Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~79 (Pergi Untuk Kembali)



...Happy reading...


****


Seharian berada di kantor membuat Leon benar-benar lelah. Tetapi lelah itu dengan cepat hilang saat melihat Laura dan Dirga menyambut kepulangannya dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka. Leon mengecup kening mereka secara bergantian.


"Ayah capek ya?" tanya Dirga yang sudah berada di gendongan Leon. Laura sudah membawakan tas kerja milik suaminya saat sang anak sudah berada di gendongan Leon.


"Tadi capek. Tapi sekarang lihat muka bunda dan Dirga capeknya hilang," ucap Leon dengan tersenyum.


"Ayah mau mandi dulu atau makan?' tanya Laura dengan lembut.


"Mandi dulu aja, Bun. Badan Ayah sudah lengket semua," ucap Leon dengan lembut.


"Ya sudah Bunda siapkan dulu air hangatnya," ucap Laura dengan perhatian.


"No! Bunda di sini saja! Biar Ayah sendiri saja. Ayah ngilu lihat Bunda naik turun tangga dengan perut sebesar itu. Sebaiknya nanti kita pindah di kamar tamu saja yang berada di lantai satu," ucap Leon dengan tegas.


"Tapi kan...."


"Tidak ada tapi-tapi, Bun!" Leon menatap Laura dengan tegas. "lihat tuh Bunda sekarang bandel ya," ucap Leon pada Dirga membuat Laura mengerucutkan bibirnya.


"Bunda bandel!" ucap Dirga dengan terkekeh.


"Dirga sama bunda dulu ya. Ayah mau mandi, nanti kita makan bareng," ucap Leon dengan tegas yang diangguki oleh Dirga.


Laura bersama Dirga menunggu Leon mandi dengan bermain sebentar. Terkadang Laura protes setiap kali Leon membelikan mainan yang sangat banyak untuk anaknya. Laura tahu Leon sangat menyayangi Dirga tetapi mainan yang dibeli sangat membuat Laura kesal. Tetapi Leon selalu berhasil meluluhkan hatinya kembali dengan mengatakan 'Mas bekerja hanya untuk kalian. Jadi jangan pernah protes tentang apa yang Mas berikan kepada kamu dan Dirga. Kamu istri aku dan Dirga anak aku.'


Melihat kasih sayang Leon kepada Dirga membuat Laura berpikir apa Zico akan menyayangi Dirga seperti Leon menyayangi anak mereka? Ah.. Kenapa pikiran itu muncul di otaknya? Laura tidak berharap akan itu tetapi tetap saja ada rasa sakit saat mengingatnya.


"Bunda, sudah Ayah bilang jangan melamun," tegur Leon membuat Laura tersentak.


"Mikirin apa?" tanya Leon dengan penasaran.


"Gak Mikirin apa-apa, Mas. Sudah selesai? Ayo sekarang kita makan. Aku udah laper," rengek Laura membuat Leon terkekeh.


"Nak, berhenti dulu mainnya ayo kita makan," ucap Leon kepada Dirga yang asyik bermain. Dirga langsung mengangguk patuh ke arah Leon, ia meminta gendong Leon kembali dengan senang hati Leon menggendong anaknya.


Mereka makan malam dalam diam menikmati makan malam yang menurut ketiganya sangat nikmat. Sesekali celoteh Dirga yang terdengar membuat sepasang suami itu tertawa.


Sekarang Leon sudah masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Dirga. Ia naik ke atas kasur dan langsung memeluk istrinya. Laura tahu ada yang dipikirkan Leon ketika seperti ini. "Ada yang mau Mas bicarakan ke aku?" tanya Laura dengan hati-hati membuat Leon menatap Laura dengan dalam. Istrinya sangat tahu isi hatinya saat ini.


"Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan dan Mas harus pergi ke Jepang dalam waktu dekat ini," ucap Leon dengan lirih merasa berat mengatakan semuanya kepada sang istri.


