
...Happy reading...
***
4 bulan kemudian
Waktu 4 bulan sudah berlalu tetapi Leon belum bisa menemukan Laura dan juga Dirga. Hidupnya sudah tidak berwarna seperti dulu, semangatnya telah hilang sejak Laura dan Dirga menghilang begitu saja dalam hidupnya.
"Ada jamuan makan malam di rumah pak Hendra. Dan kita diundang ke rumahnya malam ini," ucap Ryan saat memasuki ruangan bosnya tersebut.
Leon menatap Ryan dengan malas. "Kamu saja yang pergi! Saya enggan menghadirinya," ucap Leon dengan datar.
Ryan menghela napasnya dengan kasar. Dilihatnya tubuh bos sekaligus sahabatnya yang sama sekali tidak terurus. Leon terlihat kurus, bulu-bulu kecil sudah memenuhi area dagunya, kantung mata yang terlihat menghitam dan kumis tipis yang sudah tumbuh. Leon benar-benar tak ada minat untuk hidup kali ini, ia sama sekali tidak berminat untuk mencukur jambang dan kumisnya, walaupun begitu Leon masih terlihat tampan.
"Bos kan tahu Pak Hendra adalah orang yang sangat berjasa dalam membantu perusahaan pak Alan. Kalian berdua juga bekerjasama di Singapura kemarin, kan? Setidaknya Bos datang untuk menghormati pak Hendra," ujar Ryan dengan tegas.
"Saya tidak minat, Ryan! Jamuan makan malam? Sedang saya tidak berselara makan sama sekali," ucap Leon dengan datar.
"Saya tidak mau tahu bos harus ikut dengan saya! Sudah cukup waktu 4 bulan untuk meratapi nasib kepergian Laura! Malam ini bos saya jemput untuk ke rumah pak Hendra yang ada di kota E, waktu ke rumahnya hanya memakan waktu 1 jam lebih!" ucap Ryan dengan memaksa.
"Baiklah, terserah kamu saja!" ucap Leon dengan pasrah. "Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya? Saya sedang bekerja!" ucap Leon dengan tegas.
"Dasar singa gila kerja!" umpat Ryan dengan kesal. Leon sama sekali tidak membalasnya, ia hanya diam saja menatap layar komputernya. Setelah Ryan keluar, Leon memijit pelipisnya akhir-akhir ini ia merasakan sakit kepala yang luar biasa bahkan tubuhnya sampai bergetar, perutnya juga sakit. Tetapi Leon masih bisa menahannya karena tidak ingin membuat semua orang khawatir dengan kesehatannya.
4 bulan ini Leon menjadi gila kerja, perokok dan menyukai kopi tetapi lelaki itu terkadang lupa untuk sekedar makan jika tidak diingatkan oleh orang tuanya atau adiknya bahkan Ryan juga ikut andil dalam memaksa Leon makan. Putus cinta membuat orang-orang melakukan sesuatu di luar batas kebiasaannya dan Ryan melihat itu dari Leon.
Keringat dingin muncul di dahi Leon. Ia tidak fokus dalam bekerja dan akhirnya untuk memutuskan beristirahat sejenak. Ika yang sudah sejak lama membantu Leon untuk mencari Laura nyatanya tidak membuahkan hasil sedikitpun karena Zico tetap bungkam sampai sekarang tetapi Ika berhasil membuat Zico menyukainya dari cara lelaki itu menatapnya tetapi Ika sama sekali tidak ada rasa, ia hanya memanfaatkan Zico untuk membuat Rama cemburu.
"Ini sudah 4 bulan lamanya kamu pergi, Laura. Apa kamu tidak pernah berpikir jika saya terluka?" ujar Leon dengan berbicara pada foto Laura dan Dirga ketika mereka sedang berada di kebun binatang waktu itu.
"Apa kamu bahagia melihat saya tersiksa?" tanya Leon dengan memandang foto Laura dengan berkaca-kaca.
