Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~ 29 (Zico Yang Arogan)



...Happy reading...


****


Suasana kamar yang benuansa hitam sangat berantakan hanya ada suara erangan dua orang yang sedang melakukan adegan intim. Setelah selesai dan puas Zico melempar segepok uang kepada wanita bayaran untuk memuaskan nafsunya.


"Keluar!" ucap Zico dengan dingin. Sang wanita tersenyum saat menerima uang dalam jumlah yang sangat besar dari rekan ranjangnya tersebut.


"Gue keluar dulu. Kalau lo butuh gue lagi, panggil saja gue. Dengan senang hati gue akan melayani lo sampai puas," ucap wanita itu dengan tersenyum nakal. Zico menatap wanita itu dengan sinis


"Dasar jal*ang. Gue gak akan pakai lo dua kali, bagi gue cukup sekali aja dan gue bakal cari wanita lain," ucap Zico dengan tajam.


"Ya, ya terserah lo. Thanks duitnya," ucap wanita itu setelah memakai pakaiannya dan berlalu pergi dari rumah Zico. Zico mengacak rambutnya frustasi dari sekian banyak wanita yang sudah ia tiduri, dirinya belum mendapatkan kepuasan seperti ia sedang melakukannya dengan Laura. Walau hanya beberapa kali saja ia bercinta dengan Laura rasa tubuh mantan istrinya itu masih bisa Zico rasakan sampai sekarang.


Anne masuk ke kamar adiknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia sudah sangat kesal melihat adiknya selalu membawa wanita ke rumah sang adik. Walau ini adalah rumah Zico sendiri tetapi Anne berhak melarang adiknya yang semakin hari hidupnya semakin tidak ada aturan.


"Kamu bawa wanita lagi ke kamar ini?" tanya Anne dengan nafas yang sudah naik turun ingin memerahi adiknya. Namun, emosinya ia tahan agar tidak meledak begitu saja.


"Iya. Kenapa?" tanya Zico dengan santai.


"Zico, Kakak mohon hentikan semuanya. Kamu punya mama dan kakak perempuan, apa kamu gak berpikir jika kedua orang yang kamu sayangi akan diperlakukan serendah itu seperti apa yang kamu lakukan?" tanya Anne dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tapi buktinya Papa dan Mas Fahmi melakukan mama dan Kakak dengan baik," balas Zico dengan santai. "Kakak gak perlu repot-repot mengurusi hidup gue! Gue tahu apa yang membuat gue bahagia," tutur Zico dengan tajam.


Anne menghampiri adiknya untuk semakin dekat dengan Zico.


Plak...


Satu tamparan mengenai pipi Zico dengan keras. "Kamu sudah keterlaluan Zico! Kamu sudah sangat melukai hati Kakak terutama Laura. Jika papa dan mama tahu mereka pasti kecewa sama kamu, anak yang dididiknya dengan sangat baik menjadi pria tidak punya aturan hidup sama sekali," ucap Anne dengan meninggikan suaranya.


Zico mengusap pipinya, ia menyeringai ke arah sang kakak dengan sangat tajam. "Sudah setahun lebih gue cerai dengan Laura dan semua orang tidak ada yang mengetahuinya kecuali lo. Jadi tutup mulut lo itu, Kak!" ucap Zico dengan tajam.


"APA KAMU GAK PERNAH BERPIKIR BAGAIMANA SUSAHNYA LAURA MENGURUS DIRGA SEORANG DIRI TANPA SOSOK SUAMI!" ucap Anne dengan emosi.


Zico terdiam, ia baru saja ingat jika mempunyai anak dari Laura. "Gue hampir lupa kalau gue sudah punya anak dari Laura. Pasti anak gue tampan seperti gue," ucap Zico dengan tenang.


"Apa yang akan kamu rencanakan?" tanya Anne dengan waspada saat melihat raut wajah tenang dari sang adik yang sangat berbahaya.


"Apa ya? Gue pikirin nanti. Sekarang lo keluar dari kamar gue!" ucap Zico dengan datar.


"Jangan sakiti Laura dan Dirga!" ucap Anne dengan panik.


"Mana mungkin gue menyakiti anak gue sendiri. Tapi sepertinya membawa Dirga hidup bersama gue itu jauh lebih baik dari pada anak gue hidup dengan wanita seperti dia!" ucap Zico dengan menyeringai.


