Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~38 (Tidak Suka Seblak)



...Happy reading...


*****


Setelah seharian bekerja Laura merasakan tubuhnya sangat lelah. Bukan kali ini saja ia merasa tubuhnya mudah lelah, sejak dua minggu yang lalu ia sudah merasakannya. Namun, Laura mencoba abai karena mungkin dirinya terlalu memforsir tubuhnya untuk bekerja.


"Kamu pucat sekali!" ucap Leon saat dirinya menidurkan Dirga di kasurnya karena seharian ini juga Dirga ikut bersamanya dan anak itu pasti kelelahan berakhir dengan tidur yang sangat nyenyak. Sekarang mereka berada di apartemen Leon, karena ia sengaja membawa Laura dan Dirga ke apartemennya yang lebih dekat dengan restoran daripada rumah Laura.


"Mungkin saya hanya kelelahan saja, Pak!" ucap Laura dengan suara pelan.


"Berbaringlah biar saja pijat kaki kamu!" ucap Leon dengan tegas. Laura ingin menolak, namun Leon langsung membaringkan tubuh Laura di samping Dirga dan ia memijit kaki Laura dengan lembut, Laura sedikit memejamkan matanya karena merasakan pijatan Leon yang sangat enak sekali menurutnya. Leon tersenyum saat melihat Laura merasa tenang karena pinjatannya, Leon semakin berani memijat kaki Laura sampai ke bagian paha membuat wanita itu melenguh.


"P-pak!" panggil Laura dengan terbata.


"Kenapa, Sayang?" tanya Leon dengan tersenyum.


"Tangannya!" ucap Laura dengan nafas yang memburu. Laura semakin gelisah dibuat oleh Leon karena tangan pria itu masuk ke dalam celananya dan menyentuh miliknya dengan lembut.


"Kamu merindukan sentuhan saya?" tanya Leon dengan lirih.


Laura mengangguk dengan gelisah karena entah mengapa ia sangat merindukan sentuhan Leon di tubuhnya, tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kepada Leon saat pria itu sibuk bekerja.


"Di kamar mandi?" tanya Leon dengan lirih. Laura mengangguk lagi membuat Leon tersenyum dan langsung menggendong Laura masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya berendam di bathtub dengan Laura yang berada di pangkuan Leon dengan keadaan yang saling menyatu.


"Kapan saya bisa bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya Leon dengan tegas.


"Kita sudah sejauh ini, Laura. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Dirga yang ingin kita bersama?" tanya Leon dengan sorot mata yang berhasil menghunus jantung Laura.


Benar! Mereka sudah sejauh ini dan Laura masih saja bimbang dengan Leon? Yang benar saja?


"Saya belum siap bertemu dengan mereka Mas," ucap Laura dengan lirih. Mas adalah panggilan di saat mereka bercinta dan setelah itu Laura kembali lagi memanggil Leon dengan sebutan pak. Aneh bukan? Tetapi itulah yang selalu Laura lakukan bersama dengan Leon. Leon tak mempermasalahkan hal itu, yang penting sekarang Laura sudah bersamanya dan Leon yakin Laura sudah mulai memikirkan hubungan mereka yang belum ada kejelasan sama sekali.


"Saya harap kamu hamil anak saya agar kamu tidak bisa menolak keinginan saya untuk menikah denganmu!" ucap Leon dengan tegas.


Deg..


Hamil? Sudah dua minggu ini ia belum datang bulan padahal dua minggu kemarin adalah jadwal datang bulannya. Laura kembali memucat, ia memikirkan kata-kata Leon barusan. Apa mungkin dirinya hamil? Tetapi setiap hari ia sudah meminum pil pencegah kehamilan agar ia tidak hamil walau melakukannya dengan Leon. Dan Leon sama sekali tidak tahu jika Laura meminum pil pencegah kehamilan jika lelaki itu tahu mungkin saja bisa marah dengan Laura.


"Kenapa terdiam?" tanya Leon dengan menghentakkan tubuhnya membuat Laura melenguh.


"Aku hanya memikirkan Dirga," ucap Laura dengan lirih karena ia tidak bisa menahan desahannya kala Leon bergerak begitu cepat.


Laura benar-benar dibuat lemas oleh Leon. Bahkan untuk berjalan saja ia harus di gendong oleh Leon. Leon tak masalah dengan hal itu karena ia sangat suka melihat Laura bermanja padanya.


"Jangan dipikirkan kata-kata saya yang tadi!" ucap Leon dengan lirih karena sekak tadi Laura terus bungkam dengan seperti memikirkan sesuatu. Laura menghela nafasnya dengan berat lalu menatap ke arah Leon.


"Saya pengin seblak, Pak!" ucap Laura dengan menatap Leon yang sudah menatapnya dengan bingung.


"Sejak kapan kamu menyukai seblak?" tanya Leon dengan bingung karena yang ia tahu Laura tidak memyukai makanan itu.


"Saya pengin mencobanya! Bapak mau membelikannya?" tanya Laura dengan memohon.


"Baiklah saya akan membelikannya. Hitung-hitung saja belajar menjadi suami siaga saat kamu hamil nanti," ucap Leon dengan santai tetapi sukses membuat kinerja jantung Laura menjadi tidak teratur.


"Kamu istirahat saja temani Dirga. Saya akan pergi membeli seblak," ucap Leon dengan tegas.


***


Leon menatap Laura yang sangat lahap sekali memakan seblak yang baru saja ia beli. Mata wanita itu sampai berair karena pedas yang ia rasakan, tetapi entah mengapa rasa seblak itu sungguh nikmat di lidahnya hingga dirinya menghiraukan Leon yang berada di sampingnya dan sama sekali tidak menawarkan seblak itu kepada Leon.


Leon menyeka keringat Laura dengan tisu, ia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Laura begitu menikmati seblak yang ada di depannya.


"Pedas!" ucap Laura dengan berkaca-kaca sesudah ia menghabiskan seblak semangkok sendiri.


"Minum dulu!" ucap Leon dengan memberikan minum air putih kepada Laura.


"Saya gak suka seblak!" ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak suka? Tetapi satu mangkok habis? Bagaimana tidak suka?" tanya Leon dengan bingung.


"Tidak suka! Gara-gara seblak bibir saya bengkak!" ucap Laura dengan lirih.


"Astaga, Laura. Kamu aneh sekali!" ucap Leon mengusap bibir Laura yang terlihat biasa saja dan tidak bengkak sama sekali tetapi karena pedas yang ia rasakan membuat bibirnya seperti bengkak.


****


gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!