Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~60 (Kebahagiaan Keluarga Kecil)



...Maaf telat update guys...


...Happy reading...


****


Menjadi ibu baru ternyata sangat menyenangkan untuk Cut walau ia harus kerepotan mengurus anaknya dan rencananya Cut ingin melanjutkan kuliahnya yang pernah tertunda saat dirinya hamil. Kini, semuanya kembali normal, ia tidak melupakan kewajibannya sebagai istri dan ibu ketika ia nanti melanjutkan koasnya yang pernah tertunda.


Saat ini Cut sedang memandikan anaknya. Gemas dengan Mashita, Cut selalu menciumi wajah sang anak yang semakin hari semakin gembul sekali bahkan sang suami juga sangat gemas dengan Mashita.


"Anak Bunda sudah wangi, " ucap Cut dengan senang.


"Sekarang Mashita sama ayah dulu ya. Bunda mau mandi juga," ucap Cut menggendong anaknya dan memberikan Mashita kepada Ihsan yang berada di ruang kerjanya.


"Abang!" panggil Cut dengan lembut.


Ihsan yang saat ini mencoba menahan rasa sakit kepalanya mulai menormalkan kembali ekspresi wajahnya di hadapan sang istri yang telah menggendong Mashita.


"Iya, Sayang. Kenapa? Mashita rewel?" tanya Ihsan dengan pelan.


"Tidak, Bang. Aku mau mandi, Mashita sama Abang dulu ya," ucap Cut dengan tersenyum.


"Boleh. Bawa Mashita ke sini, Sayang!" perintah Ihsan dengan senang.


Cut memberikan Mashita kepada sang suami. "Aku mandi dulu ya Bang," ujar Cut.


"Iya, Bunda. Mandi biar semakin cantik," ucap Ihsan dengan menirukan suara anak kecil.


Cut terkekeh dan sebelum pergi ke kamarnya kembali Cut mencium Mashita dengan gemas. "Abang tidak dicium, Dek?" pinta Ihsan dengan manja.


Cup...


"Jagain Mashita, Abang!" ucap Cut berlalu begitu saja setelah mencium Ihsan tepat pada bibirnya dengan sekilas. Ia masih merasa malu dengan tingkahnya yang mencium suaminya duluan dan itu membuat Ihsan terkekeh gemas. "Lihat Nak! Bundamu itu sangat menggemaskan bukan?" ujar Ihsan dengan terkekeh.


"Wangi banget anak Ayah," ucap Ihsan menciumi pipi gembul Mashita dengan gemas. Rengekan Mashita menjadi obat tersendiri untuk Ihsan saat ini. Di rasa sakit kepalanya berangsur menghilang Ihsan mulai berdiri dari duduknya, tetapi baru selangkah ia berjalan kepalanya kembali berdenyut sakit.


"Astaghfirullah." Ihsan hampir saja tak sengaja melepaskan gendongannya pada Mashita saat ia ingin berpegangan pada kursi. "Maafkan Ayah, Nak," gumam Ihsan dengan lirih.


Tak berani membawa Mashita keluar akhirnya Ihsan duduk kembali di kursinya tadi. Ia menatap Mashita dengan dalam. "Yang paling Ayah takutkan saat ini adalah tidak bisa merawatmu bersama dengan bunda sampai kamu dewasa, Nak. Tetapi satu pesan Ayah jaga bunda dengan baik jika Ayah tidak bisa bersama dengan kalian lagi ya. Jangan buat Bunda sedih," gumam Ihsan dengan lirih mengelus pipi Mashita dengan lembut.


Seakan tahu yang diucapkan Ayahnya. Mashita menggenggam jari Ihsan dengan erat dengan tangan mungilnya dan mata teduhnya menatap mata sang ayah tanpa berkedip. "Mashita sudah janji sama Ayah untuk terus menjaga bunda," ucap Ihsan dengan tersenyum.


Ihsan meletakkan anaknya di dadanya. Ia mengelus punggung anaknya dengan lembut sampai Mashita tertidur kembali. "Ayah sayang kamu," ucap Ihsan dengan suara bergetar menahan tangisnya.


*****


Masa mengidam Vera sudah lewat. Ibu hamil itu mempunyai hobi baru menyulam baju-baju untuk bayinya kelak. "Mas," panggil Vera dengan manja saat Dirga baru saja keluar dari kamar mandi.


Dirga menghampiri sang istri dan berjongkok di hadapan Vera untuk meminta dikeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia bawa. "Mau apa lagi, Sayang? Minta jatah lagi? Aku bahkan baru siap mandi," ucap Dirga dengan mesumnya.


"Mes*m! Pikirannya selangkang*n mulu ih," ujar Vera dengan kesal.


"Tapi kamu suka, kan?" tanya Dirga dengan jahil.


Kenapa sih semakin hari Vera semakin jatuh cinta dengan lelaki ini?


Dirga terkekeh dan menciumi perut bulat Vera dengan gemas. "Kalau tidak begitu kalian tidak akan hadir di perut mama. Iya, kan?" ucap Dirga dengan pelan.


"Awww..." Vera meringis saat kedua anaknya di dalam perutnya terlalu aktif menendang jika Dirga sudah mengajak mereka mengobrol.


"Pelan-pelan, Nak. Kasihan Mama," ucap Dirga mengelus perut Vera dengan lembut.


Vera hanya bisa meringis kala lagi dan lagi kedua anaknya kembali menendang. "Mereka sangat suka mendengar suara papanya," ucap Vera dengan meringis.


Dirga terkekeh. Masih memakai boksernya Dirga naik ke atas kasur. "Sini kakinya," ucap Dirga dengan lembut.


"Kuku kaki aku sudah panjang. Aku tidak bisa potong sendiri," ucap Vera dengan manja.


"Iya aku tahu, Sayang. Makanya Mas mau potongin ini," ucap Dirga dengan lembut.


Dirga mengambil gunting kuku di laci. Ia dengan sangat telaten mengunting kuku istrinya yang memang sudah terlihat panjang.


"Mas kalau badan aku melar sehabis melahirkan kembar kamu masih suka sama aku tidak?" tanya Vera dengan pelan di sela-sela memperhatikan suaminya yang sedang memotong kukunya.


Dirga menghentikan gerakannya sejenak lalu menatap ke arah Vera. "Tinggal cari lagi, Sayang. Gimana kamu setuju?" tanya Dirga dengan jahil.


"Mass!!!!" ucap Vera dengan kesal. "Kalau kamu cari istri baru aku juga bisa cari suami baru," ujar Vera dengan kesal.


Dirga terkekeh. "Emang bisa pisah dari aku hmm?" tanya Dirga.


"Tau ah... Aku kesal sama kamu!" ucap Vera ngambek. Karena apa yang dikatakan Dirga benar dirinya tidak bisa pisah dari suaminya itu. Kemana pun Dirga, Vera akan selalu menelepon Dirga agar segera pulang.


"Aku bercanda, Sayang. Bagaimana pun bentuk tubuh kamu nanti aku akan tetap mencintai kamu," ucap Dirga dengan tulus.


"Bohong!"


"Beneran, Sayang!" ucap Dirga dengan tersenyum.


"Jangan ngambek lagi ya. Kakinya jangan gerak-gerak nanti luka," ucap Dirga dengan tegas.


Bibir Vera masih cemberut saja sampai Dirga selesai memotong kukunya. Cara ampuh yang membuat sang istri tak mengambek lagi adalah dengan memanjakan Vera. Dirga memeluk Vera dari belakang dengan mengusap perutnya dengan lembut. Vera yang sudah merasa nyaman bersandar di dada bidang sang suami.


Tangan Dirga masuk celana Vera bermain di area favoritnya. "Sssttt..." Vera mendesis dan semakin melebarkan kedua pahanya saat jari sang suami bermain di sana.


"Enak?" tanya Dirga dengan lirih. Vera mengangguk menikmati setiap gerakan jari Dirga semakin cepat hingga tubuhnya bergetar dan cairannya keluar membasahi jari Dirga.


"Mau mana lagi?" tanya Dirga dengan lembut.


"Dada," jawab Vera dengan napas yang memberat.


"Pakai mulut kamu Mas," ucap Vera dengan lirih.


"Laksanakan tuan putri," ucap Dirga merasa menang.


Rumah tangga mereka selalu harmonis karena keduanya tahu cara memanjakan pasangan di atas ranjang. Anggap saja sebelum kedua anak kembar mereka lahir Dirga dan Vera sama-sama menikmati keintiman mereka jika sedang berdua. Bagi Vera, suaminya sangat bisa memanjakannya di atas ranjang maupun yang lainnya begitu juga dengan Vera yang bisa membuat Dirga sangat puas ketika mendapatkan pelayanan terbaik dari sang istri.