
...Happy reading...
*****
Suasana semakin terlihat tegang saat dokter tersebut ingin berbicara. Rama juga merasakan tangannya juga semakin dingin jangan ditanya Kirana yang semakin menunduk takut saat Ryan menatapnya dengan mengimidasi.
Dokter tersebut membuka maskernya sebelum berbicara. "Pasien mengalami keguguran. Janin yang di kandungnya tidak bisa diselamatkan, saya sudah tekankan dari awal jika pasien jangan banyak pikiran yang membuatnya stres, tetapi stres bukan penyebab utama keguguran pada ibu Ika. Benturan yang sangat keraslah yang membuat ibu Ika keguguran," jelas Dokter yang menangani Ika.
Jeder...
Bagaikan disambar petir tubuh Rama ambruk di lantai sedangkan Leon menatap dokter dengan tidak percaya. "Keguguran? Bagaimana mungkin adik saya keguguran jika dia saja belum menikah, Dok?" tanya Leon dengan tajam bahkan ia menarik kerah baju dokter dengan kuat.
"Saya tidak berbohong, Pak. Ibu Ika hamil dan usia kandungannya sudah 5 minggu," ucap Dokter tersebut dengan mantap.
Leon melepaskan cengkraman tangannya pada baju dokter tersebut, lalu ia menatap nyalang Rama yang terlihat meneteskan air mata. "Bisa kau jelaskan semuanya? Sepertinya kamu mengetahui semuanya!" ucap Leon dengan tajam.
"BANGUN! JANGAN DIAM SAJA!" bentak Leon yang membuat Rama memberanikan diri menatap bos besarnya. Kirana yang hendak mundur menjauh langsung dipegang oleh Ryan dengan kuat, ia yakin gadis yang berada di depannya ini juga terlibat.
"I-ika mengandung anak saya, Pak. Tapi saya baru mengetahui saat Ika pendarahan tadi. Tolong ampuni saya, Pak! Saya mencintai Ika, saya ingin menebus semua kesalahan saya!" ucap Rama dengan bergetar. Ia baru saja mengetahui jika Ika sedang hamil anaknya, tentu dibalik ketakutannya tadi Rama bahagia karena ada alasan ia untuk menikah dengan Ika, yaitu anak mereka. Dan baru saja ia mengetahui kebenarannya, ucapan dokter kembali memghempaskannya hingga membentuk luka di hatinya. Jika dia saja se-sakit ini, bagaimana dengan Ika sekarang? Rama tidak bisa membayangkan apa reaksi Ika saat mengetahui dirinya keguguran.
Buk...
Buk...
"Akang!" teriak Kirana dengan takut saat Leon menghajar Rama tanpa ampun. Rama hanya pasrah saat mendapatkan kemarahan dari Leon, mungkin ini sesuatu yang harus ia bayar karena sudah melukai Ika.
"Bagaimana bisa kalian menyembunyikan hal besar ini dari saya dan keluarga saya, hah?" teriak Leon penuh amarah.
"Leon, ada apa ini?" tanya Leo dengan tajam saat melihat anaknya begitu marah dengan Rama, orang yang selama ini Leon percaya.
"Tanyakan saja pada, Rama!" ucap Leon dengan dingin.
"Bangun jika kamu bukan lelaki pengecut!" ucap Leon dengan dingin.
Rama terbatuk, dan berusaha bangun tetapi semua badannya terasa sakit karena pukulan Leon. Dengan tertatih ia mendekat ke arah Leo dan Saera.
"Pak, Ibu. Maafkan kesalahan saya, saya telah melukai Ika terlalu dalam bahkan saat dia hamil anak saya, saya tidak mengetahui. I-ika keguguran, saya bukan lelaki yang baik tetapi saya mohon restui saya bersama dengan Ika, saya ingin memperbaiki semuanya," ucap Rama berlutut di kaki kedua orang tua Ika.
Buk...
Buk...
"Jika kamu mencintai anak saya. Mengapa harus menyakitinya, hah?" teriak Leo dengan amarah yang memuncak.