"Berapa lama?" tanya Laura dengan serak menahan tangis yang hendak pecah karena merasa enggan untuk berpisah dengan suaminya walau untuk sementara waktu.


"Paling lama satu bulan bahkan bisa lebih paling cepat dua minggu," ucap Leon dengan pelan.


Pecah sudah tangisan Laura. Ia memeluk Leon dengan erat.


"Ssttt... Jangan nangis! Mas semakin gak mau pergi! Tapi pekerjaan ini tidak bisa diwakilkan," ucap Leon demgan sendu.


"Hiks..hiks... Kenapa lama sekali, Mas? Kalau aku, Dirga dan twins kangen gimana?" tanya Laura dengan lirih.


"Aku janji setiap harinya akan mengabari kamu, Sayang. Tapi kamu jangan tinggal di rumah kita, Mas tidak akan tenang meninggalkan kalian. Terserah kamu mau tinggal di rumah bunda atau mama," ucap Leon.


"Aku mau ikut aja hiks...hikss." makin menangislah Laura di pelukan Leon membuat pria itu merasa serba salah.


"Kalau kamu gak lagi hamil pasti kalian Mas ajak pergi. Tapi kamu lagi hamil, Sayang. Mas gak mau terjadi sesuatu kepada anak kita," ucap Leon memberikan pengertian. Laura tak lagi membalas ia menangis di pelukan Leon sampai tertidur membuat Leon merasa bersalah dan semakin enggan meninggalkan sang istri. Malam ini Leon sama sekali tidak bisa tidur, ia tak mungkin meninggalkan sang istri yang sedang hamil tetapi tuntutan pekerjaan membuat Leon harus melakukannya.


*****


Malam sudah larut dan Zico sama sekali belum pulang. Intan yang sejak tadi tidak bisa tidur karena memikirkan Zico jadi gelisah. Apa lelaki itu masih sama seperti dulu? Seperti Laura yang menceritakan semuanya kepada Intan ketika gadis itu belum mengenal Zico. Apa sekarang Zico sedang asyik bersama wanita lain karena dirinya belum bisa disentuh oleh Zico? Pikiran buruk terus menghantui perasaannya hingga pintu terbuka dan membuat Intan terkejut melihat wajah lelah Zico saat masuk ke kamarnya.


"Belum tidur?" tanya Zico tanpa melihat ke arah Intan karena gadis itu yang sudah menjungkir balikkan hidupnya. Baru beberapa hari menikah sudah sangat menyiksa batinnya apalagi sampai berbulan-bulan. Apa Zico masih sanggup menahan gejolak gairahnya saat menatap Intan?


"Hmmm." jawab Zico dengan deheman. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menyibukkan bekerja hingga larut malam. Zico sengaja melakukannya untuk menghindar dari Intan karena Zico tidak bisa menahan gairahnya saat ia sudah pernah merasakan manisnya bibir Intan.


Intan bernapas lega saat melihat Zico masuk ke kamar mandi. Apa pria itu marah kepadanya? Kenapa akhir-akhir ini Zico bersikap acuh tak acuh kepadanya? Intan kembali berpura-pura memejamkan mata saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Zico yang melihat Intan sudah tertidur langsung mengambil bantal miliknya dan membawanya ke sofa, ia tidak berani mendekat ke arah Intan takut kejadian waktu itu terulang kembali. Zico langsung memejamkan matanya karena hari ini ia merasa lelah.


Intan yang merasa Zico sudah tertidur bangun kembali. Ia menghela napasnya saat melihat Zico tidak memakai selimut, dengan perlahan ia mengambil selimut yang berada di dalam lemari dan membawanya ke arah Zico. Sebelum memakaikan selimut itu kepada Zico, Intan memperhatikan wajah Zico yang menurutnya sangat tampan.


"Tampan!" gumam Intan di dalam hati.


