Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~30 (Dia Anakku)



...Happy reading...


****


Hari ini Laura membawa Dirga jalan-jalan, kesempatan libur Laura lakukan untuk mengajak anaknya bermain di dunia luar agar Dirga bisa berinteraksi dengan lingkungannya, tidak hanya di rumah anaknya itu harus bisa berinteraksi di luar. Laura mengikuti Dirga yang berjalan ke sana ke sini, bahkan anak itu memakan apa saja yang ia temukan membuat Laura berteriak karena sering kali Dirga mengambil daun kecil atau batu kerikil dan dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil.


"Dirga itu bukan makanan, Sayang!" ucap Laura dengan panik saat tangannya mengambil batu kerikil yang berada di dalam mulut anaknya. Dirga memberontak saat tangan sang bunda mengambil baru kerikil yang berada di dalam mulutnya yang ia pikir adalah makanan enak.


"Huaaa.. Nda Mam," ucap Dirga berteriak.


"Kita makan roti ya, Sayang. Ini roti Dirga, yang tadi itu bukan makanan, Sayang!" ucap Laura dengan lembut. Dirga mengambil roti yang diberikan Laura dengan senang hati, anak itu tampak bahagia saat menggigit roti itu dengan gigi kecilnya yang baru saja tumbuh. Dirga duduk di rumput bersama dengan Laura mereka bernyanyi bersama dengan Dirga yang bertepuk tangan antuasias hingga roti yang berada di tangannya hancur dan wajahnya belepotan penuh dengan remahan roti yang ia makan.


"Ya ampun wajah kamu, Nak," ucap Laura dengan terkekeh. Ia membersihkan wajah anaknya dengan tisu basah yang ia bawa. Dirga tampak menurut saja asal di tangannya masih ada makanan.


"Nda, mik," ucap Dirga meminta minum dan menunjukkan ke arah dada Laura.


"Pakai botol aja ya, Nak. Bunda udah bawa," ucap Laura yang memberikan botol susu berisikan asi miliknya karena ini di luar Laura tidak mungkin menyusui Dirga. Dirga menerimanya dengan senang hati membuat Laura gemas dan mengelus kepala Dirga dengan sayang.


"Laura!" panggil seseoramg dengan suara beratnya membuat Laura tersentak dan langsung menggendong Dirga. Wajahnya pias saat melihat Zico mendekat ke arahnya. Kenapa lelaki itu bisa berada di sini? Laura benar-benar takut jika Zico akan mencelakai anaknya.


"Ternyata kita bertemu di sini. Apa ini anakku?" tanya Zico dengan menyeringai membuat Dirga langsung membuang botol susunya begitu saja dan memeluk leher Laura dengan kencang.


"Puyang nda... Dilga atut," ucap Dirga dengan bergetar. Anak itu langsung menangis hebat saat Zico memegang tangannya.


"Jangan sentuh anakku!" ucap Laura tajam dengan menepis tangan Zico.


"Dia juga anakku!" ucap Zico dengan dingin. "Sini Dirga sama Ayah!" ucap Zico berusaha mengambil Dirga dari gendongan Laura.


"Ndak au! Om celem!" teriak Dirga dengan kencang. Kakinya menendang-nendang agar Zico tidak menggendongnya.


Zico menggertakkan giginya dengan keras saat Dirga dengan terang-terangan menolak gendongannya. "Jangan melawan Ayah, Dirga!" bentak Zico membuat Dirga semakin menangis kencang.


"Dirga tidak mau denganmu! Jangan pernah sentuh anakku sekalipun kamu ayah kandungnya!" ucap Laura dengan tajam membangkitkan kemarahan Zico.


"Dia anakku dan aku akan membawanya pergi!" ucap Zico dengan tajam.


"Pergi dari sini atau aku berteriak jika kamu akan menculik anakku!" ucap Laura dengan memeluk Dirga erat. Tangisan Dirga mengundang semua orang untuk melihat ke arah mereka membuat Zico mengumpat kepada Laura.


"Aku akan membawa Dirga pergi, ingat itu! Awas saja kamu!" ucap Zico dengan tajam berbisik ke arah Laura setelah itu lelaki itu pergi begitu saja. Laura membuang nafas dengan lega bersamaan dengan tangis Dirga yang mulai mereda.


"Kita pulang!" ucap Laura dengan bibir bergetar memahan tangis.


"Puyang!" ucap Dirga sesugukan. Ia memeluk Laura dengan sangat erat, walau dirinya tidak mengerti apa yang dibicarakan sang bunda dengan orang asing yang menurutnya sangat seram tadi tetapi Dirga dapat merasakan ketakutan yang luar biasa hingga anak itu menangis dengan hebat. Dirga takut lelaki itu akan menggendongnya.


