
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
...****...
Mashita menatap bundanya dengan sendu, ia ingin digendong oleh sang bunda tetapi keadaan Cut tidak memungkinkan untuk itu. Untung saja Mashita mengerti dengan keadaan Cut saat ini, walaupun rewel Mashita tidak membuat kerepotan nenek dan kakeknya.
Saat ini Cut hanya diam dengan pandangan kosongnya, setelah ia memeluk Dio dan mengira Dio adalah Ihsan keadaan Cut kembali memburuk.
Dio dan dokter yang lainnya memeriksa keadaan Cut dengan serius. "Jahitan di kepalanya masih basah, saya mewanti-wanti anda agar tidak ada benduran di kepala Meisya karena sangat fatal jika itu terjadi," ujar Dokter yang menangani operasi Cut.
"Saya mengerti, Dok. Kesehatan Meisya saat ini menurun karena depresi yang ia alami, saya takut nanti ketika Meisya tidak dalam pengawasan saya dia bisa melakukan apa saja yang membahayakan dirinya," ujar Dio dengan lirih.
"Sebaiknya anda terus memantau kesehatannya dan perkembangan kejiwaannya. Apa tidak lebih baik Meisya di rawat di rumah sakit jiwa setelah jahitan di kepalanya pulih?"
Dio menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Saya masih bisa menjaganya. Saya tidak tega membawa Meisya ke sana walau pun saya bekerja di sana," ujar Dio dengan tegas.
"Baiklah terserah dokter saja. Saya hanya bisa menyarankan," ujar dokter tersebut dengan tersenyum.
Dokter yang menangani Cut paham bagaimana kisah keduanya bermula hingga Dio kehilangan Cut dan mungkin dengan cara merawat Cut, Dio bisa lebih dekat dengan orang yang dicintainya.
"Saya permisi dulu. Masih ada jadwal yang lain yang harus saya datangi," pamit dokter bernama Rio tersebut.
"Iya silahkan, Dok. Sekali lagi terima kasih," ujar Dio dengan ramah.
"Sama-sama!"
Setelah kepergian dokter Rio, Dio menatap Cut dengan sendu. "Cut, aku mohon kamu jangan seperti ini kasihan Mashita di luar, dia ingin kamu menggendongnya seperti dulu," ucap Dio dengan lembut tetapi sama sekali tidak ada respon dari Cut.
Dengan memberanikan diri Dio memegang tangan Cut dan menggenggamnya dengan erat, kali ini Cut merespon dengan menatap Dio.
"Bang Ihsan!" gumam Cut dengan pelan nyaris tak terdengar.
Air mata Cut jatuh dengan mudahnya. "Kamu bukan bang Ihsan! Dimana suamiku! BANG IHSAN? TOLONG KEMBALIKAN SUAMIKU, AKU MOHON!" ucap Cut dengan histeris.
Sultan, Ika, Mashita dan yang lainnya menatap Cut dari balik jendela dengan panik. "Pa, Cut kenapa?" tanya Ika dengan panik.
"Kakek, Bunda kenapa teriak seperti itu? Mashita takut!" ujar Mashita memeluk Sultan dengan erat.
"Kita berdoa saja agar Dio bisa menenangkan Cut! Bunda kamu baik-baik saja, Sayang!" ujar Sultan dengan lirih.
Adik-adik Cut menatap Cut dengan sendu. Kakak yang selalu ceria kini sedang terluka fisik dan hatinya yang membuat wanita itu jadi seperti ini. Begitu pun Saera, ia merasa tidak tega dengan Cut bahkan kesehatan Saera menurun karena memikirkan keadaan Cut yang masih saja terus berkabung dalam kesedihan kehilangan Ihsan.
Dio masih berusaha menenangkan Cut agar wanita itu tidak melukai dirinya sendiri. "Hiks...hiks...kembalikan suamiku! Aku mohon jangan ambil suamiku!" ucap Cut dengan histeris.
"Baik, Dok!" ujar Suster tersebut dengan tanggap.
"Dengarkan Abang!" ucap Dio dengan tegas menatap manik mata Cut yang masih terlihat begitu terluka.
Setelah obat penenang itu bekerja, perlahan Cut mulai tidak memberontak, ia menatap Dio dengan air mata yang terus mengalir. "Tolong kembalikan suamiku!" ujar Cut dengan lirih.
