
...Happy reading...
****
Pagi yang cerah, secerah hati Laura saat Leon masih memeluknya dengan sangat erat. Kedua masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh keduanya Leon melakukan lagi dengan Laura saat wanita itu terus memancing gairahnya hingga keduanya kelelahan, tetapi Leon masih ingat jika harus mengeluarkan cairannya di luar, ia tidak mau Laura hamil di saat dirinya harus pergi, biarlah Laura paham arti sebuah merindukan di saat mereka berjauhan nantinya.
Leon mengerjap, ia teringat malam yang panjang bersama dengan Laura dan pria itu tidak menyangka jika akan melakukannya dengan Laura hingga berulang kali bahkan Leon meninggalkan jejak kepemilikan cukup banyak di tubuh Laura. Leon menatap Laura yang juga sedang menatapnya mereka tersenyum canggung karena masih sama-sama polos, keduanya tidur di bawah beralasan karpet bulu dengan Dirga yang berada di kasur, seakan anak bayi itu mengerti aktivitas orang dewasa maka sejak semalam Dirga tidak ada menangis sedikit pun.
"Tidak usah berangkat kerja dulu. Saya memberikanmu cuti beberapa hari, lagi pula saya tidak yakin kamu bisa dapat berjalan dengan benar untuk saat ini," ucap Leon dengan frontal membuat pipi Laura tersipu malu karena benar apa yang dikatakan Leon saat ini ia merasa perih pada organ intimnya karena Leon begitu sangat liar berada di atasnya hingga Laura tidak bisa mengimbangi dan berakhir dengan dirinya yang kelelahan.
Leon memakai pakaiannya dengan cepat, ia melihat Dirga yang sudah terbangun dan bermain sendiri. "Jaga Bundamu, Nak. Ayah akan pergi dalam waktu yang tidak singkat," ucap Leon dengan tersenyum memainkan tangan Dirga dengan perlahan.
Laura mencoba bangun dan ia meringis karena perih yang Laura rasakan saat ini. Leon benar-benar membuatnya begitu melayang semalam hingga Laura tidak bisa berpikir dengan jernih jika yang ia lakukan dengan Leon adalah perbuatan dosa karena tidak adanya ikatan pernikahan antara keduanya.
"Sudah saya katakan kamu tidak akan bisa berjalan dengan benar hari ini Laura," tutur Leon mendekat ke arah Laura, ia mengacak rambut Laura dengan lembut. "Terima kasih untuk semalam, Sayang," ucap Leon mengecup kening Laura dengan sangat lama membuat wanita itu memejamkan matanya untuk meresapi sebuah rasa yang ada di hatinya. Hangat, nyaman, dan getaran di hatinya tidak bisa Laura hindari ketika Leon memperlakukannya dengan sangat lembut.
"P-pak!" panggil Laura dengan lirih.
"Iya," jawab Leon dengan datar menatap Laura dengan sangat dalam. Laura menelan ludahnya dengan kasar, ia hanya bisa tersenyum canggung ke arah Leon.
"Bersihkan dirimu! Saya akan menjaga Dirga sebentar, setelah itu saya harus ke kantor, saya akan mandi di kantor saja," ucap Leon dengan tegas membuat Laura menganggukkan kepalanya, ia membelitkan selimut ke tubuhnya dan dengan perlahan bangun berjalan ke kamar mandi karena merasa miliknya masih sungguh perih karena perbuatan Leon. Laura tak habis pikir Leon bisa sekuat itu padahal lelaki itu belum pernah melakukannya, apa karena Leon sudah siap menikah?
Leon terkekeh geli melihat cara jalan Laura yang sangat aneh sekaligus merasa kasihan tetapi ia tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat Laura, wanita itu memberikan efek yang tidak biasa bagi tubuhnya. Leon bermain dengan Dirga saat wanitanya sedang mandi. Ya, Leon menyebut Laura adalah wanitanya, wanita yang tidak boleh dimiliki oleh orang lain. Hanya Leon yang bisa memiliki Laura dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita itu adalah milik Leon termasuk Dirga.
Setelah beberapa saat Laura sudah berada di kamarnya kembali dengan menggunakan baju daster andalan ketika ia sedang berada di rumah dan itu membuat Leon menelan ludahnya dengan kasar tetapi ia masih ingat ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantornya.
"Saya kerja dulu," ucap Leon dengan menyerahkan Dirga kepada Laura. Laura menerima anaknya dengan senang hati karena ia merasa merindukan Dirga hari ini, biasanya semalam Laura tidur dengan Dirga tetapi kemarin ia menghabiskan waktu bersama dengan Leon.
"Iya Pak," jawab Laura dengan singkat membuat Leon menghela nafasnya karena Laura sangat berbeda dengan wanita yang mendekatinya. Leon hanya bisa sabar dengan sikap Laura yang terkadang tidak bisa ditebak olehnya.
"Minggu depan datanglah ke bandara jam 10 pagi, saya ingin melihat kamu untuk terakhir kalinya," ucap Leon dengan tegas membuat Laura tersentak dan menatap ke arah Leon yang mulai keluar dari rumahnya.
Cup.
"Jaga hati kamu selagi saya tidak ada," ucap Leon dengan percaya diri dan mencium kening Laura bergantian dengan Dirga. "Saya pasti akan kembali," tutur Leon dengan mengusap kepala Laura setelah itu pria itu berjalan untuk menuju ke arah mobilnya yang berada di depan gang.
