
...Happy reading...
****
"Ayah ndak atit?" tanya Dirga dengan mata yang berkaca-kaca tangan kecilnya memegang luka yang berada di wajah Leon dengan sangat hati-hati.
Leon tersenyum, seraya mengecup kening Dirga dengan penuh sayang. "Ayah kan jagoan, Dirga! Luka sedikit saja gak terasa sakit dong!" ucap Leon dengan lembut agar Dirga yang sudah ia anggap anak tidak mengalami trauma seperti Jihan. Walaupun kasus mereka berbeda tetap saja trauma melibatkan psikis dan Leon tidak ingin itu terjadi pada Dirga.
Leon menatap Anne dengan dingin, kembali pada sifat aslinya jika di depan orang asing walau Leon beberapa kali melihat Anne sedang bersama dengan Laura. "Terima kasih telah menyelamatkan Dirga. Saya harus membawa Dirga ke rumah sakit karena Laura sedang dirawat di sana," ucap Leon dengan datar.
"Laura sakit? Sakit apa?" tanya Anne dengan terkejut.
Leon menghela napasnya dengan kasar. "Laura hampir saja keguguran! Dia sedang mengandung anak saya," ucap Leon dengan tenang tanpa malu untuk mengakui jika mereka melakukan hubungan suami istri di saat keduanya belum menikah, sampai Laura hamil anaknya pada mantan kakak ipar Laura.
Anne tampak sangat syok tetapi ia mencoba menormalkan keterkejutannya. "Saya akan menjenguknya nanti," ucap Anne dengan tersenyum setelah sadar dari keterkejutannya dengan pengakuan Leon yang sangat berani itu.
"Obati saja Zico. Dia butuh bantuanmu! Saya permisi," ucap Leon dengan datar.
Anne menghela napasnya dengan berat. Ia tahu bagaimana Laura, wanita itu tidak mungkin mau menerima lelaki lain setelah bercerai dengan Zico tetapi tampaknya Leon sangat berbeda hingga Laura bisa hamil anak Leon bahkan Dirga sangat dekat dengan Leon hingga memanggil Leon dengan sebutan 'ayah'. Sungguh ini lucu sekali Dirga sangat takut dengan Zico yang memiliki status ayah kandungnya sendiri.
"Semoga kamu bahagia, Laura!" gumam Anne dengan tersenyum setelah kepergian Leon dengan tertatih. Sepertinya lelaki itu terkuka karena pukulan Zico, tetapi Anne tidak merasas khawatir dengan sang adik yang sudah tidak berdaya karena sejak dulu ia sudah sering melihat Zico berantem walau karena hal sepele sedikitpun. Tetapi sebagai kakak yang baik, Anne akan tetap mengobati adiknya yang terluka karena Leon.
*****
"Dirga!"
"Nda!"
Laura langsung memeluk Dirga dengan erat saat Leon membawa Dirga masuk ke ruangannya. Laura menangis sejadi-jadinya mengecup seluruh wajah Dirga dengan sayang. Sungguh Laura sangat takut Dirga akan dilukai oleh Zico, walaupun Zico adalah ayah kandung dari Dirga tetap saja Laura merasa was-was karena Zico memang temperamental kepada siapapun yang membuatnya marah.
"Nda ndak oyeh angis! Ayah atit aja ndak angis!" ucap Dirga mengusap air mata Laura dengan cari kecilnya.
Laura tersenyum melihat Dirga yang begitu menggemaskan dan sifatnya hampir sama dengan Leon. Laura melihat ke arah Leon yang duduk di kursi di samping brankarnya. Dengan panik ia menyentuh wajah Leon hingga Leon meringis.
"Mas terluka!" ucap Laura dengan panik. Tanpa sadar ia memanggil Leon dengan sebutan yang sangat Leon sukai membuat Leon tersenyum tipis.
"Dirga sama kak Intan dulu. Bunda mau obati luka ayah," ucap Laura dengan panik membuat Dirga mengangguk dan langsung meminta Intan menggendongnya.
Intan menggendong Dirga. Ia bahagia ketika Dirga kembali dengan segera kepelukan Laura dan itu semua berkat Leon walau lelaki itu harus terluka karena ingin mengambil Dirga dari tangan Zico yang kejam.
"Ssstt.. Pelan-pelan, Sayang!" ucap Leon dengan lirih saat Laura mengobati luka Leon dengan obat yang sudah diberikan suster tadi.
"Kalian berantem?" tanya Laura dengan sendu. Ia meringis saat melihat banyaknya luka di wajah Leon, Laura ingin menangis sekarang. Sepertinya anak di dalam perutnya tidak terima jika sang ayah babak belur karena Zico.
"Hanya sedikit, Sayang. Hey jangan menangis! Kamu lebih cengeng dari Dirga sekarang," ucap Leon dengan terkekeh.
"Jangan berantem lagi, Mas!" ucap Laura dengan sendu.
"Kalau dengan saya terluka kamu perhatian seperti ini. Maka saya rela terluka setiap hari," ucap Leon dengan tenang.
