
...Happy reading...
****
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar sepasang pengantin baru yang baru memulai kisah mereka. Zico mengerjapkan matanya, ia tersenyum melihat Intan yang masih tertidur di pelukannya.
"Jam berapa ini?" tanyanya pada diri sendiri. "Astaga sudah jam 11 siang," ucap Zico berdecak.
Zico langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sekretarisnya yang ternyata sudah menghubunginya sejak tadi. "Kosongkan jadwal saya hari ini dan atur jadwalnya saya kembali besok," ucap Zico dengan tegas belum dapat jawaban dari sang sekretaris Zico langsung mematikan ponselnya membuat sang sekretaris menggerutu kesal di kantor.
Zico mengeratkan pelukannya pada Intan yang masih tidak terusik dengan kegiatannya. Mungkin Intan sangat lelah karena melayaninya hingga mereka baru tertidur jam 3 dini hari. "Kamu membuat saya cadu," gumam Zico dengan lirih mengecup bibir Intan yang sedikit terbuka.
Intan hanya menggeliat di dalam tidurnya, ia masih merasakan semua ini hanyalah mimpi belaka. Sampai ia merasakan sesuatu yang menindihnya kembali. "M-mas Zico," gumam Intan terbata saat melihat wajah Zico yang sangat dekat dengannya.
"Gimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Zico dengan lembut. Bibirnya aktif menyentuh kulit sensitif Intan.
"Euh.... Nyenyak Mas. Tapi bisakah Mas turun, aku mau mandi. Ini sudah jam berapa?" ucap Intan dengan lirih padahal jamtungnya berdetak tak karuan mengingat percintaan mereka yang sangat memggairahkan, Zico tidak melepaskannnya semalam, pria itu terus memasukinya hingga memuntahkan laharnya berulang kali dan sekarang Zico mencoba menggodanya kembali. Apa belum cukup yang semalam? Bahkan tubuhnya seakan remuk, miliknya terasa perih, mungkin sedikit membengkak karena ulah Zico yang beringas.
"Ya Allah... Sudah jam 11 siang pantas saja aku merasa lapar," gumam Intan yang membuat Zico terkekeh.
"Tidur terlama atau tercepat?" tanya Zico dengan menggoda pasalnya mereka baru tertidur jam 3 pagi wajar saja jika mereka sangat kesiangan, bangun ketika suara cacing meminta diisi.
"aku capek Mas. Jangan menggodaku," ucap Intan dengan pelan.
"Aku tidak menggodamu. Hanya meminta sarapan pagi yang terlewat," ucap Zico dengan menyeringai. "Ini minuman pembuka," ucap Zico dengan melahap put*ing Intan membuat wanita itu memejamkan matanya menahan desah*an yang ingin keluar dari bibirnya.
"Ahhhh.... Y-ang semalam apa belum cukup?" tanya Intan dengan lirih merasakan perih pada miliknya saat Zico mulai masuk kembali.
"Tidak ada pernah ada kata cukup dan puas jika menyangkut tentang dirimu, Sayang!" ucap Zico dengan tegas tubuhnya bergerak perlahan agar Intan nyaman dengan penyatuan mereka.
"M-mas Zico panggil Intan apa?" tanya Intan tak percaya.
"Intan," jawab Zico dengan santai.
"Ahh... Bukan itu, aku tidak salah dengar tadi kalau Mas Zico panggil Intan sa... Ahhhhh..." ucapan Intan tertahan saat merasakan nikmat atas penyatuan mereka bahkan kulum*an bibir Zico pada dadanya membuat Intan menggelinjang.
"Sayang... Sayang... Apa salah aku memanggil istriku dengan sebutan 'sayang'? Aku ingin memulai semuanya dari awal bersama kamu, apa itu salah? Intan maukah kamu menjadi istri aku satu-satunya, semua kesalahan aku di masa lalu bisakah kamu menerimanya? Aku akan buktikan jika aku akan berubah bukan menjadi Zico yang dulu tetapi Zico yang baru bersamamu," ucap Zico dengan penuh ketegasan membuat Intan menatap Zico dengan mata yang berkaca-kaca.
"I-ini benaran? Aku gak mimpi, kan?" tanya Intan dengan lirih.
"Apa aku terlihat mimpi bagimu?" tanya Zico berbalik.