Laura menghela nafasnya, ia tidak mengerti sebuah rasa yang ada di hatinya saat ini. Mengapa ia tidak rela saat Leon akan pergi? Apa ini yang disebut dengan cinta? Laura sudah lupa apa itu cinta saat suaminya mengkhianatinya, kasar, dan sama sekali tidak perhatian dengannya. Namun, apakah rasa ini wajar ketika Leon sudah memiliki wanita lain? Apakah dirinya hanya pelampiasan sesaat? Ahhh.. Entahlah memikir sesuatu yang tidak ia ketahui kebenarannya sungguh membuat kepalanya sangat sakit.
****
Satu minggu kemudian...
Leon melihat jam tangannya dengan gelisah 15 menit lagi keberangkatannya menuju ke Singapura. Namun, seseorang yang sedang ia tunggu tak kunjung datang sejak tadi. Apa Laura lupa dengan permintaannya waktu itu?
Ryan yang melihat sahabatnya gelisah sedari tadi menepuk punggung Leon dengan pelan. "Sabar! Laura pasti datang," ucap Ryan dengan tegas. Baru kali ini ia berpisah dengan Leon ada rasa yang tidak bisa dijabarkan oleh Ryan ketika mengantarkan sang sahabat ke bandara. Mereka hanya berdua saja karena kedua orang tua Leon tidak bisa mengantar Leon karena Leo sedang sakit sedangkan kedua adiknya sedang memilih kesibukan. Lalu Ulan dan Alan juga sedang mengantar Jihan ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan psikologisnya. Leon tak masalah karena jika ada kesempatan dirinya akan pulang untuk sementara waktu, bertemu dengan orang-orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Gila lo, gue bisa di sunat sama Ica. Lo tahu sendiri adik lo cemburuan banget," ucap Ryan dengan menggebu.
"Awasi bukan mencari perhatian Laura! Lo bisa mengawasi Laura bersama dengan Ica dan Ika," ucap Leon dengan kesal pada sahabatnya tersebut.
"Santai dong. Gue akan awasi Laura tapi gue yakin lo pasti tahu semua kegiatan wanita itu di rumahnya serta di restoran," ucap Ryan dengan sangat yakin karena ia tahu bagaimana sahabatnya itu dalam bertindak untuk keamanan orang yang ia sayang.
Pengumuman pesawat hendak berangkat ke Singapura sudah terdengar di bandara. Membuat Leon semakin gelisah karena tidak melihat Laura sama sekali.
"Pesawat sudah mau berangkat, lo masuk sana," ucap Ryan membuat Leon menghela nafasnya karena merasa kecewa dengan Laura. Sungguh dirinya benar-benar tidak berarti bagi Laura.
Leon berdiri dan berjalan ke arah pesawatnya dengan penuh kekecewaan. Ingin rasanya ia tidak pergi saja, namun Leon sudah berjanji dengan kedua kakaknya.
"Pak Leon!" teriak Laura dengan nafas yamg terengah-engah karena wanita itu berlari sekuat tenaganya dengan menggendong Dirga.
Leon tersenyum dan menghadap ke arah Laura, ia merentangkan tangannya agar Laura masuk ke pelukannya. Tanpa kata Laura langsung memeluk Leon, hatinya merasa dirinya ingin memeluk Leon walau hanya sebentar saja.
"Maaf terlambat," gumam Laura dengan lirih.
"Tidak apa-apa yang penting kamu datang," ucap Leon dengan tegas. Ia mengusap pipi Dirga dengan sayang. Ah.. Sial matanya sudah berair karena sesuatu yang ingin mendesak keluar. Kenapa ia bisa menangis seperti ini?
Cup.
"Saya mencintai kamu," ucap Leon dengan lirih. "Saya pasti akan kembali jaga Dirga untuk saya. Saya berangkat," lanjut Leon dengan bibir gemetar baru kali ini ia memahan tangis karena akan berpisah dengan Laura maupun Dirga.
"Hati-hati," ucap Laura dengan lirih. Ia hanya bisa berucap seperti itu karena ia merasa bibirnya sangat keluh.
Leon mengangguk dan dengan cepat ia berjalan menjauh dari Laura. Jika tidak seperti ini, Leon merasa tidak mampu meninggalkan Laura dan ingin membawa Laura pergi bersama dengan dirinya, tetapi Leon tidak ingin egois untuk kali ini, biarkanlah Laura menyadari rasa yang ada di hati wanita itu untuknya.
Laura menghapus air matanya dengan kasar. Kenapa ia ingin mencegah Leon untuk pergi? Sungguh Laura tidak rela saat Leon melangkah dan memasuki pesawat tanpa melihat ke arahnya lagi.
"Pantaskah aku menunggumu? Pulanglah jika sudah waktunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan hatiku. Mengapa aku merasa tidak rela saat kamu pergi?" gumam Laura dengan meneteskan air mata.
****
Om Leon sudah pergi, Laura pasti merasa kehilangan 😥
Gimana part ini? Nyesekkah?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya serta favoritkan cerita ini. Share juga ke teman-teman kalian ya!
Follow IG : author_syafitri . Ada postingan om Leon dan Laura di sana. IG khusus para tokoh novel author.