Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~78 (Kecewa Atau Karma)



...Happy reading...


****


Malam pengantin seharusnya menjadi sesuatu hal yang membahagiakan, tetapi tidak dengan Rama, ia mungkin kecewa tetapi ia sadar kesalahannya juga banyak. Mungkin ini adalah karma yang ia tuai karena telah melukai Ika.


"Siapa yang melakukannya untuk pertama kalinya?" tanya Rama dengan datar terkesan dingin. Bagaimana tidak saat Rama ingin menyatu dengan Kirana karena gadis itu selalu menggodanya tetapi yang ia dapat adalah miliknya tidak menemukan dinding selaput darah, miliknya sangat mudah masuk ke milik Kirana. Rama yang saat itu sudah sangat bergairah kini tidak dapat bergairah lagi. Ia langsung melepas penyatuan mereka tanpa mendapat pelepasan. Selama 8 tahun berpacaran Rama sama sekali tidak menyentuh Kirana bahkan berciuman juga jarang. Lalu siapa lelaki yang pertama menyentuh istrinya? Inikah rencana dari kedua orang tua Kirana yang ingin segera menikah dengan anaknya?


Kecewa? Tentu saja Rama kecewa malam ini adalah malam yang sangat menyakitkan menurutnya.


Kirana tergugu, ia memeluk lututnya dengan menangis. Ia tahu kesalahannya yang membuat Rama akan semakin membencinya. "Juragan Baron," ucap Kirana dengan lirih yang masih bisa didengar oleh Rama.


Juragan Baron adalah orang terkaya di desanya, lelaki yang seusia bapak Kirana itu sudah memiliki dua istri dan sekarang Kirana adalah korban dari n*fsu Juragan Baron. Rama menatap ke arah Kirana dengan tajam. "Kenapa kalian bisa melakukannya? Sejak kapan? Apa bapak dan ibu tahu soal ini? Apa ini penyebab mereka ingin saya segera menikahi kamu?" Rama memberondong pertanyaan kepada Kirana dengan tajam.


"J-juragan Baron berjanji akan memberikan uang banyak jika Kirana mau melakukannya hiks...hiks... Kami melakukannya sebulan sesudah kepergian Akang Rama ke Kota. Sejak tahu Akang Rama sudah sukses di kota Kirana ingin menyusul Akang karena ingin segera menikah dan tidak mau terikat dengan juragan Baron lagi. Bapak dan ibu mengetahui semuanya, jadi mereka mempercepat pernikahan kita. Hiks...hiks maafkan Kirana, Akang!" Kirana berurai air mata berlutut di hadapan Rama yang terlihat diam dan dingin, Kirana tidak tahu apa yang dipikirkan suaminya tersebut.


Sebulan sesudah Rama pergi ke Kota? Itu artinya 5 tahun lalu? Kirana sudah melakukannya sangat lama? Berarti Kirana yang mengkhiati dirinya duluan? Rama tertawa sumbang. Kecewa dan karma mungkin datang bersamaan menghantui dirinya.


"Itu sudah berlalu Akang. Kirana ingin kita memulainya dari awal, bukannya Akang juga sudah tidak perjaka sampai Ika hamil anak Akang?" ucap Kirana hingga menohok hati Rama.


Bukan masalah perjaka atau perawan! Hanya saja tentang hatinya yang saat ini hancur. Jika tahu dari awal, Rama tidak akan menikahi Kirana mungkin ia akan menyusul Ika dan memperjuangan wanita itu. Tetapi ia terlalu bodoh untuk tidak mencari kebenarannya, yang ia pikirkan hanya balas budi semata yang ternyata menghancurkan seluruh hidupnya.


"Saya mau sendiri!" ucap Rama melangkah keluar dari kamar Kirana.


"Akang jangan pergi!" teriak Kirana dengan menangis. Teriakan itu mengundang bapak dan ibu Kirana untuk mendekat.


Rama menatap kedua mertuanya dengan penuh kekecewaan membuat keduanya salah tingkah. "Ada apa? Kamu mau kemana? Mengapa Kirana menangis? Apa yang sudah kamu perbuat kepada anak Bapak?" tanya Bapak bertubi-tubi.