"Maafkan saya, Pak! Saya emang lelaki pengecut yang tidak berani menemui Bapak dan Ibu untuk meminta Ika dengan serius. Saya terus menyakitinya dengan berbohong jika saya masih single, sejujurnya saya sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi kami akan menikah. Namun, rasa cinta saya kepada Ika sangat besar, Pak. Saya ingin menikah dengan Ika dan membatalkan pernikahan saya dengan tunangam saya tetapi tunangan saya tidak terima dan mendorong Ika hingga akhirnya Ika keguguran," ucap Rama dengan lirih ia menangis membayangkan Ika yang merasakan sakit di dalam.
"Bunda!" teriak semua yang berada di sana saat melihat Saera pingsan. Leon langsung menggendong bundanya.
"Suster tolong ibu saya!" ucap Leon dengan panik. Suster tersebut memandu Leon untuk membawa Saera ke ruangan perawatan.
"Sayang, Kak Ulan, Ica. Tolong temani Bunda," ucap Leon dengan cemas. Mereka yang terdiam dan menangis tanpa suara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Setelah dipastikan sang bunda akan aman, Leon kembali ke tempatnya semula. Ia melihat sang ayah yang begitu murka kepada Rama hingga wajah Rama penuh dengan lebam karena pukulan Leo.
"Ryan periksa CCTV restoran!" ucap Leon dengan tegas. Ryan langsung mengangguk dengan tegas, ia mengambil ponselnya dan melihat CCTV yang sudah terhubung dengan ponselnya. Semua orang melihat di CCTV itu jika Rama, Ika, dan Kirana yang mereka yakini adalah tunangan Rama sedang berbicara. Mereka melihat Rama mengatakan jika mencintai Ika dan memutuskan hubungannya dengan Kirana, di situlah Kirana mendorong Ika dengan keras, Ika mencoba melawan tetapi Kirana kembali mendorong Ika dan membuat Ika memekik kesakitan.
Semua melihat tajam ke arah kirana membuat gadis itu mundur kebelakang karena takut akan tatapan mereka. "Kau, gadis pembunuh!" ucap Leon dengan nyalang membuat Kirana semakin ingin menangis.
Semua orang yang berada di sana tidak berani mencegah Leon. Kemarahan Leon adalah kemarahan mereka juga. Alan, Ryan, Elang hanya bisa menenangkan Leo yang seperti kesakitan memegang dadanya.
"A-aku tidak sengaja. Dia yang sudah merebut calon suamiku! Ika hanya wakil manager dan akang Rama manager. Kenapa kalian memperlakuan akang Rama seperti itu? Kalian yang tidak punya tata krama. Seharusnya kalian menghormati akang Rama karena dia pemilik restoran itu, kan?!" ucap Kirana dengan memberanikan diri. Nada bicaranya juga angkuh dan sombong membuat Leon semakin terlihat marah.
"Tidak sengaja kau bilang? Wanita angkuh sepertimu sepertinya harus diberi pelajaran. Kamu tahu siapa saya? Saya adalah pemilik restoran itu! Rama hanya saya pungut agar tidak kelaparan di jalanan, tetapi apa yang dia perbuat dia telah menyakiti adik saya begitu dalam. Perbuatanmu juga tidak bisa dibenarkan! Sepertinya kau mempermainkan kesabaran saya gadis angkuh. Baiklah biar saya pertegas sekali lagi...." dada Leon naik turun menatap tajam ke arah Kirana yang tidak tahu diri.
"Rama hanya seonggok daging yang saya pungut dari jalanan agar tidak kelaparan. Saya membantunya karena dia adalah lelaki pekerja keras, dan dia sudah membuat saya kecewa," ucap Leon dengan tajam.
Kirana merasa takut dan malu dengan apa yang Leon katakan. Kirana yang tak tahu apa-apa hanya bisa berkata sombong yang ternyata memalukan dirinya sendiri.
"Mulai detik ini Rama saya pecat!" ucap Leon dengan dingin. Rama hanya bisa pasrah saat dirinya dipecat, ia tidak punya kekuatan untuk berbicara kepada Leon.
"Dan kamu..." tunjuk Leon ke arah Kirana yang sedang menangis. "Bersiaplah merasakan dinginnya lantai jeruji besi!"
Ucapan Leon membuat kaki Kirana lemas. Dia akan di penjara?
Tidak mungkin!
****
Aduh kacian Kirana. Sudah jatuh ketiban tangga lagi🤭🤭
Greget?
Emosi?
Ramein gak nih?
Kalau Rame besok pagi bakal update!
Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya.