Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~1 (Diam-Diam Cinta)



...Happy reading...


****


Di usianya yang sudah sangat tua Saera malah terlihat semakin cantik di mata cucunya. Belasan tahun tinggal bersama sang nenek membuat Cut semakin mandiri dan sangat dewasa dalam bersikap, walau sifat itu sudah terlihat sejak kecil namun semua itu masih membuat keluargannya takjub. Gadis dengan mata bulat, hidung mancung dan bibir tipis dengan kulit putih dan tinggi 165 cm membuat Cut sangat di idam-idamkan para kaum adam yang ingin mendekatinya. Tetapi hanya satu pria yang tidak pernah melihat ke arahnya bahkan terlihat sangat ketus jika sudah bersama dengan Cut di acara keluarga mereka, siapa lagi jika bukan Dio Erlangga yang saat ini sudah berusia 27 tahun. Dan di mata Cut, Dio semakin terlihat tampan sekali.


"Cut bangun, Sayang! Katanya kamu mau menjemput mama, papa dan adik-adik kamu di bandara," ucap Saera dengan lembut.


Cut mengerjapkan matanya. Ia baru ingat jika kedua orang tua dan ke-empat adiknya akan berlibur ke Jakarta karena rindu dengan dirinya dan juga Saera. Oo iya, saat ini Saera dan Cut tinggal berdua bersama dengan para pembantu yang lainnya. Ryan dan Ica sudah pindah ke rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Saera, sengaja mereka membeli rumah yang bersebelahan dengan Saera agar bisa memantau Saera yang beberapa tahun ini sering sakit-sakitan dan itu mengapa Cut memilih kuliah kedokteran, ia ingin menyembuhkan orang banyak walau dulu ia sangat takut dengan rumah sakit.


"Ya Allah hampir saja Cut lupa, Nek," ucap Cut dengan menepuk jidatnya. Kantuknya sudah menghilang ketika membayangkan wajah kedua orang tua dan adik-adiknya yang sangat menggemaskan sekali baginya.


"Hari ini kamu diantar Dio saja ya. Kebetulan Dio sedang mengantar tante Ulan ke sini," ucap Saera dengan tersenyum, ia tahu cucunya sangat terlihat gugup ketika ia menyebutkan nama Dio tadi.


"Tapi kan Bang Dio sedang sibuk di rumah sakit, Nek. Cut bisa berangkat sendiri," ucap Cut dengan gugup.


"Yakin gak mau berangkat bersama Dio? Siapa tahu saja kalian semakin akrab," ucap Saera dengan jahil.


"N-nenek jangan jahil ih. Sekarang jantung Cut sudah berdisko," ucap Cut dengan mengerucutkan bibirnya membuat Saera tertawa.


"Cepat mandi biar badan kamu lebih segar. Kantung mata kamu semakin menghitam, Sayang. Apa kuliah kamu semakin berat?" tanya Saera dengan cemas karena semenjak kuliah Cut terlihat kurus dengan kantung mata yang terlihat menghitam, ia tahu Cut kurang tidur karena harus bergadang mengerjakan tugas kampusnya serta masuk lab yang pasti menguras tenaga dan otaknya. Saera tahu selain alasan Cut ingin menjadi dokter karena agar bisa menyembuhkan orang lain ada alasan lain yang membuat Cut sangat semangat dalam kuliahnya walau terlihat sangat berat sekali yaitu karena Dio adalah seorang dokter muda yang sangat tampan.


"Dibilang berat ya berat, Nek. Tapi Cut berusaha menikmatinya, lama-lama terlihat asyik kok," ucap Cut dengan tersenyum. "Cut mandi dulu, Nek. Biar semakin cantik," ucap Cut dengan mengedipkan kedua matanya. Saera terkekeh dan menatap langkah cucunya yang memasuki kamar mandi.


"Semoga cinta kamu berjalan dengan baik ya, Nak. Nenek sayang sekali sama kamu. Semoga kisah percintaan kamu tidak seperti kisah percintaan Nenek di awal yang penuh luka, tidak dianggap oleh kakekmu bahkan sampai Nenek pergi dari rumah saat mengandung om Leon dulu. Tetapi walaupun begitu Nenek bersyukur karena kakekmu berubah menjadi lebih baik dan menyadari kesalahannya," gumam Saera dengan lirih.


****


"Dio antarkan Cut ke bandara ya untuk menjemput mama dan papanya serta ke-empat adik Cut yang sekarang ada di bandara," ucap Ulan yang mengetahui lirikan bundanya.


