Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~72 (Rasa Tak Nyaman)



...Happy reading...


****


Sudah seminggu ini Ika dirawat di rumah sakit dan akhirnya wanita itu sudah diperbolehkan pulang, karena keadaannya yang terus membaik. Rumah Leo tampak sangat ramai sekali dengan kehadiran keluarga besar mereka yang ingin menjenguk Ika. Keluarga besar Brawijaya tidak membuat Ika terpojok malah mereka mendukung Ika dan kembali memotivasi Ika agar wanita itu terus hidup lebih baik lagi. Namun, keriuhan itu sesaat terhenti karena bunyi bel rumah Leo.


"Biar aku saja, Bun!" ucap Laura saat melihat sang mertua hendak berdiri.


"Pelan-pelan jalannya, Sayang!" ucap Leon dengan posesif membuat Laura merasa malu karena mendapat godaan dari keluarga besar sang suami.


"Iya ini udah pelan, Mas!" ucap Laura dengan tersenyum terpaksa karena sejujurnya ia masih malu dengan godaan dari para saudara iparnya, pipinya juga memanas gara-gara hal tersebut.


Laura melangkah membukakan pintu untuk tamu yang datang dan Laura yakin tamu tersebut ingin menjenguk Ika, adik iparnya. "Sia...pa...?" pertanyaan Laura tertahan saat melihat mantan sang suaminya'lah yang datang ke rumah mertuanya membuat rasa tak nyaman itu muncul kembali di hatinya saat melihat wajah Zico yang juga menatapnya dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Benar saja Zico masih mengagumi kencantikan Laura walau dalam hatinya saja karena mana mungkin ia mengatakan dengan terus terang.


"G-gue mau ketemu Ika," ucap Zico dengan gugup.


"Ooo.. I-iya, silahkan masuk!" ucap Laura dengan terbata.


Zico mengangguk dan dengan perlahan ia masuk tak sengaja bahunya bersentuhan dengan Laura membuat hatinya berdesir hebat. "Ingat Zico, dia istri musuh lo yang mungkin akan menjadi kakak ipar lo!" ucap Zico di dalam hatinya untuk meyakinkan dirinya sendiri jika hatinya tak lagi mencintai Laura lebih tepatnya mengubur perasaannya terhadap mantan istrinya itu.


"Siapa, Sayang?" tanya Leon kepada sang istri tetapi Laura hanya diam memandang sang suami dengan tak nyaman karena Zico berada di sebelahnya.


"Wah si kampret!" ucap Ryan dengan kesal. Zico menatap nyalang ke arah Ryan, yang ditatap hanya kembali menatap Zico dengan mengejek.


"Ngapain lo ke sini lagi? Ganggu aja kebersamaan keluarga gue!" ucap Leon dengan sarkas karena tak suka dengan kehadiran Zico yang membuat sang istri diam yang membuat Leon berpikir jika sang istri masih memiliki rasa terpendam untuk mantan bajingan tersebut padahal kenyataannya Laura benar-benar tak nyaman dengan keadatangan Zico. Lihat saja Dirga langsung memeluk Leon dengan erat meminta perlindungan kepada sang ayah membuat pemandangan di depannya membuat hati Zico tercubit, seharusnya Dirga memeluknya bukan Leon!


"Ayah, om jayat cenapa di cini? Dilga atut om jayat mau culik Dilga agi," ucap Dirga dengan ketakutan membuat Leon mengeratkan pelukannya kepada sang anak sambung untuk memberikan perlindungan. Dan lagi ucapan Dirga membuat hati Zico seperti tertusuk ribuan jarum.


"Dirga gak usah takut kan ada Ayah. Tuh banyak om Dirga yang baik yang akan menjaga Dirga," ucap Leon dengan lembut membuat Dirga kembali tenang.


Semua terhenyak tak sedikit ada yang bertanya di dalam hati mereka siapa Zico itu sebenarnya. Mengapa Leon, Laura, dan Dirga seperti tak nyaman dengan kedatangan pemuda tampan tersebut?


"Emmm. Semuanya, Ika mau bicara dulu sama Zico di taman belakang, boleh?" tanya Ika dengan pelan agar kembali tidak terjadi kecanggungan di antara keluarga.


Ika langsung menarik Zico ke taman belakang rumahnya. Keduanya terdiam karena Zico masih membayangkan bagaimana anaknya sangat dekat dengan Leon, bahkan Zico yang ingin memeluknya saja tak berani. Masih adakah kesempatan untuk dia bersama dengan Dirga walau sesaat?


"Zico!" panggil Ika.


"Ah.. Iya..." ucap Zico dengan kikuk karena ketahuan melamun ketika sedang bersama dengan Ika.