"Enggak boleh!" rengek Laura.
"Bolehnya apa? Menikahi kamu boleh, kan?" tanya Leon dengan memegang tangan Laura yang berada di pipinya. Laura hanya terdiam melihat perlakuan Leon yang mengecup jemarinya satu per satu dengan lembut. Ya Tuhan, mengapa Laura seakan buta terhadap lelaki tulus yang berada di hadapannya ini?
Saat Leon ingin berdiri dan memeluk Laura. Lelaki itu merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya.
"Arghh..."
"Mas Leon kenapa? Hiks... Hiks..." tanya Laura dengan panik di sertai tangis.
"Saya gak apa-apa, Laura. Kamu tenang saja, ya! Panggilanmu sangat membuat saya bahagia!" ucap Leon dengan mengusap pipi laura dengan sayang.
"Mas di sini saja! Tidak boleh kemana-mana! Pasti kaki Mas Leon terluka! Mas gak boleh banyak gerak! Biar Intan yang memanggil dokter buat periksa kaki Mas Leon," ucap Laura memeluk lengan Leon dengan erat membuat Leon tersenyum.
"Intan, Kakak minta tolong panggilkan dokter untuk memeriksa kaki Mas Leon," ucap Laura dengan lirih.
"Iya, Kak. Intan akan panggilkan dokter," ucap Intan dengan cepat. Saat hendak keluar bersama Dirga, anak itu menahan pergerakannya dan menatap tajam ke arah Leon. Tatapan yang sama persis seperti Leon.
"ayah atit, kan? Dilga ndak cuka ayah belantem-belantem cama om jayat!" omel Dirga membuat Leon terkekeh.
"Dirga mau gak punya adik?" tanya Leon membuat Dirga berpikir.
"Au Yah. Dedeknya bica diajak main-main baleng," ucap Dirga dengan bahagia.
Dan jawaban Dirga membuat Leon sangat bahagia. Betapa tidak ia sekarang memiliki dua anak yang akan menjadi sekutunya untuk menaklukan wanita yang keras kepada yang berada di hadapannya ini.
Setelah Dirga sedikit mengomeli Leon dan mereka membahas adik barulah Intan keluar bersama Dirga untuk memanggil dokter yang akan memeriksa kaki Leon.
"Sepertinya anak kita membuat kamu lebih jinak kepada saya! Dan saya suka itu!" ucap Leon dengan tersenyum membuat Laura merasakan malu karena rengekannya dilihat oleh Intan dan Dirga juga.
Cup..
Leon mengecup perut datar Laura dengan sayang. "Kamu dan abang Dirga harus menjadi sekutu Ayah, Nak. Kita harus bisa meluluhkan bunda yang keras kepala," bisik Leon di perut Laura yang masih bisa didengar oleh Laura.
Laura mengelus kepala Leon dengan lembut. Haruskah ia egois kepada Leon? Sedang anaknya saja tidak ingin berjauhan dengan Leon!
Tak lama dokter datang bersama dengan Intan dan juga Dirga. "Mari saya periksa dulu, Pak!" ucap dokter perempuan yang masih terlihat sangat muda kepada Leon.
Dari ekor matanya Leon melihat Laura mendengkus tidak suka wanita itu memilin baju yang ia pakai sambil menatapnya dengan sinis.
"Lelaki genit ya tetap genit!" gumam Laura dengan bersungut sebal membuat Leon menahan senyumnya karena ia juga menahan denyutan sakit di kakinya.
"Kaki Bapak cedera ringan akibat pukulan. Saya sarankan Bapak jangan terlalu bergerak terlebih dahulu karena bisa menyebabkan nyeri pada cedera tersebut. Ini saya tuliskan resep obat untuk dioleskan pada cedera dan Bapak bisa menebus obatnya langsung. Jika begitu saya permisi dulu," ucap dokter muda tersebut dengan tersenyum ramah.
"Terima kasih, Dok, telah memerika suami saya!" ucap Laura dengan datar dan penuh penekan pada kata 'suami' membuat Leon terkejut dan juga bahagia dalam bersamaan.
"Sama-sama, Bu!" balas dokter muda tersebut dengan tersenyum kecut karena ia menyadari tatapan tidak suka dari Laura kepadanya.
"Sok perhatian!" ucap Laura dengan sinis saat dokter muda tersebut sudah keluar dari ruangannya.
"Cie cemburu!" goda Leon ke arah Laura.
"Cie cembulu!" ucap Dirga mengikuti perkataan Leon.
"Cembulu itu apa, Yah?" tanya Dirga dengan penasaran.
"Coba Dirga tanya Bunda. Kan, Bunda yang sedang cemburu," ucap Leon dengan terkekeh.
"Cembulu itu apa, Nda?"
"Bunda gak tahu!" jawab Laura dengan datar. Membuat Dirga mendengkus sebal karena tidak mendapat jawaban dari kedua orang tuanya.
***
Gimana dengan part ini?
Bahagia gak update lagi?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!