
...Happy reading...
****
"DIRGA, DIAM!" bentak Zico saat melihat sang anak terus menangis tanpa henti sampai mata Dirga bengkak.
"Om jayat! Dilga au nda ma yah!" teriak Dirga dengan kencang. Suara anak itu sudah serak karena terus dipaksa menangis. Dirga benar-benar tidak suka berada di tempat ini, rumah ini sangat seram baginya walaupun tampak sangat mewah tidak seperti rumahnya.
"Kamu ngomong apa? Ayah sama sekali tidak mengerti! Sekarang kamu tinggal bersama Ayah. Dirga tidak akan bertemu dengan bunda lagi!" ucap Zico dengan datar.
"Hiks... Hiks... Dilga ndak au tinggal cama om jayat!" teriak Dirga dengan kencang.
"Kamu bisa diam gak? Mau ayah pukul kamu?" tanya Zico dengan tajam membuat Dirga berusaha menghentikan tangisannya walau ia masih sesugukan menatap Zico dengan takut. Mata Dirga sudah bengkak dan terasa perih tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir karena ia sangat ingin pulang bertemu dengan bunda dan ayahnya.
"Dilga au puyang!" ucap Dirga dengan tegas.
"Rumah Dirga di sini. Dirga akan tinggal bersama Ayah!" ucap Zico yang berusaha lembut kepada sang anak.
"Om bukan ayah Dilga! Dilga ndak au punya ayah om jayat. Ayah dilga, ayah Leon!" ucap Dirga dengan lantang membuat Zico melotot tajam ke arah anaknya.
"SIAPA AYAH KAMU, DIRGA? KATAKAN SEKALI LAGI PADA AYAH!" bentak Zico dengan tajam mengguncang lengan kecil Dirga hingga anak itu meringis kesakitan.
"ZICO!" teriak Anne dengan keras saat melihat Zico membentak anak kecil yang ternyata adalah Dirga.
"Ante Anne!" teriak Dirga dengan keras dan langsung berlari ke arah Anne. Memeluk wanita itu dengan erat.
"Olongin Dilga. Dilga diculik cama om jayat! Dilga au puyang! Hiks...hiks," ucap Dirga memeluk kali Anne dengan erat.
Anne langsung menggendong keponakannya dengan erat. "Dirga aman sama Tante, Nak!" ucap Anne dengan lembut membuat Dirga mengangguk dan memeluk Anne dengan erat tidak mau dilepaskan.
"Kakak ngapain ke sini?" tanya Zico dengan tajam.
"Emangnya kenapa kalau Kakak berkunjung ke rumahmu? Ini yang kamu lakukan kepada anak kandungmu sendiri, Zico? Kamu membawanya dengan paksa?" ucap Anne dengan murka.
"Sudah seharusnya Dirga tinggal bersamaku! Bukan bersama dengan Laura di rumah kecil dan panas seperti itu! Jika saja Laura mau rujuk denganku, aku tidak akan membawa Dirga dengan paksa!" ucap Zico dengan tenang.
"Tidak seharusnya kamu seperti ini dengan Dirga. Pikirkan lagi mentalnya jika berhadapan dengan kamu yang sangat keras!" ucap Anne yamg memang sangat mengerti tentang anak karena dirinya seorang dokter anak.
"Aku berhak atas Dirga, Kak! Kakak tidak usah ikut campur dengan masalahku. Minggu depan aku dan Laura akan bertemu di pengadilan. Aku akan melakukan segala cara agar hak asuh Dirga jatuh di tanganku!" ucap Zico dengan datar.
"TIDAK SEMUDAH ITU, ZICO!"
"Ayah!"
Leon menatap Zico penuh amarah tangannya terkepal dengan sangat erat. Tatapannya begitu sinis ke arah Zico. Butuh perjuangan ia sampai ke rumah Zico, Leon pernah beberapa kali datang ke rumah Zico membuat lelaki itu sedikit hafal letak-letak ruangan di dalam rumah Zico.
Leon melangkah maju mendekati Zico. Zico tersenyum sinis ke arah Leon. "Ternyata kalian mempunyai hubungan gelap di belakangku hingga anakku sendiri saja menganggap jika kamu adalah ayahnya," ucap Zico dengan sinis.
Tatapan Leon begitu menilai Zico, senyumnya begitu mengejek ke arah Zico. "Saya memang pantas menjadi ayah Dirga bahkan suami Laura. Dari pada lelaki brengsek seperti kamu yang hanya menyakiti wanita. Oo iya saya pernah melihat kamu tidur bersama dengan perempuan bernama Fika dan perempuan itu adalah kakak dari Mentari, istri dari Elang, keponakan saya. Dan dari hasil hubungan kalian membuat Fika mengandung tetapi perempuan itu sukses menggugurkan kandungannya hingga beberapa kali. Kamu begitu hebat ternyata Zico! Hebat dalam membuat para wanita hancur! Seperti mantan istrimu!" ucap Leon dengan tajam membuat Zico mematung. Bagaimana Leon bisa tahu hubungannya dengan jal*ng murahan seperti Fika? Bahkan, dengan sadisnya ia yang menemani Fika menggugurkan kandungannya.
"DAN KAMU HAMPIR SAJA SUKSES MEMBUAT CALON ANAK SAYA TIDAK BISA DISELAMATKAN!" ucap Leon penuh amarah.
Bukk...
Bukk...
Leon tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia sangat murka ketika mengingat jika Laura hampir keguguran karena ulah Zico. Zico mencoba melawan bahkan lelaki itu itu berhasil memukul wajah Leon hingga sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.
"Ayah. Hiks...hiks."
Dirga meraung ingin bersama dengan Leon. Ia merasa sakit ketika melihat sang ayah dipukuli oleh Zico hingga anak itu kembali menangis, tetapi dengan cepat Anne membawa Dirga keluar, ia tidak mau Dirga melihat kekacauan antara ayah kandung dan calon ayah sambungnya.
"Bren*sek!" umpat Zico saat Leon berhasil memukulnya dengan membabi buta.
"SAYA TIDAK AKAN MEMBUAT HIDUP KAMU TENANG, ZICO! APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADA LAURA DAN ANAK-ANAK SAYA, SAYA AKAN BALAS DENGAN SETIMPAL WALAUPUN NYAWA SAYA ADALAH TARUHANNYA!"
Leon terus memukuli Zico tanpa ampun hingga lelaki itu tidak berdaya di lantai. Leon melirik ke arah Zico dengan sinis. "Bersiaplah dengan kehancuranmu!" ucap Leon penuh ancaman. Ia tidak main-main dengan ucapannya, Leon akan membuat lelaki itu menderita. Ia tidak akan melepaskan Zico begitu saja, karena Zico telah membuat dirinya hampir kehilangan calon anaknya. Dengan tertatih Leon keluar dari kamar Zico, ia tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan pada wajah dan seluruh tubuhnya. Yang terpenting ia bisa membawa Dirga bertemu dengan Laura.
"Kita ketemu Bunda!"
****
Cie yang loncat-loncat kegirangan sambil pegang hp lihat om Leon update lagi.
Gimana dengan part ini?
Kalau part ini rame, besok author bakal double up lagi. Kalau rame loh ya! ingat kalau rame! 🙈🙈
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya.
Percayalah dukungan like, vote dan komentar membuat author lebih semangat update.