
...Happy reading...
****
Gadis berusia 26 tahun itu memandang gedung menjulang tinggi dengan takjub, pasalnya biasanya ia hanya bisa melihat melalui televisi saja dan sekarang ia bisa melihatnya dengan secara langsung. Kedatangannya ke kota untuk menemui Rama, tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Berbekal alamat yang ia dapatkan dari Rama akhirnya ia sampai ke restoran mewah di mana Rama bekerja. "Ya ampun restorannya besar banget. Akang Rama sudah jadi orang kaya," ucap Kirana dengan senang. Jika Rama sudah menjadi orang kaya maka ia bisa pamer dengan seluruh orang kampung jika ia akan menjadi seorang istri dari Rama yang kaya raya bukan Rama si pengangguran lagi. Dulu Kirana menerima Rama karena ketampanan Rama tetapi seiring berjalannya waktu ia juga mencintai Rama terlebih sekarang Rama sudah banyak uang pasti akan menuruti semua kemauannya untuk membeli barang-barang yang ia inginkan.
Rama tergesa-gesa menghampiri Kirana yang sejak tadi seperti orang gila, bengong di depan restoran yang membuat karyawannya melihat Kirana dengan aneh karena penampilannya memakai baju aneh namun sangat ketat itu. "Akang, tangan aku sakit!" pekik Kirana dengan meringis.
Rama menghambuskan napasnya dengan kasar karena Kirana ia malu dengan seluruh karyawannya. "Kenapa kamu datang ke sini? Saya kan sudah suruh menyuruh kamu tunggu di rumah," ucap Rama dengan sedikit membentak membuat Kirana terkejut karena baru ini ia dibentak oleh Rama.
"Aku belum ketemu sama alamat rumah Akang. Dari tadi aku udah mutar-mutar naik ojek terus aku ingat tempat kerja Akang jadi aku suruh tukang ojek antar ke restoran ini karena tempatnya terkenal," ujar Kirana berbohong karena sebenarnya ia sudah tahu rumah Rama tetapi ia sengaja datang ke restoran Rama.
Kirana adalah gadis yang baik tetapi jika ada orang yang mengusik hidupnya maka ia akan menjadi galak dan judes sekali, ia juga tidak bisa mengontrol amarahnya jika Rama membuatnya cemburu karena baginya Rama adalah miliknya. Tetapi ada satu sifat Kirana yang tak Rama sukai yaitu sombong jika memiliki sesuatu yang teman-temannya belum miliki dan Kirana bisa pamer ke sana ke sini.
"Tapi saya masih kerja, Kirana. Kamu akan bosan menunggu!" ucap Rama dengan frustasi padahal alasan utama adalah takut Ika datang dan semakin menjauh darinya karena kedatangan Kirana.
"Aku bisa menunggu Akang sampai pekerjaan Akang selesai!" ucap Kirana dengan keras kepala membuat Rama mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ikut saya!" ucap Rama dengan tegas dan menarik Kirana agar masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin Kirana menjadi bahan perhatian pengunjung restoran yang membuar Rama bertambah malu terlebih penampilan Kirana yang cukup aneh dengan make up yang cukup tebal membuat Rama menatap Kirana dengan bergidik ngeri. Siapa yang mendandani Kirana menjadi ondel-ondel seperti ini? Rama lebih suka Kirana yang natural tanpa polesan make up tebal.
"Akang gak kangen sama Kirana?" tanya Kirana dengan manja saat mereka audah berada di dalam ruangan Rama.
Rama memeluk kirana dengan erat. Sejujurnya ia juga merindukan Kirana tidak dapat dipungkiri jika di sudut hatinya masih ada nama Kirana walau nama Ika yang lebih bertahta di sana. "Saya juga merindukan kamu. Seharusnya kamu tidak perlu ke sini, biar saya saja yang pulang karena sebentar lagi kita akan menikah," ucap Rama dengan pelan.