"Kamu nyata tetapi aku merasakan semua ini hanyalah mimpi," gumam Intan membuat Zico tersenyum.
Awalnya memang tak mudah menerima pernikahan tanpa cinta di antara mereka, tetapi setiap harinya Zico merasa Intan selalu membayangi hidupnya bahkan gadis belia tersebut telah memporak porandakan hatinya. Zico terus memikirkan Intan dimanapun lelaki itu berada bahkan ciuman manis itu membuat Zico tidak bisa menahan gairahnya hingga ia bisa mendapatkan Intan seutuhnya dan Zico tidak ingin bermain-main dengan pernikahannya kali ini cukup ia menyesal telah kehilangan Laura dan juga Dirga.
"Sekarang aku nyata bagimu, coba pegang ini!" ucap Zico menuntun tangan Intan ke dada kirinya.
"Dia berdetak seirama dengan jantungmu," ucap Zico membuat Intan menangis haru.
"Aku milikmu!" gumam Intan membuat Zico tersenyum dan mengecup kening Intan dengan sayang.
"Aku juga milikmu!" gumam Zico dengan lirih. "Maafkan aku di masalalu," gumam Zico merasa bersalah karena ia tidak bisa menjaga dirinya dari wanita penggoda. Tuhan sangat baik kepadanya, ia yang sangat pendosa mendapatkan gadis suci seperti Intan.
Satu jam kemudian.
"Iya Mas. Habis mandi perihnya sedikit menghilang," ucap Intan dengan malu.
"Maaf ya aku tidak bisa menahannya. Sekarang makan dan setelah itu istirahat lagi," ucap Zico perhatian.
Perhatian kecil dari Zico yang membuat Intan tanpa sadar menjatuhkan hatinya pada Zico tanpa mempedulikan masa lalu suaminya yang sangat kelam karena menurutnya masa lalu jangan disertai dengan masa depan. Dan Intan berharap Zico akan terus seperti ini tidak berubah lagi menjadi kejam.
Zico menyuapi Intan dengan telaten, ia juga menyuapi dirinya sendiri. Mereka berbagi nasi dalam satu piring hingga makanan mereka tandas tak tersisa. "Anak pintar," ucap Zico mengacak rambut Intan dengan gemas.
"Aku bukan anak-anak!" protes Intan.
"Iya. Anak-anak yang sudah bisa membuat anak," ucap Zico dengan santai.
Blush...
Makin memerahlah wajah Intan karena ucapan frontal Zico kepadanya.
*****
Laura sama sekali tidak mengizinkan Leon bekerja hingga Leon harus mengecek semua laporannya di rumah. Bahkan Dirga saja sudah dibawa oleh Saera sangking manjanya ibu hamil yang sekarang tidur di pangkuannya. Sikap Laura yang seperti ini karena ia tahu sang suami akan pergi dua hari lagi membuat Leon mengalah dan menuruti semua keingingan ibu hamil yang sangat ia cintai ini.
"Percuma saja aku tidak mengizinkan Mas bekerja jika di rumah saja Mas asyik dengan laptop," ucap Laura dengan marah.
"Sebentar lagi selesai Sayang. Sabar ya," ucap Leon dengan lembut.
"Mas Leon benar-benar tidak peka!" ucap Laura dengan kesal dan bangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" tanya Leon dengan cemas.
"Mau ke rumah bunda saja. Di sini Laura juga sendirian," sindir Laura.
Dengan cepat Leon menyimpan semua filenya dan mematikan laptonya. Leon menghampiri Laura yang hendak keluar kamar mereka. "Mau apa Sayang? Jangan marah-marah," gumam Leon dengan lembut.
"Nasi goreng pakai ayam goreng tapi Mas yang buat," ucap Laura dengan merengek. Dari tadi ia hanya minta makan tetapi Leon tak kunjung selesai.
"Cuma itu? Mas kira minta dimasukin junior," gumam Leon dengan lesu.
"Ish... Mesum!"
"Habis buat nasi goreng ya, Sayang!" rayu Leon dengan mengedipkan satu matanya.
"Iya. Tapi cepat, aku udah lapar!" rengek Laura membuat Leon semangat.
"Ayo!"
*****
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa ramein lagi ya.
Kayaknya ada yang penasaran dengan kisah Zico🤣🤣🤣
Ramein dengan like, vote, dan coment.