Emosinya kembali memuncak dan dengar penuh amarah Leon ingin membanting ponselnya tetapi niat itu ia urungkan karena hanya di ponsel itu ia bisa melihat foto Laura dan juga Dirga yang tersenyum. "Saya rasanya ingin mati saja. Apa kamu tahu itu?" Leon mengusap air matanya dengan kasar saat tanpa sadar ternyata air matanya sudah menetes begitu saja hanya karena melihat foto Laura. Perasaannya berkecamuk, antara marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu tetapi rasa rindulah yang lebih mendominasi hatinya saat ini.
***
Malam harinya Leon terlihat enggan keluar dari mobilnya setelah mereka sampai di rumah pak Hendra setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih 30 menit. Leon terlihat sangat pucat tetapi ia masih sangat kuat untuk berdiri.
"Lo sakit?" tanya Ryan dengan cemas.
"Apa gue bawa lo ke rumah sakit aja?" Ryan melirik ke arah Leon yang tersenyum tipis.
"Gue gak apa-apa se-umur hidup gue belum pernah dirawat di rumah sakit, nanti juga sembuh. Udah ayo masuk! Pak Hendra dan bu Ratna sudah menunggu di depan pintu!" ucap Leon dengan tegas.
Ryan tidak bisa membantah ia mengikuti langkah sahabatnya keluar dari mobil dan memghampiri pak Hendra beserta sang istri.
"Selamat datang di rumah saya Pak Leon dan juga Pak Ryan! Apa kabar, Pak?" ucap Pak Hendra dengan sopan Walaupun usianya sudah tua sekitar 50 tahunan tetapi beliau sangat menghormati orang lain walau yang lebih muda darinya.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya, Pak. Kami alhamdulillah sangat sehat!" ucap Leon berbohong. Karena sejujurnya ia merasa tubuhnya ngilu dan perutnya sakit.
"Sepertinya Pak Leon terlihat pucat!" ucap Bu Ratna yang memang sejak tadi memperhatikan Leon yang sangat berbeda sekali dari dua tahun yang lalu saat mereka bertemu di Singapura.
Leon hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan bu Ratna.
"Biasa, Bu. Lagi patah hati!" ucap Ryan yang dibalas kekehan oleh pria dan wanita paruh baya di depannya ini.
"Udara malam sangat tidak baik untuk kesehatan Bapak! Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah saya walau dalam keadaan kurang sehat. Mari masuk, Pak Leon dan juga Pak Ryan!" ucap Pak Hendra dengan tegas.
Leon dan Ryan mengangguk mereka mengikuti pemilik rumah menuju ruang makan. "Kita akan mengobrol di ruang makan saja. Karena saya juga sudah merasa sangat lapar. Anda harus mencicipi masakan anak saya," ucap Pak Hendra dengan antuasias.
"Bukannya anak Bapak sudah menikah dan ikut dengan suaminya?" tanya Leon yang memang belum mengetahui wajah anak dari pak Hendra tersebut.
Pak Hendra melirik ke arah istrinya. Dan ia menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan Leon. "Anak saya sudah bercerai dua tahun lebih. Akibat keegoisan kami yang menjodohkan mereka," ucap Pak Hendra dengan lirih.
"Maaf Pak. Saya tidak tahu masalah itu," ucap Leon merasa bersalah. Entah mengapa ia sangat tertarik dengan kisah hidup dari anak pak Hendra tersebut.
"Tidak masalah, Pak. Saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama maka dari itu saya membawa anak dan cucu saya tinggal bersama saya setelah kami menemukan keduanya," ucap Pak Hendra.
"Silahkan makan dulu, Pak! Nanti keburu dingin masakannya," ucap Bu Ratna dengan ramah.
Leon dan Ryan mengangguk mereka mengambil nasi dan lauk yang tersedia. Leon sama sekali tidak bersela makan, ia dengan perlahan memakan masakan anak pak Hendra.
Deg...
"Kenapa anda terdiam, Pak? Apa makanannya tidak enak?" tanya Bu Ratna dengan hati-hati.
Ryan menjenggol tangan sahabatnya dan Leon langsung tersentak. "Masakannya enak sekali, Bu. Mengingatkan saya pada seseorang," ucap Leon dengan tersenyum.
