
...Happy reading...
****
Setelah pulang dari kampus Dirga langsung ke rumah kekasihnya. Ia menatap datar ke arah Vera yang sedang membereskan barang-barangnya membuat Vera gugup bahkan ia merasa Dirga sangat menyeramkan sekarang.
"D-dirga!" panggil Vera dengan lirih tetapi Dirga tetap memandangnya dengan datar.
"A-aku..."
"Pergilah. Aku tidak akan memaksamu tetap tinggal!" ucap Dirga dengan datar.
Mata Vera berkaca-kaca saat suara Dirga terkesan datar dan dingin kepadanya.
Drttt...drrrttt...
Getaran ponsel Dirga yang berada di saku celananya membuat Dirga lebih fokus ke ponselnya mengabaikan Vera yang hendak menangis karena pengabaian Dirga kepadanya.
"Ya," jawab Dirga dengan datar saat sang papa meneleponnya.
"Hey boy. Kenapa kamu sangat terkesan dingin kepada Papa? Apa karena calon istrimu akan melarikan diri?" tanya Zico yang membuat Dirga mengumpat lirih.
"Ada apa Pa? Aku tidak ada waktu untuk melayani kekonyolan Papa!" ucap Dirga dengan datar.
"Datang ke kantor Papa sekarang. Papa ingin kamu yang memimpin meeting dengan kolega penting Papa. Papa ingin kamu memenangkan tender ini," ucap Zico dengan tegas.
"Apa yang akan Dirga dapatkan setelah memenangkan tender itu?" tanya Dirga yang merasa tertarik dengan tantangan yang papanya berikan.
"Papa, mama, ayah kamu dan bunda kamu akan langsung menyetujui kamu menikah dengan Vera. Bagaimana?" ucap Zico dengan tenang.
"Deal?!" ucap Dirga dengan dingin.
"Deal!" jawab Zico membuat Dirga menyeringai.
"Sebentar lagi aku akan ke kantor Papa!" ucap Dirga dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Vera mencegah tangan Dirga yang hendak keluar dari kamarnya. Sejak tadi Vera merasa penasaran dengan apa yang sedang Dirga bicarakan dengan papanya. "Mau kemana?" tanya Vera dengan manja.
Jujur saja Dirga merasa gemas dengan sikap manja Vera kepadanya tetapi ini semua Dirga lakukan agar Vera paham jika wanita itu juga membutuhkannya.
"Aku sebentar lagi mau berangkat ke Yogyakarta. Kamu gak antar aku ke bandara?" tanya Vera dengan sendu.
Dirga melepas tangannya yang dipegang oleh Vera. "Kamu mau mandiri, kan? Nanti ada supir yang akan mengantarkan kamu. Aku harus ke kantor ada meeting penting yang harus aku ikuti," ucap Dirga dengan datar dan sangat menohok hati Vera saat ini.
Ingin sekali Vera menangis kencang di hadapan Dirga tetapi ia sangat malu untuk melakukannya karena usianya lebih tua dari Dirga dan tak mungkin ia bersikap kekanakan di hadapan Dirga.
"Hati-hati kabari aku jika sudah sampai. Aku pergi dulu," ucap Dirga dengan tegas dan langsung meninggalkan Vera begitu saja.
Tubuh Vera luruh ke lantai saat tubuh Dirga semakin menjauh. Air matanya jatuh begitu saja bersamaan dengan tubuh Dirga yang tak lagi terlihat. "Hiks...hikss...kenapa aku jadi sangat cengeng sih? Waktu bercerai dengan Mas Anton aku tidak menangis tergugu seperti ini, seperti yang aku rasakan pada Dirga sekarang. Huhuhu...kenapa rasanya sangat menyesakkan sekali saat Dirga tak peduli kepadaku seperti tadi," ucap Vera dengan menangis sesugukan.
"Tante Vera kenapa menangis seperti anak kecil?" tanya Virgo dengan heran saat ia masuk ke kamar Vera untuk menemani tantenya pergi ke bandara sesuai yang diperintahkan calon om mudanya tersebut.