Tanpa Rama sadari pintu terbuka dan Ika masuk dengan keterkejutannya karena ucapan Rama yang mengatakan ingin menikah dengan Kirana, tetapi ia berusaha menormalkan detak jantungnya. Ika baru saja datang ke restoran bersama dengan Zico, pria itu baru saja mengantarkannya ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Ika.
Ika masih memikirkan perkataan dokter kepadanya. "Janin anda sangat lemah karena stres yang anda alami. Sebaiknya anda jangan sampai terlalu stes karena bisa membahayakan kandungan anda, terlebih nanti anda akan akan naik pesawat, guncangan pesawat bisa membahayakan kandungan anda jika anda masih mengalami stres berkepanjangan..."
"Dan saya mohon sebagai suami dari ibu Ika, Bapak harus bisa membuat mood ibu Ika kembali baik. Turuti saja apa kemauannya saat ini. Ini saya beri resep vitamin, obat anti mual dan penguat janin. Bapak bisa menebusnya nanti," ujar dokter lagi yang membuat Zico mengangguk dengan mantap karena ia akan berjuang untuk membuat Ika bahagia, ia tidak ingin mengulangi kesalaham yang sama.
"Terima kasih, Dok," ucap Zico dengan Ramah.
Ika kembali ke dunia nyata setelah melamunkan soal janinnya ketika berada di rumah sakit tadi. Bagaimana ia tidak stres jika dua orang di hadapannya mampu menghancurkan hatinya kembali.
"Ekhem.." Ika berdehem untuk menyadarkan kedua orang yang hampir berciuman di depannya. Rama dan Kirana tersentak saat melihat kedatangan seseorang.
"I-ika, sejak kapan kamu di sini?" tanya Rama dengan gugup saat melihaf wajah Ika tanpa ekspresi.
"Astaga. Ini yang namanya Kirana? Penampilannya sungguh membuat orang yang menatapnya sakit mata. Baju merah cerah, rok kuning cerah dan itu sangat ketat. Make up nya sungguh kayak badut jalanan," ucap batin Ika dengan menilai.
"Tapi akui dia cantik," gumam Ika dengan lirih.
"I-ika, aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Rama dengan memohon ia mencoba menghampiri Ika namun tangan Kirana menahannya, ia menjadi menatap sinis ke arah Ika karena merasa Ika bahaya untuk hubungannya dengan Rama.
"Akang, dia siapa? Mengapa Akang seperti sangat takut sekali?" tanya Kirana dengan heran.
"Sebaiknya aku pergi. Mbak Kirana aku hanya wakil manager di sini kalau Mbak penasaran dengan saya," ucap Ika dengan datar.
Dengan cepat Rama mencegah tangan Ika kembali membuat Kirana kesal. "Akang, jangan pegang tangan Mbak ini," teriak Kirana dengan kesal dan langsung menyentakkan tangan keduanya dengan kasar. Kirana cemburu dengan Ika dan itu terlihat jelas dari sorot matanya.
Ika hanya meringis memegangi perutnya yang sakit kembali, kram itu datang lagi.
"Stop! Yang sopan dengan Ika, Kirana!" teriak Rama dengan marah. Ia mengembuskan napasnya dengan ia harus memilih satu di antar kedua wanita yang berada di depannya.
"Ika duduk!" ucap Rama dengan tegas namun terkesan lembut membuat Kirana semakin memanas.
"Akang, dia hanya wakil manager dan Akang managernya. Seharusnya Akang usir dia karena telah mengganggu kemesraan kita," ucap Kirana dengan judes.
"DIAM KAMU KIRANA. KALIAN DUDUK! SAYA AKAN MENJELASKAN SESUATU!"
***
Tahan napas!
Apa yang mau dikatakan Rama ya!
Jika kalian di posisi Ika mau ngapain?
Penasaran?
Ramein part ini biar update lagi.
Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya.