
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
Orang tua mana yang tidak terpukul karena kehilangan anaknya, itulah yang dirasakan oleh kedua orang tua Ihsan. Mereka terus menangis mengiringi pemakaman Ihsan. Sultan juga ikut hadir di sana, ada beberapa keluarganya termasuk Leon hadir di sana sedangkan Ika menunggu operasi Cut yang baru dilaksanakan saat Ihsan dikuburkan.
Sultan menghampiri besannya. Ia memeluk besan lelakinya. "Saya tahu ini sangat berat, tetapi kita ikhlaskan kepergian Ihsan dan calon kedua anak kembarnya," ucap Sultan dengan lirih menatap satu gundukan besar dan di sebelahnya ada kuburan mungil calon cucu kembarnya yang sudah tiada ikut dengan sang ayah.
"Iya kamu benar. Tetapi kami masih terpukul dengan kepergian Ihsan, kenapa dia sangat cepat sekali meninggalkan kami. Padahal hanya Ihsan anak yang kami miliki," balas Anton dengan lirih.
"Hiks... Apakah ini karma kami yang dulu pernah memaksa Ihsan untuk menikah lagi? Sekarang kami kehilangan Ihsan dan calon cucu kembar kami yang kehadirannya saja belum diketahui," ucap Ambar dengan menangis menyesali perbuatannya dulu.
Sultan sudah mengetahui permasalahan rumah tangga Ihsan dan Cut dulu. Sultan ingin marah kepada kedua besannya ini tetapi Cut selalu mencegahnya karena masalah rumah tangga dirinya dan Ihsan biar mereka berdua yang menyelesaikan dan sekarang Sultan sudah memaafkan keduanya asal mereka tidak menyakiti Cut, anaknya.
"Ini bukan kesalahan kalian. Ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa dan kita harus menerimanya walau terasa sulit," ucap Sultan dengan bijak.
"Sekarang saya harus kembali ke rumah sakit karena Cut sedang dioperasi," lanjut Sultan.
"Kami ikut!" ujar Anton dan Ambar bersamaan, mereka ingin melihat kondisi Cut dan cucu mereka yang sedang sakit juga karena ikatan batin Mashita dengan orangnya yang cukup kuat.
Sultan memgangguk. Ketiganya lergi ke rumah sskit dalam keadaan bersedih, sesekali Ambar melihat ke arah makam Ihsan yang masih basah dan kedua cucunya yang berdampingan. "Tenang di sana, Nak! Maafkan kesalahan Mama," ucap Ambar dengan lirih.
******
"Nenek, Mashita mau bunda dan ayah," ucap Mashita merengek.
Ica menjadi bingung sendiri. Mashita adalah cucu kembarannya dan juga termasuk cucunya, saat ini Ika sedang menunggu operasi Cut selesai dilakukan dan Ica menunggu Mashita di dalam sini.
"Sayang, bunda dan ayah sedang sakit juga. Mashita juga sakit dan harus dirawat dulu ya," ucap Ica dengan lirih.
"Mau bunda, ayah!" rengek Mashita dengan menangis yang membuat Ica ikutan nangis, ia menjadi bingung sekarang harus melakukan apa.
"Biar Mashita sama Dio, Tante!" ucap Dio yang baru saja masuk ke ruangan Mashita.
"Dio, tolong bantu Tante buat kasih pengertian kepada Mashita. Tante benar-benar bingung sekarang," ucap Ica dengan menangis sungguh melihat Mashita tangisannya semakin menjadi, anak dua tahun itu sudah harus ditinggalkan ayahnya untuk selama-lamanya. Bukankah itu sangat menyakitkan?
Dio mengangguk ia menatap Mashita yang sedang menatapnnya dengan pipi bulat dan mata bulatnya sungguh Dio gemas melihatnya. bukankah seperti Cut yang dulu saat merengek kepadanya sewaktu Cut masih kecil?
"Om siapa?" tanya Shita dengan menghapus air matanya. Tubuhnya masih lemas karena terus menangis menginginkan bunda dan ayahnya. Kenapa semua orang seperti menjauhkannya dari kedua orang tuanya?
Dio mengeluarkan boneka kelinci yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. "Halo Shita perkenalkan ini om Dio," ucap Dio dengan tersenyum. "Perkenalkan nama kamu juga Cil!" ucap Dio pada boneka kelinci yang ia pegang.
"Halo cantik nama aku Ucil. Kamu cepat sembuh ya biar kita bisa main bareng," ucap Dio menirukan suara anak kecil dan menggerak-gerakan bobeka kelincinya.
"Ucilnya gemesin!" ucap Mashita dengan gemas ingin meraih boneka kelinci tersebut dari tangan Dio tetapi Dio sengaja menghindari.
"Ucil tidak mau digendong sama Shita kalau ucil dan om Dio belum temenan sama Shita," ucap Dio tetap pada mode suara anak kecilnya.
"Shita mau tidak temenan sama kami? Nanti kalau Shita udah sembuh kita bisa makan es krim bareng loh," lanjut Dio lagi.
Mashita mengangguk dengan cepat. "Shita mau temenan sama Ucil dan om Dio. Sini ucilnya sama Shita," rengek Mashita yang membuat Dio tertawa gemas termasuk Ica yang juga ikut tertawa tetapi air matanya tetap mengalir, buru-buru Ica hapus air matanya dan menatap interaksi antara Mashita dan Dio.
Dio mengecup puncak kepala Mashita dengan sayang. Bahagia sekali bisa dekat dengan anak dari wanita yang ia cintai, tetapi hatinya masih merasa was-was karena operasi Cut belum juga selesai sampai sekarang. Dio takut kehilangan Cut untuk kedua kalinya.
"Sekarang kita teman!" ucap Dio memberikan jari kelingkingnya pada Mashita. Mashita mengangguk dengan senang dan membalas tautan kelingking Dio.
"Om dokter ya?" tanya Mashita saat melihat Dio mengenakan jas dokter seperti bundanya.
"Iya, Dong. Dokter yang akan merawat Mashita dan bunda Cut," ucap Dio dengan tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca karena sedih.
"Kenapa hanya merawat Mashita dan Bunda, om? Ayah juga sakit dan butuh dirawat juga," tanya Mashita dengan polosnya tetapi itu berhasil membuat Dio dan Ica melirik satu sama lain dalam diam dengan tatapan sendu mereka, Mashita belum mengerti arti sebuah kehilangan, anak itu masih terlalu dini untuk menerima semua kesakitan tanpa seorang ayah di dalam hidupnya.
"Ayah Shita sudah sembuh dan tidak akan lagi merasakan kesakitan," ujar Dio dengan lembut. Ica menggigit jarinya untuk menahan isakannya.
"Ayah sudah sembuh? Tapi kenapa ayah tidak menemui Shita? Shita kangen ayah," ucap Mashita dengan sendu.
"Ucil, Shita sedih!" ucap Mashita memeluk boneka kelinci itu dengan erat.
Dio tersenyum pedih. "Ayah akan jenguk Shita nanti karena ayah masih pemulihan, badannya masih lemes," ucap Dio pelan.
"Seperti Shita ya, Om?" tanya Shita dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Dio mengangguk. Lelaki itu memeluk Shita dengan erat. "Om janji akan menjaga Shita dengan baik dan tidak akan membuat Shita sedih," gumam Dio di dalam hatinya.
*****
Ekspresi Mashita ingin ketemu ayah dan bunda.
ekspresi Mashita waktu di kasih boneka kelinci sama om Dio.
Ucil kesayangan Mashita sekarang.