Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~6 (Mengantarkan Laura Pulang)



...Happy reading...


****


Suasana canggung sangat terasa saat Leon dan Laura memasuki mobil. Dirga sudah berada di dalam gendongan Laura, anaknya itu sudah berhenti menangis hanya karena Leon menimang dan mencium kening Dirga. Laura juga merasa heran dengan Dirga yang langsung diam ketika Leon menggendongnya, padahal Leon dan Dirga baru saja bertemu. Apakah Dirga merindukan sosok sang ayah yang selama ini tidak bersamanya?


"Rumahmu di mana?" tanya Leon memecahkan keheningan di antara mereka. Entah mengapa Leon menjadi cerewet saat bersama dengan Laura yang sangat diam kepadanya. Laura sangat berbeda dari banyaknya gadis yang mendekatinya.


"Di jalan A, Pak. Masuk gang kecil. Bapak bisa mengantar saya sampai depan gang saja," ucap Laura dengan sopan.


Leon mengangguk tidak tahu lagi harus berkata apa untuk membuka obrolan bersama dengan Laura. Hening! Itulah yang Leon rasakan saat ini padahal ia ingin sekali mengobrol dengan Laura, entah mengapa gadis yang berada di sampingnya ini bisa mengacaukan pikirannya.


"Ibumu kemana? Sampai kamu membawa adikmu yang masih sangat kecil ke luar tanpa pengawasan," ucap Leon dengan datar membuat Laura menghela nafas kasar karena Leon masih tidak percaya jika Dirga adalah anaknya.


"Ini anak saya Pak! Bukan adik saya!" ucap Laura penuh penekanan.


Leon terkekeh masih tidak percaya jika Laura sudah menikah karena Laura masih terlihat sangat muda dan masih berstatus mahasiswi itulah informasi yang Leon dapat dari Ryan waktu itu. "Jangan mengaku-ngaku sudah menikah. Cincin pernikahan saja kamu tidak memakainya," ucap Leon dengan terkekeh.


"Terserah Bapak! Intinya Dirga anak saya bukan adik saya!" ujar Laura dengan kesal. Enrah mengapa Laura merasa jika Leon ingin mendekatinya. Bukan percaya diri hanya saja melihat sikap Leon dan cara pandang lelaki iyu sangat berbeda kepadanya. Laura paham arti tatapan itu dan Laura tidak ingin dekat dengan lelaki manapun karena luka yang ditorehkan Zico mampu membuatnya trauma untuk menikah lagi, biarlah dirinya hidup berdua bersama dengan Dirga, itu sudah dari cukup membuat hidup Laura bahagia walau jujur ia sangat merindukan orang tuanya.


"Berhenti di sini saja, Pak!" ucap Laura membuat Leon langsung menghentikan mobilnya. Ia memandang Laura yang membuka pintu mobilnya dengan perasaan hampa karena baru saja Leon menikmati debaran jantungnya yang tidak biasa ketika berada di dekat Laura dan ketika Laura ke luar rasa hampa menghimpit di hatinya.


"Terima kasih atas tumpangannya Pak," seru Laura dengan tubuh yang sedikit membungkuk karena Dirga berada di dalam gendongannya. Leon hanya mengangguk menatap Laura yang mulai berjalan menjauhinya. Akhirnya Leon memutuskan keluar dari mobil dan mengikuti Laura sampai wanita itu sampai di rumahnya. Rumah yang kecil namun terlihat nyaman di pandang oleh Leon.


Sesudah Laura memasuki rumahnya Leon kembali berjalan menuju mobilnya. Ia harus ke kantor karena siang nanti dirinya ada meeting dengan kolega dari perusahan Farezki Grup. Pemimpin yang terkenal arogan yang menjadi musuh bebuyutannya sejak dulu dalam bersaing di dunia bisnis.


*****


Laura meletakkan Dirga di kasurnya. Ia menghela nafas saat Dirga dengan cepat membuka matanya. "Nak, apa kamu merindukan papa sampai-sampai kamu langsung tidak menangis saat Pak Leon tadi menggendongmu?" tanya Laura dengan sendu. "Dia hanya orang asing. Dirga hanya punya Bunda di hidup Dirga," ujar Laura dengan berkaca-kaca.


Laura menghapus air matanya yang tiba-tiba saja keluar begitu saja saat bagaimana Zico tidak mau menatap Dirga bahkan saat kepergian dirinya bersama dengan Dirga, Zico masih menatapnya dengan sinis. Tatapan yang mampu membekukan hatinya yang dulu sangat mencintai Zico. Bahkan dulu saat mereka melakukannya untuk pertama kali lelaki itu sedang mabuk berat membuat Laura tidak merasakan kenikmatan sama sekali yang ada hanya jeritan kesakitan yang ia rasakan dan paginya Zico seakan bersikap tidak pernah menyentuhnya. Semua itu membuat Laura tidak ingin berpikir menikah lagi, karena dirinya sangat takut diperlakukan kasar. Laura perempuan yang lembut dan dirinya juga ingin diperlakukan lembut oleh suaminya tetapi semua hanya khayalan dirinya saja semua impiannya musnah begitu saja hanya karena satu nama yaitu Zico hingga membentuk karakter Laura yang cuek kepada pria.


"Maafkan Bunda yang egois. Bunda hanya takut jika Bunda bertahan, papa akan melakukan kekerasan sama Dirga juga. Bunda terima jika Bunda yang dipukul, ditendang sama papa tetapi jika Dirga yang diperlakukan seperti Itu Bunda tidak terima. Suatu saat jika Dirga dewasa, Dirga akan mengerti mengapa Dirga tidak mempunyai papa seperti teman-teman Dirga nantinya," gumam Laura dengan bibir gemetar menahan tangis dan Laura janji ini tangisan terakhirnya karena Zico. Laura harus bangkit dari bayang-bayang Zico selama ini karena Laura yakin Zico pasti sudah dapat penggantinya walau kedua orang tua mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga mereka karena Laura sangat menyimpannya rapat-rapat dan hanya Anne yang tahu semuanya.


*****


Gimana dengan part ini?


Greget?


Maaf kemarin tidak update hihi


Jangan lupa like, vote, komentarnya untuk part ini!