"Aduh Intan berpikir apa sih?" tanyanya sambil memukul kepalanya sendiri. Tidak mau berpikir terlalu jauh tentang Zico, Intan memakaikan selimut itu kepada Zico dengan perlahan. Namun, apa yang terjadi Zico mencekal tangannya saat pria itu merasa terkejut. Mata kedua saling memandang satu sama lain.


Dan...


****...


Zico tidak bisa lagi menahannya, ia menarik lembut Intan ke atas tubuhnya membuat gadis itu memekik tetapi tidak berlangsung lama karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Zico.


"Aku tidak bisa manahannya lagi. Jika kamu ingin menolak sentuhanku, dorong aku dengan kencang," ucap Zico dengan serak.


Pikiran Intan bercabang antara ingin menolak dan menerima sentuhan profesional dari tangan Zico dan bibir Zico tetapi tubuh dan hatinya menikmati sentuhan Zico. Intan menggigit bibirnya menahan suara erangan karena sentuhan Zico di tubuhnya.


Zico dengan cepat membawa Intan ke kasur tanpa melepas ciuman mereka. Ia menatap Intan dengan kabut gairah yang sudah menggunung, melihat Intan diam saja dan menikmati sentuhannya Zico sudah tahu jika sang istri juga menginginkan sentuhannya. "Diamnya kamu sebagai jawabannya Intan," ucap Zico dengan serak, ia memainkan dada Intan dengan mulutnya, menghis*p dada itu seperti bayi kehausan. Intan melenguh, mendes*ah saat Zico terus memainkan dadanya. Entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos membuat Intan menutup dadanya, Zico terkekeh melihat tingkah istrinya.


"J-jangan lihatin aku seperti itu!" ucap Intan dengan gugup.


"Kamu seksi Intan..."


"Ahhh..."


"Aku akan memulainya. Mungkin ini akan sakit," gumam Zico mengarahkan miliknya yang sudah sangat tegang maksimal pada milik Intan. Intan memejamkan matanya saat merasakan benda asing masuk ke dalam miliknya.


"Kenapa sangat susah?" tanya Zico dengan serak saat beberapa kali ia gagal menembus dinding milik Intan, selalu saja meleset dan akhirnya setelah percobaan beberapa kali Zico berhasil melakukannya, Intan memekik kesakitan, tak sadar ia mencakar punggung Zico dengan kuat. Mereka sudah menyatu dengan nikmat.


"S-sakit," ucap Intan dengan lirih.


"Sebentar lagi akan nikmat," ucap Zico dengan pelan. Ia kembali mengecup bibir Intan dan mulai menggerakkan miliknya dengan pelan. Mendengar desah*n Intan membuat Zico semakin semangat menggerakkan miliknya dan menghentakkan tubuhnya dengan keras.


"Panggil namaku, Sayang!" ucap Zico di telinga Intan.


"Zico!" teriak Intan dengan nikmat saat Zico terus bergerak di atasnya.


"Lagi!" perintah Zico.


"Mas Zico!" teriak Intan. Peluh membasahi kedua tubuh mereka, suara penyatuan mereka terdengar begitu nikmat. Malam ini menjadi saksi hubungan mereka yang semakin baik setelah perang dingin antara keduanya.


Zico meledak di dalam rahim Intan. Ia ambruk di atas tubuh Intan dengan napas tersengal-sengal. "Berat Mas," ucap Intan dengan lirih.


"Ganti gaya!" ucap Zico dengan menyeringai membuat Intan menelan ludahnya dengan kasar. Apa mereka akan terus melakukannya tanpa berniat untuk tidur?


****


Aduh Laura mau ditinggal Leon ke Jepang.


Ada yang gol tapi bukan bola🤣🤣🤣


Selamat ya Zico sudah berhasil membobol gawang istri!


Ramein part ini.


Kalau rame bakal double up dong.


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak ya.