
...Happy reading...
****
"Hari ini kamu tidak usah kerja," ucap Leon yang baru saja mandi di rumah Laura.
Laura mengerjapkan matanya, merasa tidak suka dengan larangan Leon untuknya. "Hari ini restoran pasti ramai Pak. Kasihan mbak Cika dan yang lainnya jika saya tidak ada untuk membatu mereka," ujar Laura dengan sedikit kesal.
"Saya baru saja kembali dan kamu sudah mau sibuk dengan pekerjaan? Restoran itu milik saya kamu tidak bekerja pun kebutuhan kamu dan Dirga akan saya penuhi," ucap Leon dengan datar membuat Laura mendengkus tidak suka.
"Saya tidak enak dengan chef yang lain, Pak!" ucap Laura dengan penuh penekanan.
"Nda ngan malah-malah ma yah," ucap Dirga memeluk Leon. Sejak bangun dari tidurnya Dirga terus berada di gendongan Leon. Anak itu tidak mau turun dari gendongan Leon sekalipun Laura yang membujuknya.
"Bunda gak marah-marah, Nak," ucap Laura dengan lembut. Leon tersenyum puas saat Dirga selalu berada di pihaknya.
"Dirga mau gak pergi jalan-jalan sama bunda dan Ayah?" tanya Leon kepada anaknya.
Dirga tampak berpikir dan anak itu langsung mengangguk dengan senang. "Pelgi jalan-jalan temana Yah?" tanya Dirga dengan mata berbinar anak dengan usia dua tahun itu sangat antusias saat Leon mengajaknya.
"Ke kebun binatang di sana banyak hewan-hewan yang lucu. Dirga mau?" tanya Leon dengan mencubit pipi Dirga dengan gemas.
"Au Yah. Ayo pelgi sekalang!" ucap Dirga antusias.
"Ayo Bunda siap-siap jangan cemberut terus," ucap Leon dengan menggoda Laura. Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal karena Leon selalu mempengaruhi otak anaknya dan kenapa setelah Leon kembali sikap menyebalkan Leon menurun kepada Dirga.
"Kalian tunggu di luar!" ucap Laura dengan kesal. Leon terkekeh melihat kekesalan Laura terhadapnya.
"Jangan marah-marah. Nanti malam saya kasih jatah," ucap Leon berbisik ke arah Laura agar Dirga tidak mendengar ucapannya tersebut.
Laura mengepalkan tangannya, ia sangat kesal dengan Leon yang selalu mesum kepadanya. Untung saja ia meminum pil pencegah kehamilan karena tidak mungkin Laura hamil di saat ia tidak mempunyai status hubungan dengan Leon.
***
Dirga tampak sangat senang saat melihat berbagai jenis hewan. Anak itu terlihat gembira saat Leon memberikan makanan untuk hewan yang berada di kandangnya.
"Tu apa Yah?" tanya Dirga dengan antuasias.
"Itu rusa, Sayang," jawab Leon dengan sabar saat anaknya banyak bertanya sejak tadi. Laura hanya mengikuti dua lelaki yang sangat terlihat akrab sekali walau tidak ada ikatan darah di antara mereka, Laura tersenyum saat melihat tawa yang begitu bahagia dari Dirga lalu ia menatap ke arah Leon yang terlihat sangat menyayangi anaknya. Apakah jika mereka nantinya menikah Leon masih menyayangi anaknya? Atau akal-akalan pria itu untuk mendekatinya saja? Pikiran negatif Laura terhadap Leon selalu saja menghantui hatinya, ia ragu untuk menerima Leon di dalam hidupnya dan Laura yakin hidup sendiri lebih baik dari pada harus menikah lagi tetapi tertekan batin dan fisik. Laura tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kembali mencintai seseorang namun berakhir menyakitkan.
Dirga sudah sangat terlihat lelah sekali, sejak tadi ia terus berjalan ke sana kemari dengan pengawasan Leon dan Laura, tak lama Dirga sudah tertidur di gendongan Leon membuat Leon menghela nafas lega karena menjaga anak yang sangat aktif ternyata sangat lelah sekali.
Sekarang Leon dan Laura masih duduk sehabis menikmati makanan mereka. "Dirga belum makan, tapi sudah tertidur," ucap Laura.
"Tidak apa-apa. Dirga sudah kelelahan sejak tadi," ucap Leon mengusap keringat Dirga yang berada di dahi anak itu dengan perlahan.
"Iya. Nanti kalau bangun pasti minta makan," ucap Laura dengan tersenyum membayangkan betapa lahapnya Dirga makan.
"Sudah sore ayo kita pulang!" ucap Leon dengan tegas.
Laura mengangguk setuju karena memang ia juga sudah merasa lelah, kakinya sudah terasa pegal karena berjalan terus menerus mengikuti Dirga. "Biarkan saya yang menggendong Dirga, Pak!" ucap Laura dengan mengulurkan tangannya agar Leon memberikan Dirga untuknya. Sekarang Dirga sudah berada di gendongan Laura, saat ini ketiganya sudah berada di mobil Leon dengan pria itu yang menyetir. Leon melirik ke arah Laura, ia masih sangat merindukan Laura walau seharian mereka sudah bersama.
"Kita mau kemana, Pak? Ini bukan jalan ke rumah saya," ucap Laura dengan bingung.
