Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~19 (Kegalauan Laura)



...Happy reading...


***


Laura benar-benar merasa gelisah sejak tadi. Sejak ia tahu jika Leon ternyata adalah sang pemilik restoran tempatnya bekerja. Apa Leon sengaja menerima dirinya kerja hanya untuk membuat Laura tahu jika Leon dengan sangat mudah mendapatkan penggantinya? Jika Iya begitu, Laura tidak akan mau bekerja di restoran milik Leon. Mengapa terlambat sekali Laura mengetahui semuanya?


Laura membaringkan tubuhnya di sebelah Dirga. Rasa bahagia yang ia rasakan tadi menghilang entah kemana hanya karena Leon dan perempuan yang sedang bersama Leon di restoran tadi. Apa Leon akan segera menikah dengan perempuan cantik itu? Laura mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia menarik nafas dengan dalam-dalam mencoba menghilangkan Leon dari pikiran sejak tadi.


Dering ponsel Laura mengagetkan wanita itu untung saja Dirga tidak terbangun karena suara dari ponselnya tersebut. Nama 'mama' tertera di layar ponselnya membuat Laura menatap dengan sendu dan dengan ragu-ragu mengangkat telepon mamanya.


"Assalamualaikum Ma," salam Laura dengan menahan laju air matanya.


"Wa'alaikumussalam Sayang. Kamu apa kabar, Nak?" tanya Ratna dengan lirih kepada Laura karena merindukan anaknya tersebut yang sudah lama tidak mengunjunginya.


"Laura baik, Ma. Mama bagaimana sehat, kan? Papa juga sehat, kan Ma?" tanya Laura kepada sang mama. Laura ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya tetapi ia tidak mau kedua orang tuanya tahu masalah hidupnya, Laura tidak ingin menjadi beban mama dan papanya.


"Alhamdulillah sehat Sayang. Mama kemarin bertemu Zico dan kamu di salah satu hotel. Mama memanggil kamu dan Zico tetapi kalian tidak mendengarnya padahal Mama sudah sangat merindukan kalian berdua apalagi Dirga," ujar Ratna dengan sendu.


"M-mama bertemu Mas Zico dan Laura di mana?" tanya Laura dengan tercekat. Karena sudah pasti yang bersama dengan Zico bukanlah dirinya tetapi wanita sewaan Zico.


"Paradise Hotel, Sayang. Mama menemani papa bertemu dengan kliennya. Jika Mama tahu kamu juga ada di sana, pasti kita sudah berkumpul bersama," jawab Ratna dengan sendu.


Air mata Laura mengalir begitu saja walau dirinya dan Zico sudah bercerai tetapi entah mengapa di saat Zico bersama dengan wanita lain hatinya masih merasakan sakit yang teramat dalam. Laura menghapus air matanya dengan kasar, lalu mencoba tersenyum karena masih mengingat jika dirinya masih bertelepon dengan sang mama.


"Sabar ya Ma. Suatu saat pasti kita akan berkumpul kembali, sekarang Laura belum bisa bertemu dengan mama dan papa karena pekerjaan Mas Zico yang sangat padat, mas Zico melarang aku dan Dirga untuk pergi sendiri karena dia takut terjadi sesuatu dengan anak dan istrinya. Maafkan Laura ya, Ma?!" ucap Laura berbohong.


"Iya Mama mengerti Sayang," ucap Ratna berusaha menenangkan hatinya dan juga sang anak yang saling merindukan satu sama lain.


"Papa mana Ma?" tanya Laura.


"Ada Sayang. Papa juga mau berbicara sama kamu, ini Mama berikan ponsel Mama sama papa ya," ucap Ratna yang diangguki oleh Laura walau sang mama sudah pasti tidak mengetahui anggukan kepalanya.


"Halo Sayang. Ini Papa, Laura," ucap Papa Laura dengan lembut bernama Hendra.


"Halo Pa. Laura kangen Papa," ucap Laura dengan suara gemetar menahan tangis.


"Laura sangat baik Pa. Papa tidak perlu khawatir karena mas Zico memperlakukan aku dengan baik di sini. Yang terpenting pala dan mana jaga kesehatan di sana ya!"


"Iya Sayang. Bagaimana dengan Dirga?" tanya Hendra dengan antusias.


"Dirga semakin lucu dan semakin berisi Pa. Nanti akan Laura kirimkan video Dirga," ucap Laura dengan melirik ke arah anaknya yang terlelap.


"Papa tunggu. Dan Papa juga menantikan kehadiran kalian di rumah. Sekarang istirahatlah, Nak. Papa tutup teleponnya ya!"


"Ia Pa. Papa dan mama juga harus istirahat."


"Itu pasti Sayang. Ya sudah, assalamualaikum, Nak," ucap Hendra dengan lembut.


"Wa'alaikumussalam Pa."


Laura meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kemudian memeluk Dirga dan ikut terlelap di samping anaknya. Ia tidak mau mengingat Leon kembali, dirinya harus bisa melupakan Leon. Tidak mungkin seorang Laura galau karena Leon, lelaki pemaksa yang sangat kaku.


Tanpa Laura sadari sejak tadi, Leon sudah ada di dalam rumahnya. Lelaki itu sangat pandai membuat Laura tidak curiga. Dirasa Laura sudah sangat nyenyak tertidur Leon mendekat ke arah keduanya.


Cup...


Leon mencuri ciuman di bibir Laura, setelahnya ia ikut berbaring di samping Laura. Dirinya juga merindukan Dirga, memeluk Laura adalah obat kerinduannya tanpa sadar juga Laura berbalik menghadap ke arah Leon, wanita itu memeluk Leon dengan erat, Laura seperti bermimpi terlihat ada senyuman tipis di wajah wanita itu saat memeluk Leon. Posisi yang seperti ini membuat Leon tersiksa karena dirinya sangat dekat bahkan menempel dengan Laura.


"Kamu menyiksa adik kecilku, Sayang," ucap Leon dengan serak. Setelah itu tangannya tak tinggal diam menyentuh tubuh Laura yang bisa ia sentuh dengan mudah untuk menghilangkan gairahnya.


****


Om Leon mencuri kesempatan dalam kesempitan nih!


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya serta favoritkan cerita ini ya!


Selamat hari raya idul adha ya! salam sayang dari author