Ibu Ratna tersenyum ke arah Leon. "syukurlah. Saya kira makanannya tidak enak. Apa Bapak mengingat kekasih Bapak, ya?" tanya Bu Ratna yang membuat hati Leon terasa tercubit. Leon hanya tersenyum membuat bu Ratna merasa tidak enak hati.
"Maaf atas perkataan saya, Pak!"
"Masakannya enak sekali, Bu. Tidak sia-sia kami datang ke sini," ucap Ryan menimpali karena tidak ingin suasana menjadi canggung.
"Terima kasih Pak Ryan. Lain waktu kalian bisa berkunjung ke sini lagi," ucap Pak Hendra dengan tersenyum.
Hening.
Merekan ber-empat makan malam tanpa suara. Leon menikmati makanannya walau ia merasa perutnya tidak menampung lagi karena sakit yang ia rasakan sedangkan pak Hendra dan bu Ratna merasa tidak enak karena bu Ratna membahas pacar Leon tadi. Ryan hanya memperhatikan sahabatnya yang terlihat pucat.
Keheningan mereka tak berlangsung lama karena mendengar suara anak kecil yang menangis memanggil nama ayah.
"Dirga awas jatuh, Nak!" ucap seseorang wanta dengan panik saat melihat sang anak berlari menuruni tangga.
Leon yang sangat mengenali suara itu langsung menoleh ke arah sumber suara dan tak di sangka di depannya ada dua orang yang sangat ia rindukan. Leon berdiri menghampiri keduanya, tubuhnya mematung dan bibirnya kelu. Mata Leon tidak lepas dari perut Laura yang sudah terlihat membuncit. Laura juga sama wanita itu diam mematung bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Ayah!" teriak Dirga dan langsung memeluk kaki Leon dengan erat.
"Dilga kangen Ayah. Kenapa ayah pelgi-pelgi telus?" tanya Dirga saat berada di gendongannya Leon.
Semua terdiam saat mendengar Dirga berbicara. "Anak ayah sudah besar!" ucap Leon dengan tersenyum tetapi air mata keluar dari sudut matanya.
"Sudah becal di kacih makan cama nenek!" ucap Dirga dengan polos.
"Dirga sini sama nenek dulu," ucap Ratna. Dirga melihat sang ayah awalnya ia menolak tetapi melihat anggukan dari Leon membuat Dirga mau digendong oleh neneknya.
Setelah Dirga sudah berada di gendongan ibu Ratna. Leon mendekat ke arah Laura, keduanya menangis tanpa suara. Ryan yang melihat sahabatnya bertemu dengan Laura merasa lega, ia hanya bisa menyaksikan keduanya melepas rindu.
"Kamu menyiksa saya! Kamu membuat saya mati dengan perlahan!" ucap Leon dengan dingin. Setelah itu ia memeluk Laura dengan erat tetapi tidak menyakiti kandungan Laura. Laura membalas pelukan Leon karena sejujurnya ia sangat merindukan Leon.
"M-maaf?!" gumam Laura dengan berderai air mata.
Tidak ada sautan dari Leon. Pelukan Leon terasa mengendur di tubuh Laura.
"Maafkan aku, Mas! Aku gak bermaksud membuat Mas seperti ini," ucap Laura dengan lirih.
"Mas!" panggil Laura
"Maafkan Laura, jangan diam saja!" ucap Laura dengan cemas.
"MAS LEON!" teriak Laura saat melihat mata Leon terpejam dan tubuh Leon hampir ambruk karena ia tidak bisa menahan beban tubuh Leon.
"Mas Leon kenapa?" teriak Laura dengan histeris saat melihat wajah Leon yang sangat pucat dengan keadaan tak sadarkan diri.
"Ayo bawa Leon ke rumah sakit!"
****
Gimana dengan part ini?
Terharu gak?
Ada banyak bawangnya gak?
Akhirnya mereka ketemu🤗
Ramein lagi part ini ya!
Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyaknya-banyaknya!
Masukan ke daftar favorit kalian juga ya!
Jangan lupa share juga cerita ini biar banyak yang baca!