"Ke apartemen saya," ucap Leon dengan tenang membuat Laura waspada dengan senyum menyeringai Leon kepadanya.
"Kenapa ke sana?" tanya Laura dengan cemas, jantungnya kembali berdetak sangat cepat kembali saat Leon menggenggam tangannya dengan meremasnya.
"Saya masih ingin melepas rindu bersama kamu," ucap Leon dengan tenang membuat Laura menelan ludahnya kasar.
"Kita tidak melakukan itu lagi, kan?" tanya Laura dengan waspada.
"S-saya..."
"Saya tahu kamu juga merindukan saya. Kita nikmati berdua," ucap Leon dengan gemas ke arah Laura yang berpura-pura tidak mau tetapi juga menikmati sentuhannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit akhirnya Leon dan Laura sampai di apartemen Leon. Dengan ragu ia mengikuti langkah Leon yang sudah mengambil ahli Dirga kembali. Entah mengapa kakinya terus mengikuti langkah Leon sampai ke dalam apartemen pria itu, pikirannya ingin melangkah pulang tetapi kaki dan hatinya malah duduk di sofa saat Leon menidurkan Dirga di kamar. Dengan penasaran Laura melihat sekeliling apartemen Leon yang cukup rapi sekali, jantungnya kembali berdetak dengan keras saat langkah kaki Leon mendekat ke arahnya.
"Kamu tidak lapar?" tanya Leon duduk di sebelah Laura.
"T-tidak... Kita sudah makan tadi," ucap Laura dengan gugup.
"Mendekatlah ke arah saya Laura jangan menjauh seperti itu!" ucap Leon dengan tegas saat Laura menggeser duduknya menjauh darinya. Leon menarik Laura dengan keras hingga wanita itu duduk di pangkuan Leon, mata mereka saling memandang satu sama lain, Leon menyelipkan rambut Laura kebelakang telinga wanita itu. Laura tampak mematung memandang Leon dari dekat sangat menghipnotis penglihatannya. Leon menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu membuat Laura merinding karena ulah Leon tersebut.
"Kapan kamu siap saya nikahi?" tanya Leon dengan lirih.
"S-saya tidak tahu," jawab Laura dengan terbata saat Leon memberikan sentuhan di kulit lehernya.
"Laura!" Panggil Leon dengan serak.
"I-iya..."
"Kenapa kamu selalu menolak lamaran saya tetapi tidak menolak sentuhan saya hmm?" tanya Leon bersamaan dengan ia membaringkan tubuh Laura di sofa dengan perlahan.
"Ah... Saya..." Laura mendesah saat Leon menyentuh dadanya dengan lembut. Dada itu sudah tidak di his*p oleh Dirga karena anaknya sudah berumur dua tahun lebih tetapi Leon sangat gemas melihatnya. Tanpa kata Leon langsung melancarkan aksinya, melihat Laura sudah pasrah di bawahnya membuat Leon tidak tahan lagi. Gairahnya sudah membumbung tinggi saat Laura bergerak dengan gelisah hingga mereka kembali menyatu dengan keadaan sadar tanpa penolakan dari Laura. Tetapi jika diajak menikah Laura selalu menolaknya hingga Leon frustrasi karenanya, suara desahan yang saling bersahutan terdengar di seluruh ruangan, kali ini Laura tampak lebih agresif dari biasanya, wanita itu seperti sudah ketagihan dengan sentuhan Leon kepadanya. Laura merasa rahimnya kembali penuh karena cairan Leon, keduanya berpelukan sehabis bercinta dengan hebat.
"Minggu depan temani saya ke pernikahan keponakan saya," ucap Leon memeluk Laura dari belakang saat mereka habis bercinta.
"Pekerjaan saya bagaimana?" tanya Laura dengan lirih.
"Restoran akan libur di hari itu," ucap Leon dengan tenang.
"Tapi Dirga," ucap Laura mencari alasan agar Leon tidak mengajaknya.
"Bisa dititipkan dengan gadis yang selalu bersama kamu," ucap Leon dengan tegas membuat Laura tidak bisa mencari alasan lagi yang membuat Leon tidak mengajaknya.
"Saya tidak mau kamu selalu menolak saya, Laura!" ucap Leon dengan datar. Laura menatap Leon yang sedang memeluknya dengan erat karena ia membalikkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Leon. Mereka masih sama-sama polos, tangan Laura menyusuri wajah Leon dengan lembut.
"Jangan memancing saya untuk mengajakmu menikmati sentuhan saya kembali, Laura. Saya pastikan kamu tidak bisa berjalan," ucap Leon menggendong Laura dari depan membuat wanita itu refleks melingkarkan kakinya di pinggang Leon.
"Baju kita?" tanya Laura dengan panik.
"Tidak usah pakai baju karena saya masih ingin menikmatimu!" ucap Leon dengan tegas.
"Bapak mau bawa saya kemana?" tanya Laura dengan panik.
"Kamar mandi!" jawab Leon dengan datar. Kenapa Leon sangat mesum sekali? Besok pasti dirinya tidak bisa berjalan karena ulah Leon saat ini.
****
Update malam ya!
author juga punya novel di aplikasi kuning jadi harus update juga di sana walau lebih mengutamakan novel ini.
Gimana parti ini?
Om Leon semakin meresahkan ya?
Jangan lupa like, vote dan komentar sebanyak-banyaknya ya!