"Dirga lebih baik hidup dengan Laura daripada ayahnya yang tidak mempunyai aturan hidup. Jangan dekati Laura maupun Dirga, jika itu terjadi awas saja kamu!" ucap Anne dengan tajam. Ia melangkah keluar dari kamar adiknya dengan emosi, menutup pintu kamar Zico dengan keras.


"Bren*sek!" umpat Zico mengepalkan tangannya.


Dirga? Ah... Zico hampir lupa jika dirinya mempunyai anak jika Anne tidak mengatakannya tadi, ia mengusap dagunya untuk berpikir sejenak. Wajahnya menyeringai kala membayangkan ketakutan Laura.


"Lihat saja nanti," gumam Zico dengan menyeringai.


****


Malam harinya di rumah Laura. Wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya dengan Dirga yang di pelukannya. Leon masuk ke kamar Laura dengan perlahan, lelaki itu memang belum kembali ke singapura dan baru esok pagi ia akan kembali. Ia mengelus rambut Laura dengan lembut, tangannya menyusuri wajah Laura dengan perlahan.


"Cantik," gumam Leon dengan lirih. Laura merasakan sentuhan di wajahnya, ia mencoba membuka matanya yang sangat terasa berat.


"P-pak Leon," gumam Laura dengan lirih.


Leon tersenyum ke arah Laura, ia merangkak menaiki tubuh Laura dengan perlahan. "Ssttt.. Awas Dirga bangun!" ucap Leon dengan lirih. Laura mengangguk perlahan, ia antara sadar atau tidak dengan kedatangan Leon ke kamarnya.


"Saya kangen!" bisik Leon dengan lembut di telinga Laura.


"Saya juga," gumam Laura tanpa sadar karena matanya masih sangat terasa berat. Semua seperti mimpi baginya karena mana mungkin Leon berada di Indonesia dan sudah ada di rumahnya, sehingga Laura dengan gampangnya mengucapkan kata rindu untuk Leon.


Leon menyeringai menatap Laura yang terlihat pasrah. "Saya ingin menyatu denganmu kembali," ucap Leon dengan lirih. Laura hanya pasrah saat Leon melepaskan celana dal*mnya begitu saja dan melebarkan pahanya. Laura melenguh saat merasakan sesuatu masuk ke miliknya, matanya masih terpejam dengan sangat indah saat Leon bergerak di atasnya dengan perlahan. Tangan Laura meremas bantal dengan kuat, mimpi yang ia rasakan seperti nyata. Seperti Leon setahun yang lalu saat menjamah tubuhnya dengan lembut. Tubuh Laura bergetar dengan hebat saat merasakan Leon bergerak semakin kencang. Leon ambruk di tubuh Laura, dengan tersenyum. Untung saja ia sudah memakai pengaman untuk tidak membuat Laura hamil terlebih dahulu. Laura bergerak gelisah, matanya ingin terbuka kembali namun Laura tidak sanggup membukannya. Mimpinya seakan berlanjut saat ada Leon memainkan kedua dadanya dengan gemas.


"Tidurlah Sayang. Saya akan menemanimu sampai pagi. Setelah itu saya akan pergi kembali dan kita akan bertemu tanpa untuk berpisah lagi," gumam Leon membawa Laura kepelukannya. Laura membalas pelukannya dengan erat bahkan wanita itu menggerakkan bibirnya di leher Leon membuat lelaki itu mengerang karena Laura saat ini menjadi lebih agresif.


Pagi harinya Laura membuka matanya dengan lelah. Ia menatap ke arah tubuhnya yang masih rapi seperti semalam. Lalu kenapa mimpi itu seperti nyata? Bahkan ia dapat merasakan dekapan Leon saat ia tertidur jangan lupakan bagaimana Leon menjamahnya. Ahhh mimpi sialan! Pipi Laura bersemu merah dan memanas, bisa-bisanya ia bermimpi bercinta dengan Leon. Laura mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa aku lelah sekali? Bahkan milikku terasa perih? Kenapa mimpi itu seperti nyata? Aku benar-benar sudah gila!" tutur Laura dengan menghela nafasnya kasar. Hari ini Laura libur maka dirinya bisa menemani Dirga seharian penuh tetapi badannya sangat terasa remuk sekali bahkan bayangan mimpi itu jelas sekali di pikirannya membuat Laura menggigit bibirnya.


"Sstt... Perih sekali," gumam Laura saat dirinya hendak bangun.


"Mimpi yang gila!" ucap Laura mengepalkan tangannya dengan kesal.


****


Cie yang kangen sama om Leon dan juga Laura.


Mana suaranya nih?


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyak nya ya!