Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~23 (Liburan Sebelum Menikah)



...Selamat membaca part terakhir di hari ini ya. Jangan pada baper sama calon manten wkwk. Kurang rame part tadi ah, ramein part terakhir di hari ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak biar aku juga semangat nulisnya....


...Happy reading...


****


Pagi ini dengan cerianya Cut, Ihsan dan keluarganya yang lain menikmati suasana cerah di Banda Aceh. Ihsan benar-benar memboyong calon istri dan calon keluarganya berlibur ke Aceh sebelum pernikahan ia dan Cut akan dilaksanakan Di Medan.


Saat ini mereka semua ada di masjid Raya Baiturrahman. Tak menyangka jika mereka akan sampai ke tempat ini. Tempat yang sangat indah dan banyak sekali pengunjung memasuki masjid ini.


"Sepertinya kamu sangat senang sekali, Nak?" tanya Ika dengan tersenyum.


"Senang banget, Ma. Karena bang Ihsan selalu menuruti kemauanku, aku merasa disanjung sekali sebagai wanita," ucap Cut dengan tulus.


Ika terkekeh. "Ihsan adalah pria yang tepat untuk kamu, Nak. Dia bisa memanjakan kamu sesuai dengan apa yang kamu mau," ucap Ika dengan lembut.


"Iya, Nenek sangat setuju dengan Ihsan. Ternyata Nenek salah memandang Dio, dia bukan lelaki yang cocok untuk kamu. Lupakan dia, Nak. Mulailah hidup baru dengan bahagia bersama Ihsan dan berikan cicit yang banyak untuk Nenek karena nenek sudah tua," ucap Saera menimpali.


"Iya betul, Bun. Tante juga sudah tua karena umur tante dan bunda cuma beda setahun. Cepat berikan kami cucu yang lucu. Tante penasaran bagaimana wajah anak kamu nantinya, pasti sangat tampan dan cantik. Iya kan, Bun?" ucap Ulan yang semakin membuat Cut merasa malu.


"Ais... Bunda dan Kak Ulan sudah sangat tidak sabar ingin mendapatkan cicit dari Cut tapi aku merasa cepat sekali Cut dewasa. Rasanya aku baru bertemu dengan anak kecil yang menangis karena enggan mandi dan langsung memelukku minta pertolongan saat papanya memaksanya untuk mandi," ucap Ika membayangkan awal pertemuannya dengan Cut dan Sultan dulu.


"Mama jangan ingat itu lagi, sekarang Cut setiap hari mandi," rajuk Cut membuat ketiganya terkekeh.


"Iya yang mau jadi pengantin setiap hari mandi," ejek Ika membuat Cut semakin mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ada apa ini? Kenapa mulut kamu maju seperti itu, Dek?" tanya Ihsan yang baru saja kembali bergabung karena dirinya, Sultan dan Alan baru saja kembali dari toilet yang berada di bawah tanah.


"Mama mengejek aku, Bang! Katanya aku jarang mandi," adu Cut kepada calon suaminya.


"Ya emang kamu jarang mandi, Nak. Ingat gak kamu Papa ngejar kamu hanya untuk menyuruh kamu mandi untung ada mama waktu itu, kalau tidak bisa-bisa Papa pusing," ucap Sultan dengan terkekeh.


"Tuh kan diingatkan lagi!" rajuk Cut.


"Beneran Pa, calon istri Ihsan jarang mandi? Tapi kok tetap cantik ya, Pa?" tanya Ihsan dengan tersenyum.


Cut menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa tubuhnya memanas karena ucapan Ihsan. Cut yakin kedua pipinya saat ini memanas seperti kepiting rebus.


"Baru juga dipuji gitu langsung merah kedua pipinya," ejek Alan dengan terkekeh.


"Pa, boleh nikahin anak Papa sekarang gak? Ihsan gemas banget pengin cubit pipinya," tanya Ihsan dengan bercanda.


"Duh gak sabaran banget," ucap semuanya serempak membuat Ihsan dan Cut tertawa sungguh hari ini mereka sangat bahagia.


***


Cut benar-benar bahagia hari ini. Walau dirinya merasa lelah karena terus berkunjung ke tempat wisata yang ada di Aceh tetapi rasa lelahnya itu hilang hanya karena Ihsan yang mampu membuatnya selalu bahagia bahkan dirinya bisa bersikap dengan manja.


"Selamat malam calon istri. Sudah mandi belum?" tanya Ihsan saat ia menghampiri Cut yang sedang duduk seorang diri. Ya mereka menginap di rumah Sultan yang berada di Aceh membuat Ihsan tidak susah payah untuk menyewa hotel.


"Abang ih! Cut jarang mandi waktu kecil saja, jangan ejek Cut seperti itu terus!" ucap Cut dengan manja.


Ihsan terbahak merasa sangat puas terus menggoda Cut yang tampak kesal. "Ya Allah lucunya bidadari Abang Ihsan! Jangan ngambek gitu, Abang tambah gemas sama kamu kalau begitu," ucap Ihsan dengan jujur.


"Biarin wlekkk... Biar Abang tambah cinta sama Cut," ucap Cut dengan menjulurkan lidahnya mengejek Ihsan.


"Tanpa harus kamu begitu pun setiap detiknya Abang semakin jatuh cinta sama kamu, Dek. Berlebihan memang tetapi itulah yang Abang rasakan saat ini," jawab Ihsan dengan jujur.


Ihsan bertopang dagu dan menatap Cut dengan dalam. "Kamu harus bahagia dan membuat kamu bahagia adalah tugas Abang sebagai suami nantinya. Jangan bosan-bosan sama Abang karena setiap harinya Abang akan terus mengucapkan cinta kepada istri Abang. Ucapan dan tindakan harus sejalan, itulah prinsip Abang," ucap Ihsan dengan tersenyum.


Cut mematung dan merasa tidak percaya jika Ihsam sangat mencintainya. "Abang beneran cinta sama Cut? Emang Abang gak punya tipe wanita idaman gitu?" tanya Cut dengan penasaran.


"Tipe wanita idaman?" ucap Ihsan mengulang pertanyaan Cut yang tertuju untuknya.


"Iya, tipe wanita idaman Abang seperti apa?" tanya Cut menatap Ihsan.


"Kamu!" jawab Ihsan dengan lembut.


"Ih... Cut lagi gak bercanda!"


"Siapa yang bercanda? Seribu kali pun kamu bertanya tipe wanita idaman Abang itu seperti apa, jawabannya tetap kamu," ucap Ihsan dengan serius.


Jangan tanyakan lagi bagaimana Cut sekarang. Ia merasa meleleh dengan ucapan Ihsan. Ihsan benar-benar bisa membuatnya terbang melayang.


"Ya Allah. Aku mohon kebahagiaan ini jangan pernah berakhir sampai kami menua dan menutup mata karena hanya Bang Ihsan yang bisa menjadikan aku sebagai perempuan yang sangat bahagia di dunia ini," doa Cut di dalam hati.