"T-tapi, Tan. Aku...."


"Cut bisa sendiri, Tante. Bang Dio pasti sibuk di rumah sakit," ucap Cut dengan cepat karena ia tahu Dio akan menolak permintaan tante Ulan. Dari wajah Dio yang terlihat masam membuat Cut tidak enak hati, Cut tak ingin egois tentang cintanya kepada Dio.


"Dio kamu mau kan antar Cut ke bandara. Nenek takut terjadi sesuatu dengan Cut kalau dia berangkat sendiri," ucap Saera dengan memohon.


Cut menggigit bibir bawahnya saat melihat wajah Dio yang terlihat terpaksa mau mengantarkannya.


"Kalau Bang Dio sibuk Cut bisa berangkat sendiri, gak usah memaksakan diri," ucap Cut dengan tak enak hati.


"Terima kasih Dio. Nenek titip cucu Nenek yang cantik ini ya. Nanti ada supir yang mengikuti kalian karena satu mobil saja tidak cukup," ucap Saera dengan senang karena pasti Sultan dan Ika serta ke empat anak mereka membawa barang-barang banyak dari Medan.


Kedua pipi Cut memerah, ia hanya bisa mendesah perlahan saat nenek dan tantenya selalu bekerja sama untuk mendekatkan dirinya dengan Dio. Cut suka tetapi ia tidak merasa nyaman dengan ekspresi wajah Dio yang tidak suka berdekatan dengannya.


Dengan hijab berwarna hijau tosca dan dress panjang berwarna senada, Cut terlihat sangat cantik sekali. Tetapi sayang Dio yang selama ini sangat ia sukai sama sekali tidak tertarik dengan kecantikannya bahkan perhatiannya yang ada di pikiran dan hati Dio hanya Ratu, Ratu, dan Ratu.


Jika ada yang menanyakan padanya, apakah hati Cut terluka? Jawabannya adalah iya dirinya sangat terluka, sebab mencintai tanpa dicintai itu sangat menyakitkan tetapi Cut hanya bisa bersabar, ia tidak ingin egois yang bisa merusak kebahagiaan Dio. Biarlah saat ini hanya dirinya yang mencintai Dio. Bukankah doa adalah sesuatu yang pasti didengar oleh Allah? Dan Cut selalu menyebutkan nama Dio dalam doanya agar lekaki itu yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil, Dio maupun Cut sama-sama diam dan tak ada sama sekali yang ingin berbicara.


"Bang, Cut merasa tidak enak karena sudah menganggu pekerjaan Abang. Pasti di rumah sakit banyak pasien yang menunggu Abang," ucap Cut merasa tak enak hati.


"Gak apa-apa," jawab Dio dengan singkat dan kembali fokus ke pengemudinya.


Cut menghela napas berat. Dio terlihat dingin jika bersamanya.


"Setelah ke bandara kamu bisa mengemudi mobilku? Aku harus segera ke rumah sakit," ucap Dio dengan datar. Padahal sejujurnya ia malas berdekatan dengan Cut yang terlihat sangat memujanya walau gadis itu tidak pernah genit kepadanya, Dio tak ingin Ratu salah paham kepadanya dan Cut.


"B-bisa, Bang!" ucap Cut dengan tersenyum kecut.


"Satu lagi. Aku tidak suka tante Ulan dan nenek Saera selalu berusaha mendekatkan kita. Bisa saja aku tadi menolaknya dengan tegas, tetapi aku masih ingat jika kesehatan nenek akhir-akhir ini menurun. Jadi, kamu jangan salah paham ketika aku mau mengantarkanmu ke bandara," ucap Dio dengan dingin.


Cut berusaha tersenyum. "Aku gak mau mengambil kesempatan dengan merengek kepada tante dan nenek. Abang lihat sendiri kan jika aku pun tadi berusaha menolak? Jadi, jangan berpikir jika aku yang menghasut mereka berdua. Aku tidak sepicik itu," ucap Cut dengan tegas.


"Baguslah kalau kamu tahu diri!" ucap Dio dengan dingin.


Tangan Cut terkepal dengan erat, ia harus berusaha sabar untuk menghadapi Dio. Tak ingin berdebat dengan Dio, Cut lebih memilih menatap ke arah jendela begitupun dengan Dio yang lebih fokus ke arah jalan. Mereka seperti orang bermusuhan ketika bertemu kareba Dio selalu bersikap dingin dan ketus kepada Cut.


****


Hey..hey. i'm comeback dengan cerita Cut dan Dio.


Awas kalau gak ramai nih.


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya.