
...Happy reading...
****
Hari semakin malam Leon sudah membawa istrinya untuk masuk ke kamar hotel, karena dirinya tidak ingin sang istri kelelahan karena menerima tamu undangan yang cukup banyak. Dirga yang awalnya tidak mau berpisah dengan kedua orang tuanya akhirnya bisa diatasi oleh Leon dengan memberikan janji jika Leon akan memberikan mainan yang cukup banyak kepada anak sambungnya yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
Ketika Leon membuka kamar mereka. Laura dibuat mematung karena kamar mereka dihias begitu cantik dengan taburan bunga mawar merah serta handuk yang sudah dirangkai berbentuk love di atas kasur mereka, gedung yang disewa oleh Leon berdampingan dengan hotel jadi memudahkan Leon untuk membawa istrinya ke kamar mereka.
Gurat wajah lelah yang tadi terlihat jelas di wajah Laura. Kini sudah tergantikan dengan senyuman kebahagiaan yang mengembang pada bibirnya. "Ya Allah, Mas. Ini bagus banget," ucap Laura dengan sumringah. Wanita itu menatap sekelilingnya dengan takjub karena pernikahan yang sebelumnya dirinya tidak diperlakukan romantis seperti ini oleh Zico.
Leon mendekat ke arah istrinya dan memeluk Laura dari belakang. Bibirnya mengecup tengkuk Laura hingga wanita itu merinding dan merasakan gelenyar aneh yang sudah tidak ia rasakan selama 4 bulan ini.
"Ini semua untuk kamu, Sayang. Kamu suka?" ujar Leon dengan mesra berbisik di telinga Laura.
"Suka banget, Mas! Terima kasih untuk semuanya," ucap Laura dengan terharu.
"Tidak ada terima kasih di dalam cinta, Sayang. Sekarang kamu adalah istri saya, sudah sepantasnya saya memberikan sesuatu yang membuat kamu bahagia," ucap Leon dengan lembut membuat Laura terharu oleh kata-kata suaminya.
"Saya sudah sangat merindukan kamu. Walau malam ini bukan malam pertama lagi tapi malam ini adalah malam pertama kita sah menjadi suami istri," ucap Leon dengan tegas sorot matanya sangat menginginkan Laura.
Laura menjadi sangat gugup menatap Leon. Saat ini mereka sudah saling memandang, degup jantung keduanya sudah tidak teratur, hembusan napas Leon juga terdengar sangat berat.
"A-aku mandi dulu, Mas!" ucap Laura terbata walau ini bukan pertama kalinya bagi mereka tetapi tetap saja rasanya sangat berbeda.
"Mau saya mandikan?" tanya Leon dengan jahil membuat Laura semakin gugup dibuat oleh Leon. Tubuhnya semakin panas saat Leon membantu membukakan resleting gaun pengantinnya dengan perlahan.
"A-aku bisa sendiri, Mas!" ucap Laura lagi-lagi gugup. Seakan suaranya terkecat di tenggorokan.
Leon tak acuh, pria itu tetap membantu sang istri pelepaskan gaun pernikahan mereka serta melepaskan mahkota yang ada di kepala istrinya. "Duduk dulu sebentar," ucap Leon yang menyuruh istrinya duduk di sofa di dekat kasur mereka setelah gaun itu terlepas. Leon menelan ludahnya dengan kasar melihat Laura yang sangat seksi di depan matanya tetapi ia harus bisa menahannya untuk sementara waktu.
Laura memperhatikan suaminya yang sedang mengambil sesuatu ternyata suaminya mengambil tas skincare miliknya yang entah kapan sudah berada di dalam hotel.
"Yang mana untuk membersihkan make up?" tanya Leon dengan bingung saat melihat banyaknya peralatan wanita milik istrinya.
"Ini Mas," tunjuk Laura saat cleansing beraroma mawar yang berada di tangan suaminya.
Leon mengangguk dengan cepat, ia membuka botol tersebut dan mengeluarkan cairan pembersih wajah tersebut di kapas dengan lembut dan penuh kehati-hatian Leon membersihkan wajah Laura.
Butuh belasan menit juga untuk membersihkan make up Laura. Leon menatap istrinya yang sudah bersih dari make up. "Sekarang ayo mandi!" ucap Leon membuat Laura terpekik sempurna karena Leon menggendongnya begitu saja.
