Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~48 (Kepergian Dio)



...Ramein part ini yak......


...Happy reading...


****


Suasana di dalam ruangan kepala rumah sakit sangat terasa serius sekali. Sang pimpinan terlihat menatap dengan serius ke arah Dio yang sepertinya terlihat tenang.


"Apa Dokter Dio sudah memikirkan hal ini matang-matang?" tanya pimpinan rumah sakit yang sudah bekerja sangat lama di rumah sakit ini. Ia melihat surat yang diberikan Dio untuknya dengan serius.


Dio menghela napasnya dengan perlahan lalu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya menerawang mengingat Cut yang dulu masih mencintainya. "Saya sudah memutuskan semuanya dengan matang, Pak. Dan saya ingin melanjutkan perkuliahan saya. Saya ingin menjadi dokter yang profesional atau bisa menjadi pemimpin rumah sakit nantinya seperti anda," ucap Dio diselingi candaan diakhir ucapannya walau di dalam hatinya menyimpan rasa sakit karena kehilangan seorang yang tulus mencintainya karena kebodohannya sendiri.


Dokter Andre. Dokter senior yang sudah menjadi pimpinan rumah sakit dimana Dio bekerja sangat menyayangkan surat pengunduran Dio karena ia akan kehilangan sosok dokter lelaki pekerja keras seperti Dio. "Baiklah. Saya tidak bisa memaksa anda untuk mewujudkan impian anda selama ini. Good luck! Saya akan mendukung semua keputusan anda dan setelah anda sudah bisa mengejar impian anda kembalilah ke rumah sakit ini, saya akan menerima anda kembali dengan tangan terbuka karena saya tidak ingin kehilangan sosok dokter muda seperti anda," ucap dokter Andre dengan bijak.


"Terima kasih, Dok. Saya akan kembali ke rumah sakit ini nantinya karena saya juga sudah sangat mencintai pekerjaan saya di sini," ucap Dio dengan menjabat tangan dokter Andre.


"Saya permisi Dok!" ujar Dio sekali lagi yang diangguki oleh dokter Andre.


"Ya silahkan!" jawab Dokter Andre dengan tersenyum tipis.


Dio keluar dari ruangan dokter Andre dengan perasaan yang sangat hampa. Ia menekam dadanya dengan kuat. "Mungkin dengan seperti ini aku bisa melupakanmu, Cut," gumam Dio dengan lirih.


Lalu setelah itu Dio kembali ke ruangannya untuk membereskan semua barang-barangnya, hari ini juga ia harus selesai membereskan barang-barangnya dan membawanya pulang


"Dokter Dio!" teriak dokter Kinan dan Bryan secara bersamaan. Keduanya sudah mendapatkan kabar jika Dio akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini untuk memgerjar impian kembali. Melanjutkan kuliah di luar negeri untuk mendapatkan gelar yang lebih tinggi.


"Ya, ada apa?" tanya Dio menatap kedua rekan kerjanya.


Ketiganya berjalan dengan santai menuji ruangan Dio. "Apa benar kamu memgundurkan diri dari rumah sakit ini?" tanya Dokter Kinam dengan serius.


"Iya apa benar, Dio? Kami mendapatkan informasi ini dari suster-suster yang sedang bergosip tadi," ucap Dokter Bryan dengan penasaran.


"Benar. Aku ingin melanjutkan kuliahku kembali," jawab Dio dengan santai.


"Alasannya?" tanya Dokter Kinan yang belum merasa puas.


"Sudah jelas alasannya. Aku ingin melanjutkan perkuliahanku," jawab Dio dengan membuka pintu ruangannya membiarkan kedua rekan kerjanya.


"Bukan karena Meisya?" tanya Bryan dengan hati-hati.


Dio tersenyum kecut mendengar pertanyaan Bryan yang sangat menohok hatinya. "Bukan!" jawab Dio dengan berbohong.


Bryan dan Kinan saling memandang satu sama lain. Keduanya tahu jika alasan Dio yang paling utama melanjutkan kuliah di luar negeri karena Cut. Mereka tahu jika Dio sedang berbohong sekarang.


"Baiklah kami hanya bisa semua keputusan mendukungmu," jawab keduanya dengan bijak membuat Dio tersenyum tipis.


"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Kinam dengan pelan.


"Besok atau lusa," jawab Dio dengan santai.


"Kami bantu beres-beres," ucap keduanya yang tak ingin banyak bertanya lagi kepada Dio. Karena tampak jelas jika wajah Dio tampak masam sekarang.