Vera terbangun dengan cepat saat mrlihat keberadaan Virgo di kamarnya, ia cepat-cepat memghapus air matanya kembali. "N-ngapain kamu di sini?" tanya Vera dengan malu karena ketahuan menangis oleh keponakannya.
"Mau antar Tante ke bandara lah. Tadi Dirga telepon Virgo untuk temani Tante karena dia ada meeting mendadak," ucap Virgo dengan tenang.
"Dirga beneran gak bisa temani Tante?" tanya Vera dengan lirih yang membuat Virgo semakin ingin memanas-manasi Vera.
"Gak bisa katanya. Mungkin di tempat meeting ada cewek cantik kali," ucap Virgo dengan santai yang membuat Vera menatap tajam ke arah Virgo.
Bukkk...
"Dirga punya Tante!" teriak Vera dengan marah dan memukul Virgo dengan brutal menggunakan bantal.
"Aduh...ampun Tante!" teriak Virgo yang berusaha menghindar dari amukan Vera.
"Tante gak akan biarin cewek-cewek gatal merebut Dirga dari Tante!" teriak Vera dengan murka. Suasana hatinya yang sudah buruk bertambah buruk karena ucapan Virgo, Vera menjadi tidak ingin pergi ke Yogyakarta. Bagaimana nanti jika Dirga menemukan wanita lain di sini?
"Iya-iya Tante. Dirga hanya milik Tante! Sekarang lepaskan cubitan Tante dari perut Virgo. Ini sakit Tante," ringis Virgo yang membuat Vera mendengkus kesal menatap Virgo.
"Kamu di sini sebagai mata-mata Tante. Kalau Dirga macam-macam kabari Tante!" ucap Vera dengan tajam yang membuat Virgo mengangguk takut.
"Iya Tante. Sekarang berangkat yuk, pak supir udah menunggu di mobil," ucap Virgo berusaha tenang.
"Bawa koper Tante!" ucap Vera dengan ketus yang membuat Virgo menghela napasnya dengan perlahan.
"Sabar-sabar Virgo!"
****
Zico menepuk pundak anaknya dengan bangga. Dirga berhasil memenangkan tender dengan keuntungan milyaran untuk perusahaannya. Dirga memang seperti dirinya dan Leon yang sangat bekerja keras tetapi sikap Leon lah yang lebih banyak menurun kepada Dirga.
"Sesuai janji Papa yang akan langsung merestui hubungan kamu dengan Vera. Jadi, kapan kamu akan melamar Vera?" tanya Zico yang masih sangat merasa bangga dengan pencapaian anaknya.
"Papa telat. Aku sudah melamar Vera langsung di hadapan kedua orang tuanya. Dan aku tinggal menunggu kepulangan Vera agar aku bisa langsung menikahinya," ucap Dirga dengan tegas membuat Zico tak menyangka akan keberanian anaknya.
"Hahaha...anak Papa ternyata sangat pemberani. Papa yang akan memfasilitasi pernikahan kamu, Papa ingin pernikahan kamu digelar dengan sangat mewah. Katakan ini semua pada ayah dan bunda kamu ya," ucap Zico menepuk pundak Dirga dengan bangga.
Dirga menyeringai. Ia menatap papanya dengan serius. "Bagaimana jika mobil keluaran terbaru juga," ucap Dirga dengan santai yang membuat Zico terkekeh.
"Oke nanti akan Papa antar mobil itu ke rumah ayah dan bunda kamu," ucap Zico tanpa beban yang membuat Dirga tersenyum bahagia.
"Oke. Dirga pulang dulu," ucap Dirga dengan datar yang membuat Zico mengangguk.
"Anak itu bisa saja memeras kekayaan papanya sendiri. Tapi aku bangga dengannya yang sangat pemberani," gumam Zico menatap kepergiaan Dirga dari ruangannya.