Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~82 (Foto di dalam Gudang)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


*****


Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat usia kandungan Cut sudah menginjak 7 bulan. Cut tampak bahagia karena Dio selalu memanjakannya apalagi orang tua, nenek, mertuanya selalu memanjakannya tak lupa adik-adiknya serta keluarganya yang lain. Cut dijadikan ratu oleh keluarganya teruma dengan Dio suaminya bahkan selama hamil Cut tak mengidamkan apapun proses itu hanya di rasakan oleh Dio sebagai seorang suami dan calon ayah yang sangat baik.


Mashita juga semakin lengket dengan Dio bahkan wajahnya juga hampir mirip dengan Dio, banyak yang tak menyangka jika Mashita akan mirip dengan ayah sambungnya. Brnar kata orang jika sejak kecil diasuh olehorang lain maka anak itu akan mirip dengan yang mengasuhnya. Masih ingatkan bagaimana Dirga sangat mirip dengan Leon dari pada Zico? Nah ini juga terjadi pada Mashita, perubahan itu sangat terlihat jelas yang membuat Sultan dan Ika hanya bisa bersyukur karena Dio sangat menyayangi cucu dan anaknya.


Di usia kandungan Cut yang ke 7 bulan perut Cut sudah sangat membesar seperti usia kandungan 9 bulan karena Cut mengandung bayi kembar.


Pagi harinya seperti rutinitas biasanya. Dio dan Cut bekerja sedangkan Mashita sudah mereka masukkan paud semenjak 5 bulan terakhir ini karena Mashita cepat sekali menyerap informasi yang Dio maupun Cut ajarkan.


"Hati-hati, Sayang!" ucap Dio saat membantu Cut keluar dari dalam mobil.


"Iya, Bang!" jawab Cut dengan tersenyum.


Dio menggandeng tangan Cut erat. Mereka berjalan beriringan masuk ke rumah sakit. "Hari ini kamu harus mengajukan cuti ya, Sayang. Lihat perut kamu sudah membesar dan Abang sesak lihat kamu jalan kesusahan begini," ucap Dio dengan lembut.


"Aku bosan di rumah," rengek Cut dengan manja.


"Kamu bisa membaca novel atau melakukan apa saja di rumah asal gak melakukan pekerjaan yang berat-berat Abang memperbolehkan kamu, Sayang. Biar kamu gak bosan, atau kamu mau memelihara ikan koi di halaman rumah nanti Abang buatkan," ucap Dio dengan lembut.


Cut tampak berpikir. "Belikan Cut tanaman bunga mawar dan yang lainnya asal berbunga sangat cantik, ikan koi juga asyik Cut juga mau," ucap Cut antuasi yang membuat Dio tersenyum bahagia.


"Siap ibu negara!" kekeh Dio yang membuat Cut malu karena suara Dio sedikit keras dan mengundang orang lewat untuk melihat ke arah mereka.


"Abang, aku malu! Cut kerja dan abang juga kerja sana!" ucap Cut dengan pipi yang memerah. Semenjak hamil Cut suka sekali di puji oleh Dio, sedikit saja suaminya itu berkata manis maka reaksi Cut akan selalu seperti ini dengan jantung yang berdetak sangat kuat.


Dio terkekeh. Betapa ia sangat suka melihat Cut malu-malu seperti ini apalagi Cut sangat terlihat cantik semenjak hamil. Rasanya Dio tak ingin berjauhan dengan istrinya.


*****


Sore harinya. Cut sudah berada di rumah karena memang Cut sudah mengajukan cuti dengan kepala rumah sakit, itu juga tanpa sepengatahuan Cut, Dio yang mengatur semuanya berbicara dengan kepala rumah sakit secara pribadi agar sang istri secepatnya bisa cuti.


Ada dua pembantu yang di sewa Dio untuk melakukan pekerjaan rumah agar sang istri tak lagi melakukan pekerjaan rumah yang sangat melelahkan.


Cut sedang bermain dengan Mashita di ruang keluarga. Mengajak anaknya bermain dan bercanda karena selama ini Cut merasa Mashita lebih dekat dengan Dio bahkan sering kali Cut melihat Mashita sudah tertidur di atas dada suaminya tentu saja dengan Dio yang ikut memejamkan mata. Hal itu membuat Cut iri kepada Mashita yang sangat manja kepada Dio bahkan semua kemauan Mashita, Dio belikan tanpa tunggu waktu besok harinya. Sesayang itu Dio kepada anak sambungnya.


"Sayang, bentar ya Bunda haus! Bunda ke dapur dulu ya," ucap Mashita kepada anaknya.


Mashita yang asyik bermain langsung menatap ke arah bundanya. "Iya, Bunda. Shita mau tunggu ayah pulang di sini," ucap Mashita dengan tersenyum.


Cut membalas senyuman Mashita. "Tunggu sebentar ya!" ucap Cut yang mencoba untuk bangun dari duduknya. Berdiri saja sangat susah, ia harus mencari pegangan untuk bisa bangun. Nikmat sekali rasanya saat hamil anak kembar.


"Iya, Bunda!"


Cut berjalan ke arah dapur tetapi tiba-tiba matanya menuju ke arah gudang. Hati kecilnya merasa penasaran sebab Dio melarang dirinya masuk dengan alasan banyak debu bahkan bisa saja kecoak dan tikus bersalarang di sana. Tetapi entah mengapa saat ini Cut merasa penasaran, ia mencari kunci cadangan yang ada di lemari kecil sebelahnya, setelah dapat Cut mencoba membuka pintu gudang tersebut. Dan berhasil, sekarang pintu itu sudah terbuka, Cut mencoba masuk mencari sesuatu yang mungkin saja masih bagus dan bisa ia gunakan atau dipajang di rumahnya hingga ia penasaran dengan kain hitam penutup barang, Cut mencoba membuka kain tersebut.


Deg...


Jantung Cut berdetak tak karuan mengambil bingkai foto itu dengan tangan gemetar.


Prank...


Dengan tangan gemetar Cut tak sengaja menjatuhkan bingkai foto Ihsan yang ia lihat. Kepalanya menjadi sangat pusing hingga Cut menemukan foto pernikahan seorang lelaki dengan perempuan yang sangat mirip dengannya.


"D-dia siapa?"