di dalam mobilnya. "Astaga Jihan kamu mengagetkan Om saja," ucap Leon dengan mengelus dadanya. Jihan hanya tersenyum samar menatap ke arah Leon yang terlihat kesal karena ulahnya.
Leon mengacak rambut Jihan dengan gemas walau Jihan tak manja seperti dulu bahkan gadis itu terlihat sangat cuek dengan pakaian tomboinya yang sangat berbeda dengan Jihan yang dulu. "Om mau ke restoran, kamu ikut atau mau pulang?" tanya Leon.
"Ke restoran sudah lama Jihan gak ke sana, Om. Jihan rindu masakan restoran, Om. Tapi temani Jihan ya. Jihan gak suka keramaian," ucap Jihan yang masih sedikit takut dengan lelaki akibat pelecehan yang terjadi pada dirinya.
Leon mengangguk dengan tegas. Leon menjalankan mobilnya dengan cepat, mereka saling terdiam hingga tak beberapa lama mobil Leon sudah berhenti di parkiran restoran miliknya. Jihan turun dengan tenang walau keringat dingin muncul di dahinya tetapi ia berhasil menekan traumanya selama dua tahun ini bahkan ia menjadi pelatih taekwondo agar dirinya bisa melindungi diri dari orang-orang yang akan berbuat jahat dengan dirinya.
Di dalam sana tanpa di sadari oleh Leon, Laura menatap Leon dan Laura dengan tajam hatinya memanas karena Leon tak hanya berlaku lembut pada dirinya tetapi wanita cantik yang bersama dengan Leon memasuki restoran. Matanya sudah berkaca-kaca karena selama ini ia terbuai dengan rayuan Leon bahkan sampai menyerahkan tubuhnya untuk Leon. Bukankah Laura adalah wanita murahan? Laura tertawa sumbang, menertawakan dirinya sendiri yang bisa begitu bodohnya menerima Leon dalam kehidupannya dan Laura membenci fakta itu! Melihat Leon memperlalukan gadis itu dengan lembut semakin membuat hatinya memanas.
"Semua lelaki sama saja!" umpat Laura dalam hatinya.
****
Laura cemburu nih!
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa like, vote dan komentar sebanyak-banyaknya ya!