Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~11 (Ada Yang Berbeda)



...Yey update lagi nih. Seperti biasa kalau rame bakal up lagi siang. Jangan lupa ramein ya guys! ...


...Happy reading...


***


Cut mengaduk jus jambunya, ia masih terbayang ketika Ihsan melamarnya kemarin. Ada perasaan bimbang yang mendera hatinya saat ini, dua nama lelaki saat ini berputar di pikirannya Ihsan dan Dio. Ihsan adalah lelaki yang mencintainya bahkan sudah melamarnya sedangkan Dio adalah lelaki yang ia cintai tetapi sangat dingin kepadanya. Cut harus bagaimana? Ia sangat bingung sekarang!


"Tumben melamun?" tanya Bryan menghampiri Cut yang sedang duduk di kantin rumah sakit sendirian.


"Eh, Dokter Bryan. Cuma memikirkan tugas saja," ucap Cut dengan pelan.


Bryan tersenyum. Ia menyukai Cut tetapi Tuhan mereka berbeda, maka Bryan tidak bisa memaksa cintanya karena ia dan Cut sama-sama taat dengan perintah Tuhan mereka masing-masing, biarlah cinta Bryan terhalang oleh keyakinan yang berbeda dan menguburnya dengan perlahan.


"Ngomong-ngomong apa benar Dokter sudah bertunangan?" tanya Cut dengan basa-basi.


Bryan mengangguk dengan lirih. "Ya benar. Dia adalah anak dari sahabat papa dan kami dijodohkan," ucap Bryan dengan jujur.


Cut tersenyum. "Selamat ya, Dok!" ucap Cut memberi selamat.


Bryan merasa nyeri pada hatinya. Yang ia bisa lakukan hanya tersenyum samar. "Ya. Terima kasih, Meisya," ucap Bryan dengan lirih.


Dio berjalan mendekat ke arah Bryan dan Cut karena ia merasa ada yang berbeda dengan Cut, gadis itu tidak memberikan bekal seperti biasa. Ada apa dengan Cut? Ia menjadi penasaran sekarang.


"Dio!" panggil Bryan membuat Dio tersenyum canggung dan duduk di sebelah Bryan.


Cut memandang Dio dengan sekilas. Lalu kembali mengaduk jusnya dengan tak berselera. Lalu ia melihat jam tangannya. "Dokter Bryan, Dokter Dio. Saya permisi dulu untuk kembali ke kampus karena ada jam tambahan hari ini," ucap Cut dengan ramah.


"Assalamualaikum," salam Cut.


"Wa'alaikumussalam," jawab Dio sedangkan Bryan hanya mengangguk tersenyum.


Dio memandang kepergian Cut dengan pandangan yang sulit diartikan setelah itu ia menghela napas dengan berat. Untuk menghilangkan kegundahan hatinya Dio langsung mengambil jus jambu milik Cut tanpa sadar langsung meminumnya hingga tandas.


"Dokter Dio jus itu milik Meisya!" ucap Bryan dengan terkejut.


"Uhuk...uhuk... A-aku sangat haus hingga tak sadar meminumnya," ucap Dio memberikan alasan dengan wajah memerah dengan menahan malu bahkan wajahnya terasa memanas.


Bryan mengusap wajahnya dengan kasar, rasa cemburunya tiba-tiba mendera hatinya karena tak secara langsung Dio dan Cut berciuman. Ah...mencintai tanpa bisa memiliki rupanya sangat menyakitkan sekali.


"Untung saja Meisya sudah pergi," gumam Bryan dengan lirih. Dio mengangguk membenarkan, jika Cut masih berada di sini Dio merasa semakin malu dengan gadis itu. Tetapi perubahan sikap Cut hari inilah yang membuat Dio seperti ini.


****


Cut memandang Ihsan yang masih menjelaskan di depan. Lelaki itu sangat berwibawa sekali dan Cut akui Ihsan sangat tampan dan lebih tampan dari Dio. Hari ini Cut terlihat tidak fokus dengan perkuliahannya. pikirannya terpecah belah hingga ia tersadar jika hari ini ia belum memberikan bekal untuk Dio. Kenapa dirinya bisa lupa sih? Ah rasa bimbang membuat Cut jadi gadis pelupa sekarang. Dengan gerakan lambat Cut mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Dio untuk meminta maaf karena dirinya benar-benar lupa memberikan bekal seperti biasa.


'Bang Dio, maafkan Cut yang hari ini tidak memberikan bekal seperti biasa. Cut benar-benar lupa🥺.' Cut mengirimkan pesan dengan emot sedih. Setelah selesai Cut langsung memasukkan ponselnya kembali dan fokus kembali menatap Ihsan yang sedang menjelaskan di depan.


Tanpa Cut sadari mata mereka saling memandang satu sama lain. Ihsan tersenyum tipis membuat Cut menjadi salah tingkah karena senyuman manis Ihsan yang mampu menggetarkan hatinya.


"Ada apa denganku?" gumam Cut frustasi. "Ya Tuhan senyuman itu sangat manis sekali bahkan kedua lesung pipinya terlihat menggoda," ucap Cut di dalam hatinya mengagumi ketampan dosennya yang sudah melamarnya kemarin.


Apakah hatinya mulai berpindah haluan?