Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~107 (Kumpul Keluarga)



...Happy reading...


****


Leon dan Laura memboyong ketiga anaknya untuk menginap di rumah kedua orang tuanya untuk kumpul keluarga seperti yang Leo minta. Dan siang ini Sultan, Ika beserta Cut juga baru sampai di Jakarta. Mereka dijemput oleh Ryan dan juga Ica. Sedangkan Ulan sudah sejak semalam ia menginap di rumah orang tuanya, karena merasa rindu dan bersalah terlalu sibuk dan kurang memperhatikan Leon juga Saera.


Bawaan Leon dan Laura sangat banyak karena banyak bawaan Dirga dan si kembar. Akhirnya Leon menyewa baby sister untuk menjaga anak-anaknya, ia tidak ingin Laura kewalahan, tetapi Laura yang tetap mengawasi anak-anaknya. Keduanya tak mau Devino dan Devina lebih dekat dengan baby suster mereka.


"Semua sudah di bawa?" tanya Leon dingin kepada baby sister yang menjaga si kembar.


"Sudah, tuan!" jawab baby sister tersebut dengan sopan.


"Kalian gendong Vino dan Vina!" ucap Leo dengan tegas.


"Sayang sudah siap?" tanya Leon dengan lembut kepada sang istri berbanding terbalik dengan kedua suster yang menjaga kedua anaknya.


"Sudah, Mas! Semua barang juga sudah di bawa kok. Gak ada yang ketinggalan lagi," ucap Laura dengan tersenyum. Dirga juga berjalan di samping Laura, ia langsung merentangkan tangannya agar sang ayah menggendongnya.


Leon terkekeh dan menggendong Dirga dengan cepat. Barang-barang mereka sudah di bawa ke dalam mobil dengan kedua suster yang menjaga Vino dan Vina tadi sebelum keduanya menggendong si kembar. Usia si kembar sudah 3 bulan membuat Leo dan Laura gemas.


"Ayah, kak Cut udah sampai di lumah kakek?" tanya Dirga dengan serius.


"Sudah, Nak. Makanya ayo kita berangkat ke sana," ucap Leon dengan lembut.


"Ayo, Yah!" ucap Dirga tak sabar membuat Leo dan Laura terkekeh juga kedua baby siater tersebut juga tersenyum kecil melihat keharmonisan keluarga majikan mereka.


Leon menggandeng tangan Laura untuk dengan erat, mereka berjalan beriringan diikuti oleh baby sister yang menggendong kedua anak kembarnya.


*****


Dirga langsung berlari ke dalam rumah Leo saat mereka baru saja sampai. Ia mencari keberadaan kakak sepupunya dengan pandangan yang mengedar keseluruh ruangan.


"Dirga!"


"Kak Cut!"


Teriak keduanya heboh. Cut langsung berlari menghampiri Dirga, tinggi Dirga sebatas perutnya membuat Cut mengelus punggung Dirga saat mereka berpelukan. "Kakak punya oleh-oleh buat kamu. Cepat sini!" ucap Cut dengan senang.


Leon memperhatikan anaknya yang sudah asyik dengan Cut. Devino sudah berada di gendongannya dan Devina sudah berada di gendongan Laura sedangkan kedua baby suster mereka membawa barang-barang keperluan si kembar masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah kumpul semua," ucap Leo dengan mata yang penuh dengan binar kebahagiaan melihat anak dan cucu serta cicitnya kumpul. Rumah yang biasanya sepi kini terlihat ramai sekali.


"Kami sebisa mungkin untuk kumpul seperti ini, Pa. Walaupun kami semua sibuk, kami tetap akan berusaha mengabiskan waktu bersama papa dan bunda," ucap Ulan dengan lembut. Ia merasa sangat merindukan Leo, bahkan sejak kemarin ia memeluk papanya dengan erat, seperti sekarang tak peduli semua adik, dan anaknya melihat kelakuannya.


Leo mengecup kening Ulan dengan lembut. Anaknya dari Adinda ini sangat mirip dengan Adinda dan semakin membuat Leo semakin merindukan istri pertamanya. Leo sangat menyayangi Ulan walaupun Leo sangat menyayangi semua anaknya tetapi di dalam lubuk hatinya ia lebih sangat menyayangi Ulan karena masa lalunya dengan Ulan yang kurang baik, ia berpura-pura membenci anaknya hingga Ulan juga membencinya dulu.


"Ayah kenapa nangis?" tanya Ica yang sensitif.


"Ayah bahagia, Nak. Kalian bisa kumpul seperti ini di rumah menemani Ayah dan bunda. Kita tidak tahu takdir yang akan menyapa esok harinya. Apakah kita masih bisa bersama atau tidak seperti sekarang," ucap Leo dengan lirih.


