Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~37 (Bersama Selamanya)



...Sibuk banget sekaramg bingung untuk bagi waktu untuk nulis tapi aku sempatkan buat kalian walau cuma sedikit. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya....


...Happy reading...


****


Aku tidak bisa kehilanganmu sampai mati. Kamu adalah istriku sampai aku tak lagi bisa menjagamu, sampai nyawaku tak lagi di jasadku, Sayang. Permintaanmu tidak bisa aku kabulkan sampai kapan pun kecuali aku mati.


...~Ihsan~...


****


"M-maafkan Cut yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Abang," ucap dengan lirih.


"Kamu gak salah, Sayang. Tidak harus meminta maaf seperti itu," balas Ihsan dengan lirih. Ihsan ingin mencium kening Cut tetapi sang istri menghindar membuat Ihsan dan juga yang lainnya menatap Cut dengan bingung pasalnya Cut tidak pernah seperti ini kepada suaminya.


"Ayo kita cerai!" ucap Cut dengan berlinang ait mata. Sebenarnya ia sakit meminta seperti itu karena tak pernah terbayang jika pernikahannya dengan Ihsan akan berakhir dengan perpisahan.


Jeder...


Ihsan mematung dengan permintaan istrinya, hatinya berdenyut sakit kala Cut meminta cerai darinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri dan mamanya hingga Cut menjadi seperti ini? Ya Allah, Ihsan benar-benar takut kehilangan wanita yang ia cintai.


"Sayang..."


"Ayo kita cerai, Bang. A-aku bukan istri yang sempurna, aku tidak bisa memberikan kamu anak. Aku tidak bisa hiks...hiks..." racau Cut dengan menepuk dadanya. Sesak sekali rasanya, ia tidak ingin berpisah dengan Ihsan namun keadaan mempermainkan dirinya hingga hatinya hancur berkeping-keping.


"Dengarkan Abang dulu!" ucap Ihsan dengan tegas. Ia tidak ingin istrinya terus meracau tidak jelas dan meminta bercerai dengannya karena sampai kapan pun Ihsan tidak akan menceraikan Cut.


Cut mematung. Otaknya masih mencerna penjelasan suaminya dengan baik, tubuhnya kaku di saat otaknya sudah dapat memproses dengan baik perkataan suaminya. "A-aku hamil, Bang?" tanya Cut dengan terbata.


"Iya, Sayang. Kamu hamil!" ucap Ihsan dengan tersenyum.


Saera yang melihat cucunya kembali tersenyum dengan mengelus perut datarnya merasa sedikit lega, ia yakin Cut tidak akan meminta cerai kepada Ihsan karena ia tahu Cut sudah sangat mencintai Ihsan dan tidak akan sanggup kehilangan suami tercintanya.


"Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian berdua. Nenek dan yang lainnya keluar sebentar," ucap Saera dengan sedikit lega.


"Iya, Nek. Terima kasih," ucap Ihsan dengan tersenyum.


"Bicarakan baik-baik pada Cut, San. Hatinya masih belum stabil," ucap Saera dengan tegas.


Ihsan menganggukkan kepalanya. Setelah kepergiaan semua keluarganya Ihsan memandang istrinya yang masih setia mengelus perut ratanya.


"Bunda jangan bersedih lagi. Dedek sudah hadir di perut Bunda," ucap Ihsan yang menirukan suara anak kecil.


Cut terkekeh disertai air mata yang terus mengalir dari kedua pipinya. Ia memeluk Ihsan dengan erat. "A-akhirnya aku hamil, Bang. A-aku bisa menjadi seorang ibu! Mama tidak akan menekan aku untuk hamil lagi hiks...hiks..." ucap Cut tersedu-sedu.


"Iya, Sayang. Jangan menangis dan berpikir macam-macam untuk kita bisa berpisah Sayang karena sampai kapan pun Abang tidak ingin bercerai denganmu. Kamu hanya satu-satunya istri Abang," ucap Ihsan dengan tegas.


Cut mengangguk dengan lirih. Rasanya beban berat yang menimpanya selama ini sudah terangkat dan membuat pundaknya terasa ringan. Allah benar-benar sayang kepadanya di saat Cut sudah berputus asa Allah menghadirkan malaikat kecil di dalam perutnya.


"Terima kasih sudah hadir di perut, Bunda."