
...NOTE : TOLONG BACA DENGAN BAIK!!!...
...ALUR CERITA INI SUDAH DIRANCANG SEJAK AWAL. JADI YANG MERASA TIDAK SESUAI EKSPETASI DAN KEHALUAN KALIAN BISA TINGGALKAN NOVEL INI. KARENA SEJAK AWAL AUTHOR TIDAK MEMAKSA KALIAN UNTUK MEMBACA NOVEL INI. BAGI YA SUKA SAYA MERASA BAHAGIA DAN BAGI YANG MERASA TIDAK SUKA KARENA NOVEL INI BANYAK DRAMANYA, BERHENTI SAJA MEMBACA DAN JANGAN TINGGALKAN HATE KOMENT YANG MEMBUAT MOOD BURUK UNTUK MENULIS KARENA SEJAK AWAL SAYA TIDAK MEMAKSA KALIAN. YANG BENAR-BENAR MENDUKUNG SAYA SEJAK AWAL PASTI MENGERTI BAGAIMANA MENCARI IDE DAN MEMBUAT ALUR CERITA YANG SAMA SEKALI TIDAK MUDAH....
...MOHON SALING MENGHARGAI!...
...Happy reading...
****
Sejak kepulangan kedua orang tua Ihsan, Cut terlihat diam dan tak berbicara satu kata pun dengan suaminya. Hatinya masih merasa tidak tenang saat memikirkan nama Sari yang ternyata adalah masa lalu suaminya, hatinya yang sensitif ketika hamil bertambah sangat sensitif ketika mertuanya membahas mantan suaminya yang sempat akan menikah dengan Ihsan.
Setetes air mata jatuh membatasi pipi Cut. Hatinya sungguh sakit mengingat Ihsan tak pernah jujur dari awal, padahal Cut sangat terbuka dengan suaminya itu. Lalu kenapa Ihsan malah sebaliknya dan Cut mengetahui hal tersebut dari orang lain, entah mengapa mengingat fakta itu Cut merasakan hatinya kembali berdenyut sakit.
Ihsan masuk ke dalam kamar dengan perlahan. Ia tahu sang istri masih kepikiran tentang perkataan mamanya yang membahas mantan pacarnya padahal Ihsan sudah mengubur masalalu kelamnya tersebut bersama dengan Sari dan mamanya dengan seenaknya kembali mengulik kisahnya terhadap Sari di depan istrinya. Mamanya benar-benar membuat Ihsan kecewa. Bukannya Ihsan tak mau terbuka terhadap istrinya hanya saja Ihsan sudah melupakan semuanya dan tidak perlu membahas masa lalu dengan masa depannya sekarang. Namun, sang mama mengacaukan semuanya sekarang dan pasti Cut sedang terluka atau mungkin kecewa dengannya.
"Sayang!" panggil Ihsan dengan pelan. Ia mengelus lengan Cut dengan perlahan, saat ini posisi Cut sedang membelakanginya dan Ihsan tahu istrinya sedang menangis tanpa suara karena hormon kehamilan Cut saat ini sangat sensitif sekali.
"Abang minta maaf yang tidak pernah jujur dengan masa lalu Abang. Tapi Abang melakukan itu karena sudah melupakan semuanya dan tak mau membahas masa lalu di depan kamu karena Abang tahu itu sama saja mengulik kisah perih yang pernah Abang lalui dan pastinya akan membuat kamu terluka juga. Maafkan Abang, Sayang," jelas Ihsan dengan lirih.
Cut hanya diam. Ia sangat malas hanya sekedar untuk membuka suara kepada suaminya hatinya masih terlanjur sakit karena ia mengetahui masa lalu suaminya dari orang lain walaupun orang tersebut adalah mama mertuanya sendiri tetapi Cut merasa tidak dihargai oleh Ihsan sebagai seorang istri karena bagaimana pun Cut berhak mengetahui masa lalu suaminya dari suaminya sendiri.
"Jangan marah ya Sayang!" ucap Ihsan membujuk istrinya dengan kata-kata yang amat lembut.
"K-kenapa tidak jujur dari awal? Hubungan kalian seperti apa sampai-sampai mama mau menikahkan kalian kembali? Hiks...hiks..." tanya Cut dengan serak dan tidak bisa kembali menahan tangisannya di depan Ihsan karena rasa cemburunya yang lebih mendominasi perasaan dan hatinya sekarang.
"Bukannya tidak mau jujur, Sayang. Tapi Abang berpikir jika masa lalu Abang tidak perlu untuk diingat apalagi sampai diceritakan tetapi mama mengacaukan semuanya...."
