
...Happy reading...
****
Pikiran Dirga blank saat ini ketika papa dari Vera memeluknya dengan kencang saat ia baru saja datang ke rumah sakit di mana Vera dirawat di Yogya.
Tak tahukah mereka jika dirinya tampak sangat khawatir dengan keadaan Vera tetapi mengapa wajah semua keluarga Vera tampak bahagia?
"Terima kasih, Dirga!" ucap Dewa dengan mata berkaca-kaca yang semakin membuat Dirga bingung.
"Terima kasih? Maksudnya bagaimana ini, Pa? Saya ke Yogya untuk melihat keadaan Vera yang dirawat di sini," ucap Dirga dengan bingung.
Fadly mendekat ke arah Dirga dan papanya. "Saat Vera pingsan ia mengigau nama kamu. Saya yakin kalian memiliki hubungan khusus dan bahkan kalian sudah melakukan itu. Kalau tidak mana mungkin Vera bisa hamil secepat ini. Saya tidak menyangka kamu sangat tokcer sekali," ucap Fadly dengan bahagia.
"H-hamil?" tanya Dirga dengan terkejut. setelah itu ia tersenyum tipis karena apa yang selama ini ia katakan menjadi kenyataan jika Vera akan hamil anaknya.
Keluarga aneh! Itulah yang Dirga pikirkan sekarang karena semua keluarga Vera tampak bahagia dengan kehamilan Vera. Seharusnya papa dan kakak-kakak Vera menghajarnya tetapi sekarang malam memeluknya dan berterima kasih kepadanya. Hanya Virgo yang tampak masih bingung dengan semua yang terjadi.
"Kalau begitu bukan Vera yang mandul tetapi Anton brengs*k itu yang mandul!" ucap Fadly dengan menggebu.
"Lihatlah Om, sahabat Virgo memang sangat tokcer sekali. Masih muda tapi langsung bisa memberikan cucu pada nenek dan kakek. Tidak seperti Om anton. Badannya saja kekar tapi cairannya tidak bisa jadi kecebong," ucap Virgo dengan bangga kepada sahabatnya.
Semua keluarganya membenarkan perkataan Virgo. Berondong muda seusia Virgo mampu menghamili janda yang dianggap mandul sampai diceraikan oleh suaminya.
"Saya ingin bertemu Vera," ucap Dirga yang langsung diangguki oleh keluarga Vera bahkan Fadly, kakak sulung Vera membukakan ruang rawat inap Vera agar Dirga leluasa masuk.
"Vera!" panggil Dirga dengan perlahan.
Vera yang sedang beristirahat ditemani oleh sang mama langsung terbangun. Ia turun dari brankar dan langsung berhambur kepelukan Dirga. Untung saja Dirga sigap menopang tubuh Vera kalau tidak mereka akan jatuh ke lantai.
"Hiks..hiks..jahat-jahat!" ucap Vera dengan terisak dan memukul dada bidang Dirga dengan bertubi-tubi.
Dirga membiarkan Vera memukulinya setelah puas memukul Dirga, Vera kembali memeluk Dirga dengan erat. "Hiks...aku bisa hamil," ucap Vera dengan lirih menyampaikan kebahagiaan kepada ayah dari janin yang ia kandung saat ini.
"Aku bilang apa. Kamu bisa hamil, kan!" ucap Dirga dengan tegas. Vera langsung mengangguk dengan semangat, ia menghapus air matanya dengan cepat.
"Aku tidak mandul?!" ucap Vera dengan mata sembabnya.
"Mantan suamimu yang mandul mungkin," jawab Dirga dengan enteng.
Semua orang tampak bahagia ketika Vera sangat manja kepada Dirga. Padahal usia keduanya terpaut lumayan jauh dan Vera lebih dewasa dari segi umur dari pada Dirga tetapi sikap Dirga mampu menyesuaikan sifat manja Vera kepadanya.
"Kak Fadly jangan dekat-dekat aku. Kakak bau busuk tahu!" ucap Vera dengan ketus saat Fadly ingin mendekat ke arahnya.
"Dek, Dirga juga pakai parfum. Kamu kenapa gak mual dekat dia?" ucap Fadly tak terima.
"Wangi Dirga enak kalau Kak Fadly bau busuk!" ucap Vera yang membuat semuanya tertawa tetapi tidak dengan Fadly yang berwajah masam.
****
Sejak kedatangan Dirga. Vera tak melepaskan pelukannya pada lelaki yang amat sangat ia rindukan itu. Sedangkan semua keluarga Vera sudah pulang ke rumah Fadly untuk beristirahat dan membiarkan Dirga yang menjaga Vera.
"Kenapa gak menghubungi aku sama sekali? Jahat!" ucap Vera dengan manja saat Dirga mengelus rambutnya.
"Aku pikir kamu gak peduli denganku!" jawab Dirga yang membuat mata Vera berkaca-kaca.