"Ayah gak boleh ngomong gitu," ucap Ika dengan sedih. Sultan sudah mengelus lengan istrinya.


Leo dan yang lainnya menjadi pendengar yang baik, hati mereka sangat merasa sedih dengan ucapan Leo tetapi mereka hanya diam hanya Ulan, Ika, dan Ica yang berbicara.


"Kakek harus sehat. Jihan mau kakek lihat Jihan nikah nantinya," ucap Jihan dengam tersenyum.


"Ya udah nikah sekarang! Kenalkan calon kamu sama Kakek," goda Leo membuat Jihan mematung. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal masa kelamnya membuat Jihan membatasi lelaki yang mendekatinya sampai sekarang.


"Kakek!" rajuk Jihan membuat semua orang tertawa, suasana yang tadi terlihat sedih kini digantikan gelak tawa yang menggema di seluruh ruangan. Mereka bercerita dengan santai dan merencanakan malam nanti akan melakukan barbeque di halaman belakang rumah Leo.


***


Malam harinya...


Sultan dan Leon serta Ryan sedang sibuk memanggang daging sedangkan Alan, Elang membakar jagung para wanita juga ikut membantu para suami mereka sedangkan Leo dan Saera hanya duduk menemani para cucu-cucu mereka.


"Abang onta Aceh. Yang bagus kipasin dagingnya biar cepat matang!" ucap Ryan dengan jahilnya.


"Masa di Aceh gak ada onta kan serambi mekah?" tanya Ryan dengan polosnya.


"Otak lo udah pindah di dengkul?" tanya Leon dengan sinis.


"Alhamdulillah belum Mas!" jawab Ryan dengan polosnya.


"Sebentar lagi turun ke perut," ucap Sultan dengan enteng.


Ryan terbengong menatap kedua kakak iparnya dengan wajah yang seakan-akan teraniaya. "Sungguh kakak ipar yang kejam dan tidak berperi-ke-adik-iparan," ucap Ryan dramatis.


"Mual gue lama-lama lihat wajah lo. Mau lo gue kirim ke kantor cabang?" ucap Leon dengan dingin.


Ryan melotot. "Ndut, Mas Leon mau pisahin ki....!" adu Ryan dengan berteriak tetapi mulutnya sudah di bekap oleh Leon dan Sultan, mereka menatap sinis ke arah Ryan.


"Berisik!" ucap keduanya bersamaan.


"Ada apa Mas?" tanya Ica dengan bingung.


"Suami kamu panggang daging sampai gosong!" ucap Leon dan Sultan bersamaan padahal mereka sama sekali tidak berencana seperti itu.


"Mas Ryan, yang benar dong panggang dagingnya!" ucap Ica dengan kesal.


"Mampus lo!" ucap Leon dengan sinis.


"Mmmmpphh..."


"Ih jorok!" ucap Sultan dan Leon bersamaan melihat air ludah Ryan sudah berada di tangan mereka.


"Mampus kena iler gue kalian!" ucap Ryan dengan kesal.


"Panggang yang benar gue mau cuci tangan sama kembang tujuh rupa. Iler lo rabies soalnya," ucap Leon dengan datar


"Bahaya ini Mas. Ayo kita cuci tangan dulu," ucap Sultan dengan berpura-pura panik.


"Kakak ipar sialan!" teriak Ryan dengan kesal. Nasib menjadi adik ipar yang paling bungsu membuat Ryan selalu di bully oleh para kakak ipar lelakinya.


"Kuatkan iman hamba Ya Allah!" gumam Ryan dengan mengangkat kedua tangannya.


"Om Ryan kenapa? Gila?" tanya Mentari dengan polosnya.


Glukk...


Ryan tidak mau berhadapan dengan wanita ceplas ceplos di hadapannya ini. Ia tidak mau semakin membuat hidupnya tak tenang.


"Mentari, itu kamu di panggil Elang!" ucap Ryan dengan cepat.


"Gak kok! Suami aku masih asyik bakar jagung sama ayah Alan," ucap Mentari dengan tenang.


"Gawat!" gumam Ryan di dalam hatinya.


"Tuh Angel nangis!" ucap Ryan dengan lega saat mendengar suara Angel yang menangis.


Mentari langsung menghampiri anaknya yang berada di gendongan Ika membuat Ryan mengelus dadanya dengan lega. Ucapan Mentari yang terkadang terlewat jujur membuat semua keluarga merasa sport jantung, untung saja Elang sangat tahan dengan sikap istri kecilnya tersebut.


Leo sangat merasa bahagia malam ini karena bisa menikmati waktu kebersamaan bersama keluarganya, ia menatap malamnya langit yang dipenuhi bintang-bintang dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Tunggu aku, Sayang. Aku juga sangat merindukanmu!"


*****


Gimana dengan part ini?


Yok ramein lagi!


Like, vote, dan coment jangan lupa yak!