"Berkat mama aku bisa mengetahui semuanya kalau tidak Abang tidak akan pernah cerita!" sentak Cut dengan emosi. "Bagaimana nantinya jika kalian ketemuan tanpa sepengetahuan aku? Bagaimana jika nanti kalian kembali menjalin hubungan di belakang aku?" tanya Cut dengan menggebu.
"Astagfirullah, Sayang. Jangan berbicara seperti itu! Sedikit pun Abang tidak pernah berpikir seperti itu karena Abang sudah mempunyai istri cantik dan juga baik seperti kamu," ucap Ihsan dengan tegas. Ia tidak boleh ikut emosi seperti istrinya saat ini.
"Kenapa mama masih mau menikahkan kalian?" tanya Cut yag mulai melunak walau sebenarnya hatinya merasakan sakit saat bertanya seperti itu.
"Abang tidak tahu, Sayang. Tapi yang jelas Abang tidak mau menikah dengannya, tidak sekali pun terbesit di pikiran Abang untuk menikah lagi dengan Sari atau pun wanita lain. Hanya kamu satu-satunya sampai ajal menjemput Abang," jawab Ihsan dengan serius.
Ihsan memegang tangan Cut dengan lembut. "Abang akan ceritakan semuanya tapi jangan marah dan emosi lagi ya, kasihan anak kita," ucap Ihsan dengan lembut.
Cut hanya diam membuat Ihsan menghela napasnya dengan perlahan. "Dulu Abang dan Sari memang menjalin hubungan. Setelah lama berpacaran Abang memutuskan untuk melamar Sari. Betapa senangnya Abang dulu saat Sari menerima lamaran Abang tetapi tiga bulan menjelang pernikahan kami Sari ternyata berselingkuh dengan teman Abang sendiri. Di situ Abang marah, kecewa, dan benci menjadi satu. Abang memutuskan Sari saat itu juga karena Abang sangat kecewa dengannya. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan hati Abang hingga Abang bertemu dengan kamu," jelas Ihsan dengan pelan.
"Jangan marah lagi ya?!" pinta Ihsan dengan lembut.
Cut hanya diam tetapi pandangan mereka saling bertemu hingga Ihsan mencium bibir istrinya dengan mesra. Cut memejamkan matanya saat ciuman Ihsan semakin dalam.
"Eugh...." lenguhan dari bibir Cut membuat Ihsan merasa senang itu artinya Cut sudah tidak marah lagi dengannya.
Dan ini ada suasana yang tepat untuk membuat istrinya kembali pada mood baiknya. Ihsan melucuti pakaian Cut dan juga miliknya dengan perlahan, saat ini Cut sudah pasrah dengan sentuhan suaminya karena ia juga mengingankan sentuhan Ihsan.
"Ahhh..." desah Cut dengan lirih saat Ihsan meremas bukit kembarnya dengan gemas. Ciuman Ihsan semakin turun ke bawah ke pusat inti istrinya. Ihsan memainkan lidahnya di sana membuat Cut bergerak dengan gelisah seperti cacing yang kepanasan.
"A-Abanggg...." teriak Cut dengan gelisah karena Ihsan mempermaikannya.
"Kenapa Sayang? Sudah tidak marah lagi?" tanya Ihsan dengan membelai tempat di mata miliknya bersarang.
"Ahhh...c-cepat masukin!" ucap Cut tidak sabaran.
"Sebentar Sayang!" ucap Ihsan dengan tersenyum.
Ihsan memposisikan dirinya dengan baik agar istri dan calon anaknya merasa nyaman. Setelah dirasa posisi tersebut aman, Ihsan memasukkan miliknya dengan perlahan.
"Eugh...."
"Ouhhh..."
"Ternyata gini buat istri gak ngambek lagi," ucap Ihsan dengan terkekeh membuat kedua pipi Cut memerah seperti tomat.
"Cepat gerak, Abang!" ucap Cut dengan manja.
"Baiklah istriku!" ucap Ihsan dengan tersenyum. Ihsan bergerak di atas istrinya dengan perlahan. Desah*n demi desah*n memenuhi kamar mereka saat ini. Ihsan tersenyum lega saat ini melihat istrinya tak lagi marah dengannya. Tubuh Cut adalah candunya sejak dulu, jika tidak mengingat bahwa sang istri sedang hamil maka Ihsan akan memasuki istrinya dengan gerakan cepat.
"Abangg...."
"Sayang...."
Keringat membahasi keduanya saat pelepasan itu kembali datang. Dahaga yang sejak tadi di tahan pertahan mulai menghilang ketika mendapatkan gelombang kenikmatan bersama. Cut bahagia bersama dengan Ihsan begitu pun sebaliknya. Kisah mereka akan selalu mereka kenang sampai maut memisahkan mereka.