Laura benar-benar takut sekarang jika Zico akan mengambil Dirga darinya. Hatinya sangat tidak tenang saat ini, bahkan di perjalanan pulang ia menoleh ke kanan dan ke kiri bahkan ke arah belakang memastikan Zico tidak mengikutinya. Andai saja Leon ada di sini pasti lelaki itu akan menolongnya seperti dulu. Kenapa di saat seperti ini ia mengingat Leon? Ada apa dengan pikiran dan hatinya?


*****


"Shit!" Leon memukul meja dengan keras setelah mengumpat. Ia baru saja melihat komputer yang sudah terhubung dengan CCTV yang berada di kalung Laura, kesibukkannya setelah sampai di Singapura membuat Leon hampir saja melupakan untuk mengecek keadaan Laura. Dan benar saja Leon dibuat marah karena Zico telah membuat Laura dan Dirga ketakutan luar biasa karena ulah lelaki itu.


"Kenapa lo? Seperti orang kesetanan," umpat Ryan dengan kesal pasanya lelaki itu sedang bersama dengan Ica. Leon selalu saja mengganggu kemesraan dirinya dengan Ica.


"Lakukan saja apa yang gue perintahkan, Ryan!" ucap Leon dengan tajam. "Dan satu lagi awas saja jika adik gue hamil di luar nikah!" ucap Leon saat mendengar suara desahan adiknya.


"Makanya izinin gue nikah duluan!" ucap Ryan dengan sinis.


"Tunggu gue pulang!" jawab Leon dengan kesal membuat Ryan terkekeh yang terdengar oleh Leon. "Jangan lupa tugas lo!" lanjut Leon setelah itu dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Leon memijit kepalanya yang terasa berdenyut, Ica sudah terpengaruh kemesuman Ryan membuat Leon harus memperingati Ryan. Tetapi apa kabar dengan dirinya yang sudah menodai Laura?


Ah.. Secepatnya ia ingin pulang dan menikahi Laura! Setuju atau tidaknya Leon akan tetap menikahi Laura!


Sedangkan Ryan, pria itu langsung membuang ponselnya begitu saja setelah Leon mematikan teleponnya. Setelah itu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan Leon kepadanya.


"Ica malu!" gumam Ica yang berada di pangkuan Ryan saat Leon mendengar suara desahannya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Leon hanya iri dengan hubungan kita karena sejak lahir itu anak masih jomblo sampai sekarang," ucap Ryan dengan terkekeh.


"Tapi..."


"Ica mau menikah dengan Mas, kan?" tanya Ryan dengan menatap wajah Ica dengan dalam.


"Mau!" jawab Ica dengan cepat. Ryan benar-benar mencintai Ica. Ica yang polos, ica yang selalu nurut, Ica yang sangat manja, bahkan Ica sangat lemot dalam berpikir membuat Ryan gemas, membuat Ryan mengambil kesempatan dalam kepolosan Ica walau jika Leon dan Saera mengetahuinya pasti dirinya akan dimarahi habis-habisan.


"Kalau gitu Ica harus nurut sama Mas. Kita buat anak dulu biar Leon mengizinkan kita menikah," ucap Ryan dengan lembut.


"Buatnya Ica mau karena kata Ika rasanya enak tapi kalau hamilnya Ica gak mau, itu sakit Mas!" ucap Ica dengan polos.


Astaga! Ryan benar-benar ingin meledakkan tawanya tetapi ia tidak mungkin tertawa di saat mereka sedang berdua begini apalagi Ica yang berada di pangkuannya, bisa-bisa adik kecilnya terbangun dalam tidurnya.


"Mas karungin kamu lama-lama, ca! Bereskan pakaianmu ayo kita makan di luar," ucap Ryan menurunkan Ica dalam pangkuannya.


"Kita gak jadi buat anak, Mas?" tanya Ica dengan raut wajah bingung.


"Gimana mau buat anak, kamu gak mau hamil. Masa Mas yang hamil," ucap Ryan dengan mengacak rambut Ica dengan gemas.


Ica mengerucutkan bibirnya. "Dasar Kang PHP!" gerutu Ica membuat Ryan meledakkan tawanya.


"Astaga, Ca! Kamu itu ya," gemas Ryan ingin sekali menggigit pipi Ica yang terlihat lucu. Ryan tidak mungkin melakukannya saat ini, dia tidak segila Leon tetapi jika khilaf nantinya Ryan tidak tahu karena Ica begitu menggemaskan baginya.


****


Duo sahabat sama-sama mesum nih.


Kasihan Laura! Om Leon ayo dong cepat pulang!


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!