"Kamu mencintai suamimu?" tanya Dio dengan pelan.
Cut merespon dengan anggukan. "Jangan ambil suamiku. Aku mohon!"
Dio menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang mengambil Ihsan darimu. Dia tetap hidup di hati kamu!" ujar Dio dengan tegas walau mengatakan itu Dio menahan mati-matian untuk tidak merasakan sakit pada hatinya tetapi sekuat apa dirinya menahan semuanya Dio tetap merasakan hatinya berdenyut sakit karena mengetahui fakta jika Cut sangat mencintai Ihsan. Kemana perginya cinta yang dulu untuknya? Apakah sudah tidak ada yang tersisa walau hanya sebesar butiran debu saja? Gumam Dio di dalam hatinya dengan pedih.
"Jangan seperti ini lagi, Cut! Abang sakit melihat kamu seperti ini," gumam Dio dengan tulus.
"Aku ingin menyusul bang Ihsan. Kenapa dia tidak membawaku pergi bersamanya dan kedua anak kami. Hiks...hiks... Aku mohon kembalikan suamiku!" ujar Cut dengan lirih.
Perlahan tubuh Cut mulai merasa lemah hingga Cut kembali memejamkan matanya. Dio membenarkan letak kepala Cut di bantal agar wanita itu merasa nyaman. "Kita tidak bisa memaksanya untuk melupakan segala kesakitannya," ujar Dio dengan pelan.
*****
Saat ini Dio dan Sultan sedang berada di ruangan Dio. Keduanya terlibat omongan yang sangat serius.
"Keadaan Cut tidak bisa dibiarkan begini terus, Om. Kita harus mengambil tindakan agar Cut tidak larut dalam kesedihannya," ucap Dio dengan serius.
"Caranya?"
Dio menghela napasnya dengan kasar. "Jika Om mengizinkan. Saya akan membuat Cut perlahan melupakan kenangannya bersama dengan Ihsan dan menghapus semua kesedihannya," ujar Dio dengan pelan.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Sultan memastikan.
"Ini cara yang cepat untuk membuat Cut kembali seperti dulu, Om. Itu pun jika om mengizinkan jika tidak saya akan merawat Cut semampu saya. Yang saya takutkan depresi Cut semakin parah dan dengan berat hati saya harus merawat Cut di rumah sakit jiwa," ucap Dio dengan pelan.
"Jika Cut melupakan segala kenangannya bersama dengan Ihsan lalu bagaimana dengan Mashita? Pasti Cut akan bertanya siapa Mashita?" tanya Sultan dengan frustasi.
Dio kembali menegakkan tubuhnya, pembicaraan kali ini sangat serius hingga dirinya pun menjadi pusing. "Mohon maaf sebelumnya Om. Bukan saya mengambil keuntungan dari musibah ini. Saya berniat tulus ingin membuat Cut sembuh, jika Om kembali mengizinkan anggap saja Mashita anak Dio dengan Cut," ucap Dio dengan pelan.
"Kamu gila Dio!" ucap Sultan dengan sarkas dan menarik kemeja dokter Dio dengan kencang.
"Saya tidak memaksa, Om! Saya lakukan ini tulus ingin membantu Cut sembuh. Jika saran atau ide gila saya ini tidak Om terima saya tidak apa-apa, saya akan mengusahakan kesembuhan Cut walau sangat sulit karena tingkat depresi Cut ini setiap hari semakin meningkat! Yang saya takutkan Cut akan melukai dirinya sendiri karena ingin menyusul Ihsan. Om bisa memikirkan saran saya terlebih dahulu," ujar Dio.
Sultan mengusap wajahnya dengan kasar. "Saya tidak bisa menjawabnya sekarang! Pembicaraan kita sudah selesai, kan? Kalau begitu saya permisi!" Sultan sangat pusing sekarang dihadapkan oleh dua lilihan yang sangat sulit demi kesembuhan anak pertamanya itu.
Dio mengangguk dengan pelan lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. "Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi. Cut percayalah semua yang aku lakukan ini demi kesembuhanmu dan tidak ada sedikit pun aku memanfaatkan keadaan ini walau sebenarnya aku bisa saja melakukannya!"