"A-aku..."
"Ssstt..jangan nangis," ucap Dirga mengecup kedua mata Vera bergantian.
"Ahhh..." Vera menggigit jarinya saat Dirga memainkan lidahnya di rawa lembabnya. Vera blingsatan saat lidah basah Dirga semakin aktif di bawah sana.
"D-dirga...." Vera tak bisa berkata-kata tubuhnya panas dingin karena sangat mendamba sentuhan Dirga.
"Awww..." pekik Vera saat tangan Dirga merem*s dadanya dengan gemas.
"Ini semakin berisi. Aku suka!" ucap Dirga dengan terkekeh.
"Uhhh..puasin bermain di situ nanti anak kita yang menguasai benda ini," ucap Vera dengan menahan suara desahannya saat put*ngnya di mainkan oleh Dirga.
Vera menjabak rambut Dirga saat Dirga melahap salah satu bukit kembarnya dengan rakus. Dada Vera membusung ke depan yang semakin membuat Dirga menguasai benda favoritnya.
Dapat Vera rasakan milik Dirga yang sudah sangat mengeras. Entah inisiatif dari mana Vera membantu melepaskan celana Dirga hingga milik Dirga yang panjang serta berotot itu terpampang jelas di wajahnya.
Vera menelan ludahnya dengan kasar. "Kenapa muka kamu masih memerah saat melihatnya hmmm? Rindu dengan hentakkannya?" tanya Dirga dengan frontal.
"D-dirga...." ucap Vera dengan malu bahkan wajahnya memanas sekarang.
"Buka paha kamu!" ucap Dirga dengan lembut.
Vera menurut, ia membuka pahanya dengan lebar hingga miliknya yang berwarna pink di dalam sana terlihat jelas oleh mata Dirga. "Sepertinya dia sudah sangat siap aku masuki hmmm," ucap Dirga dengan terkekeh saat melihat milik Vera yang sudah sangat becek.
Vera mengangguk dengan pasrah karena memang itulah yang sangat ia inginkan sekarang. Ia menggigit bibirnya saat Dirga mulai menindih tubuhnya kembali.
Jleb...
"Ahhhh..."
Lega. Itulah yang Dirga dan Vera rasakan saat keduanya sudah menyatu dengan sempurna. "Ini pertama kalinya kita bercinta sesudah penerusku hadir di rahim kamu. Apa dia baik-baik saja saat aku kunjungi?" tanya Dirga dengan khawatir.
"Bahkan dia sangat menginginkan ayahnya menjenguknya," ucap Vera dengan lirih.
"Hahaha...baiklah tak masalah aku menjenguknya di ranjang yang sempit ini. Sepertinya bundanya yang tidak sabaran ingin aku bergerak hmm!" ucap Dirga mengelus bibir Vera dengan sensual.
"Sangat! Ayo Dirga please!" ucap Vera dengan sayu.
"Jangan panggil aku Dirga, Sayang!" ucap Dirga tak terima.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Vera dengan bingung.
"Aku tahu usiaku lebih muda darimu. Tapi bisakah kamu memanggilku Mas? Sebentar lagi kita akan menikah tak pantas rasanya istriku memanggilku hanya dengan sebutan nama saja," ucap Dirga.
Vera terdiam. Lalu setelah itu ia tersenyum menyentuh rahang tegas Dirga dengan pelan. "Baiklah Mas Dirga. Apakah Mas bisa bergerak sekarang? Aku sangat menginginkannya!" ucap Vera dengan mata yang sangat sayu.
Dirga tersenyum. Ia mengabulkan permintaan kekasihnya untuk bergerak dan menghujami Vera dengan juniornya hingga Vera benar-benar sangat lemas sekarang. Durasi permainan mereka lebih lama dari biasanya karena Vera juga ikut andil dalam permainan panas tersebut.
Sekali hentakkan yang cukup keras dari Dirga menyemburkan cairan yang kembali menghangatkan rahim Vera. Setelah itu Dirga membantu Vera membersihkan area sensitifnya agar tidak ada orang yang curiga dengan olahraga panas mereka yang meninggalkan jejak cairan Dirga yang membasahi seprai. Vera sama sekali sudah tidak berdaya bahkan ia diam saja saat Dirga kembali memakaikan pakaiannya.
"Kenapa sih kamu selalu membuatku lemas?" tanya Vera dengan napas yang terengah-engah.
"Karena aku sangat perkasa dan semua keluargamu mengakui itu!" ucap Dirga dengan sombong.
"Dasar berondong!" ucap Vera dengan kembali masuk ke dalam pelukan Dirga.
"Berondong asal membuat kamu puas tidak masalah," ucap Dirga dengan mengelus punggung Vera.
Tak ada lagi jawaban dari Vera. Dirga sedikit melihat ke arah Vera. "Astaga sudah tidur! Begitu lelah kah setelah bercinta denganku?"