****


Cut sedang memakan masakan Laura dengan lahap, tadi pagi setelah ia bangun tidur Cut ingin sekali memakan masakan Laura bahkan air liurnya sampai menetes ketika membayangkan masakan Laura masuk ke dalam mulutnya.


"Mau tambah?" tanya Laura yang melihat keponakannya makan dengan lahap bahkan tidak melihat ke kanan dan kiri.


"Mau Tante!' ucap Cut dengan cepat membuat Ihsan terkekeh. Ia mengusap kepala Cut yang terbalut hijab dengan pelan.


"Pelan-pelan, Sayang. Gak ada yang minta," ucap Ihsan dengan mengusap sudut bibir Cut dengan lembut.


Cut tersenyum ke arah suaminya. "Hehehe...soalnya enak Bang," ucap Cut dengan tersenyum senang.


Laura hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menjadi membayangkan jika nanti Dirga akan menikah, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Dirga masih kecil Laura!" gumam Laura di dalam hati. Ia tidak tahu kelakukan anaknya seperti Leon dengan menyicil anak sebelum menikah.


"Dirga sama kembar mana Tante?" tanya Ihsan yang sejak tadi tidak melihat ketiganya. Sedangkan Leon sudah berada di kantor saat keduanya datang.


"Dirga kuliah pagi. Siang juga harus ke kantor mas Leon. Kalau kembar sekolah mereka juga mau ujian nasional, sebentar lagi mereka sudah lulus sekolah," jawab Laura dengan ramah.


"Oo iya, Tan. Apa benar Dirga mau menikah?" tanya Cut yang ikut menimbrung.


Laura menghela napasnya dengan berat. "Tante tidak tahu. Tiba-tiba saja ia ingin menikah bahkan usia calon yang Dirga pilih lebih tua dari Dirga dan juga seorang janda. Tante gak masalah Dirga akan menikah dengan siapa pun tetapi usia Dirga masih sangat muda, Tante takut dia tidak bisa bertanggungjawab dengan rumah tangganya nanti," jawab Laura dengan lirih.


"Tante tidak usah pikirkan itu. Saya yakin Dirga adalah lelaki yang sangat bertanggungjawab. Usia muda tidak menjadi patokan seseorang tersebut bertanggungjawab atau tidak," ucap Ihsan dengan bijak.


"Iya benar apa yang dikatakan suamiku, Tante. Kalau dilihat-lihat Dirga sangat mirip dengan om Leon. Dari sikap, wajah, kelakuannya semuanya mirip om Leon, Tante!" ucap Cut dengan serius.


"Kamu benar. Tante juga merasa begitu, dari bayi Dirga sangat tenang jika di gendong mas Leon bahkan keduanya sangat dekat seperti ayah dan anak kandung. Tapi Tante merasa Dirga itu masih kecil untuk menikah sekarang. Tapi ya sudahlah Tante tidak akan mau mengekang Dirga karena dia itu sama dengan mas Leon. Kalau sudah menyangkut orang yang dicintainya maka keduanya akan melakukan segala cara untuk terus bersama," ucap Laura tersenyum.


Cut dan Ihsan tersenyum bersamaan. Mereka akan mendukung semua keputusam Dirga.


"Awww..." ringis Cut memegangi perutnya membuat Ihsan dan Laura menjadi panik..


"Kenapa Sayang? Ada apa?" tanya Ihsan dengan panik.


"Perutku kram Abang," ucap Cut meringis.


"Bawa ke rumah sakit, San. Tante takut terjadi sesuatu dengan Cut," ucap Laura dengan sigap.


"I-iya Tante," jawab Ihsan dengan panik.


Ihsan menggendong Cut dengan perlahan. Keringat dingin muncul di dahi Cut yang membuat Ihsan bertambah panik. Cut meringis memegangi perutnya yang terasa sangat kram.


"Hiks...hiks...aku takut Bang," ucap Cut dengan lirih.


"Kamu dan anak kita pasti baik-baik saja Sayang," ucap Ihsan dengan cemas melihat sang istri yang kesakitan.


Laura juga ikut membantu Ihsan membukakan pintu mobil. Ia masuk setelah Ihsan juga mendudukkan Cut dengan perlahan.


"Ya Allah berikan kekuatan untuk istri dan anakku. Aku tidak ingin kehilangan keduanya. Aku tidak ingin ada kesakitan kembali setelah ini," gumam Ihsan di dalam hatinya.