"Gue tahu maksud kedatangan lo ke rumah gue. Lo mau mengambil rasa simpati keluarga gue, kan?" tanya Ika dengan tegas.


Zico mengangguk menyetujui. "Gue mau keluarga lo merestui gue," ucap Zico dengan tegas. "Lo tahukan perasaan gue sama lo itu seperti apa?" tanya Zico dengan lirih menatap Ika yang terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Gue gak bisa Zico! Hentikan perasaan lo ke gue karena gue gak punya perasaan apapun ke lo selain sahabat. Please... Gue masih mau sendiri untuk saat ini, lo jangan menaruh harapan ke gue karena memang kita tidak mungkin bersama," jelas Ika dengan hati-hati.


"Lo masih mencintai Rama makanya lo nolak gue terus, kan?" tanya Zico dengan tajam karena hatinya sangat sakit seperti saat berpisah dengan Laura.


"Gue emang masih cinta sama Rama. Tapi gue juga gak mau kembali ke dia, gue mau memulai hidup yang baru tanpa bayang-bayang Rama karena saat mengingat Rama seperti membuka luka yang belum saja mengering," ucap Ika dengan lirih.


"Lo gak mau kasih gue kesempatan?" tanya Zico dengan tertawa sumbang menyembunyikan rasa sakit hatinya.


"Gue gak bisa, Zico! Tolong sekali saja ngertiin perasaan gue saat ini. Gue gak mungkin menikah sama lo! Kak Laura, kakak ipar gue dan Dirga keponakan gue. Apa jadinya jika gue menikah dengan mantan suami kakak ipar gue sendiri? Ini gak lucu Zico! Please... Hilangkan rasa itu!" ucap Ika dengan penuh harap.


"Jangan ngomong gitu. Kasihan istri lo nanti. Lo gak mau menyesal untuk kedua kalinya, kan?" tanya Ika dengan lirih.


Zico terdiam. Pikirannya tak menentu sekarang karena Dirga yang sangat nyaman di pelukan Leon dan dengan penolakan Ika yang sekian kalinya membuat hati Zico remuk tak tersisa. Apa mungkin ia bisa mencintai wanita lain lagi setelah ini?


Rasanya tidak mungkin terjadi! Ia akan tetap mencintai Ika!


***


Hari sudah larut tetapi Laura tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, ia masih memikirkan kedatangan Zico ke rumah mertuanya. Apa Zico masih tetap bersikeras untuk menikah dengan Ika? Rasa tak nyaman terus menggerogoti hatinya hingga ia tak sadar terus bergerak dan membangunkan sang suami yang sudah terlelap.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Leon dengan khawatir.


"A-aku gak apa-apa," jawab Laura dengan gugup.


Leon menatap Laura dengan intens membuat Laura merasa semakin gugup. "A-ayo tidur!" ucap Laura memeluk suaminya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya, sesuatu yang ia sukai akhir-akhir ini.


"Aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu saat ini. Apa kamu memikirkan Zico?" tanya Leon memicingkan matanya membuat Laura semakin merasa gugup.


"A-aku..."


"Kamu masih mencintai Zico?" tanya Leon dengan sinis.


"Enggak!" jawab Laura dengan cepat.


"Lalu?" tanya Leon dengan datar.


"A-aku gak bisa membayangkan jika Zico menjadi adik ipar aku nantinya," ucap Laura dengan enak.


"Itu gak akan terjadi, Sayang! Mas gak akan pernah setuju! Enak saja jika Zico menikah dengan Ika, pasti kalian sering bertemu dan membuat cinta itu kembali muncul di hati kalian," ucap Leon dengan sinis.


"Tuh kan pikirannya jauh banget!" ucap Laura dengan kesal.


"Lah emang kenyataannya seperti itu. Kamu harus tanggungjawab, aku gak bisa tidur lagi! Kamu harus diberi hukuman," ucap Leon dengan ketus.


"Huku.. Ahhhh..." Belum sempat Laura menyeselesaikan ucapannya sang suami sudah merangsang dirinya dengan sentuhan bibir dan tangan nakal Leon membuat tubuh Laura bergerak gelisah dibawah kungkungan suaminya. Laura melupakan jika Leon tak boleh menyentuhnya selama dua minggu, kini keduanya sudah bermandi peluh, suara erangan saling bersautan saat keduanya saling memuaskan satu sama lain.


****


Om Leon cemburu terus ya🤣🤣 segitu bucinnya sama Laura.


Ramein lagi yok!


Biar double up!


Gimana dengan part ini?


dapat feelnya gak sih?


sedekahnya jangan lupa ya! like, vote, coment dsn favoritkan cerita ini!