Leon menurunkan Laura di dalam kamar mandi. Ia mengisi air hangat di dalam bathtub agar mereka bisa berendam berdua. "Ayo masuk, Sayang!" ucap Leon yang kembali membuat Laura gugup. Pikirannya sudah berkelana entah kemana membuat Laura menggelengkan wajahnya dan membuat Leon heran.
"Laura, ayo masuk!" ucap Leon dengan tegas. Laura dengan gugup masuk ke bathtub bersama dengan Leon, keduanya sudah berendam tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh keduanya. Laura begitu terkejut saat tangan Leon menyentuh kulitnya seperti sengatan listrik membuat Leon terkekeh.
"B-biar aku saja, Mas," ucap Laura saat Leon menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Biar Mas saja. Kamu tinggal menikmati saja mandi kali ini, Sayang. Saya tahu kamu lelah," ucap Leon dengan tegas. Akhirnya Laura pasrah, ia membiarkan Leon yang memandikannya, ada rasa hangat yang menjalar ke hatinya saat Leon memperlakukannya dengan lembut, tak sadar Laura sampai memejamkan matanya. Tetapi itu tak berlangsung lama saat tangan Leon menyentuh kedua dadanya dengan lembut.
Laura melenguh membusungkan dadanya karena tangan Leon yang sangat aktif di sana. "Mas," ucap Laura dengan serak. Setelah itu ia tidak bisa berkata-kata karena bibir Leon sudah membungkam bibirnya, keduanya berciuman dengan sangat mesra dan Leon semakin menuntut, dapat Laura rasakan milik Leon sudah menegang di bawah sana.
Keduanya membuka mata dengan napas yamg terdengar sangat berat. Dapat Laura rasakan jika Leon sangat menginginkannya malam ini. Laura mengangguk memberikan izin kepada Leon membuat Leon menyeringai. "Pelan-pelan ya Mas," ucap Laura saat Leon semakin mencumbunya karena ia takut Leon akan sangat buas menyentuhnya seperti sebelum-sebelumnya, mengingat Laura sedang hamil Leon mengangguk setuju.
Laura semakin dibuat tak karuan oleh Leon. Sudah banyak tanda kepemilikikan yang dibuat oleh Leon, Laura semakin terbuai oleh aksi suaminya hingga ia merasakan milik Leon menerobos miliknya. Keduanya sama-sama menahan napas karena merasakan nikmat yang sangat luas biasa, Leon mengecup kening Laura dengan lembut barulah ia bergerak dengan perlahan. ******* demi ******* terdengar dari mulut keduanya, di rasa air di bathtub sudah mulai dingin Leon membilas tubuh istrinya dengan air di shower tanpa melepas penyatuan mereka sampai erangan kenikmatan terdengar saat keduanya mendapat pelepas bersama.
Leon yang belum puas menggendong istrinya keluar dari kamar mandi mengeringkan tubuhnya dan tubuh Laura dengan handuk, dirasa sudah cukup Leon membaringkan Laura di kasur mereka. Kasur yang tadinya terlihat cantik kini berantakan karena ulah mereka.
"Twins gak apa-apa kan kalau Mas jenguk sekali lagi?" tanya Leon dengan lirih.
"Gak apa-apa Mas. Mereka juga merindukan ayahnya," ucap Laura dengan lirih. Mendapat persetujuan dari Laura, Leon kembali menyatu dengan istrinya, begitu lembut dan sangat hati-hati walau Leon sangat ingin menghentakkan miliknya dengan kuat tetapi ia tidak ingin mengambil resiko melukai anak kembarnya.
Napas keduanya saling bersautan. Leon ambruk di samping istrinya setelah mereka mendapat melepasan kedua kalinya. Leon mengambil selimut dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut. Laura menerima pelukan Leon dari belakang karena tidak mau menyakiti anak mereka, ia mengecup kepala Laura dengan sayang, keduanya terlihat kelelahan sekali akibat pesta pernikahan dan pergulatan panas mereka.
"Terima kasih, Sayang," ucap Leon dengan lembut yang diangguki oleh Laura karena wanita itu sudah tidak kuat menahan kantuk dan akhirnya tertidur di pelukan Leon. Leon menyunggingkan senyumannya melihat Laura sekarang tidur di pelukannya dan itu akan terjadi setiap harinya. Tak butuh waktu lama Leon juga ikut memejamkan matanya dengan memeluk Laura erat.
****
Malam yang panasπππ
Up lagi setelah tujuh purnama menunggu review bab sebelumnya.
Kado udah ada yang kasih belum nih?
Kadonya jangan lupa like, vote, komentar, dan favoritkan cerita ini ya. Yang banyak kadonya!