"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Ini rencana kalian agar saya menikahi Kirana, kan? Kenapa tidak Juragan Baron yang menikahi Kirana? Balas budi saya sudah lunas untuk menikahi Kirana tetapi jangan harap saya akan menyentuh Kirana! Kalian yang menciptakan neraka ini!" ucap Rama dengan tajam.


"Kamu juga sudah mengkhianati Kirana! Jangan menjadi munafik dan sok suci!" ucap Bapak dengan marah.


"Tapi Kirana yang sudah mengkhianati saya duluan! Pantas saja ada yang tidak beres dengan kalian. Tunggu sebentar di sini...." Rama dengan datar menatap ke arah mertuanya dan berbalik ke arah kamar Kirana lalu kembali ke tempat mertuanya.


"Ini uang kalian saya kembalikan. Terima kasih untuk kebaikan kalian selama ini, terima kasih karena kalian orang tua saya sempat tertolong," ucap Rama dengan dingin membuat kedua orang tua itu mematung. Ya rama mengembalikan semua uang kedua orang tua Kirana yang sudah terpakai untuk membantu biaya rumah sakit kedua orang tuanya dan setelah ini Rama tidak harus merasa harus berbalas budi apapun kepada keluarga Kirana.


Lalu bagaimana dengan pernikahannya? Entahlah Rama belum bisa memutuskan sekarang! Pikirannya masih dipenuhi oleh kekecewaan kepada dirinya sendiri.


****


Ika baru berani membuka pesan dari Rama seminggu ini. Berarti hari ini adalah hari pernikahan Rama dan Kirana, Ika tersenyum miris, sekuat apapun Ika untuk bisa kuat tetapi ternyata air matanya masih terus keluar dengan mudah jika mengingat Rama.


"Selamat Mas!" balas Kirana dengan emot tersenyum yang ia kirim kepada Rama.


Percuma saja seminggu yang lalu ia jalan-jalan untuk menghilangkan sakit hatinya ternyata luka itu kembali datang.


"Move on, Ika! Rama sudah menjadi suami Kirana!" gumam Ika dengan lirih.


Pagi harinya...


Ika merasakan perih pada matanya, karena terus menangis hingga ketiduran. Mungkin ia harus memakai kacamata hitam untuk ke restoran, ia tidak mau menjadi pusat perhatian karyawan atau pengunjung di restorannya.


Dengan gontai Ika berjalan ke kamar mandi, ia mandi dengan cepat karena tidak ingin terlambat. Setelah beberapa menit Ika keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaiannya, tak lupa juga ia mengambil kacamata hitam miliknya. Setelah selesai dan memastikan tidak ada yang ketinggalan Ika keluar dari rumahnya.


"Kak Ika!" teriak Cut dengan gembira.


Ika memaksakan senyumannya ke arah Cut yang melambai ke arahnya. "Cut ngapain?" tanya Ika yang melihat Cut sudah basah. Tumben sekali anak itu mau main air?


"Lagi ikut Papa cuci mobil," jawab Cut dengan polosnya.


"Terus Cut kenapa basah-basah gitu? Ini masih pagi loh, nanti Cut masuk angin," ucap Ika dengan perhatian.


"Hihihi.... Seru Kak. Papa yang siram Cut pakai selang," adunya membuat Ika gemas.


"Sudah mau berangkat, Dek?" tanya Sultan yang membuat Kirana terkejut.


Ika menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Sultan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Dadanya yang bidang, perutnya yang kotak-kotak dan wajahnya yang sangat tampan membuat Ika tak sadar terpesona, Rama saja tidak setampan ini dan tubuhnya tidak sebagus Sultan.


Tidak mau memandang terlalu lama makhluk Tuhan yang sangat tampan Ika memalingkan wajahnya sesaat. Walaupun ia memakai kacamata tetap saja Ika terpesona dengan tatapan Sultan yang kali ini menatapnya sangat intens.


"Ah, iya Bang. Saya berangkat dulu," ucap Ika salah tingkah.


"Hati-hati, Dek!" ucap Sultan dengan tersenyum manis. Makin melelehlah hati Ika setelah terluka.


"Iya, Bang. Dadah Cut cantik..." Ika langsung berlari ke arah mobilnya dengan salah tingkah. Duh bang Sultan kenapa harus setampan itu sih? Tapi selama ia tinggal di sini Ika belum pernah melihat Sultan meninggalkan Cut. Apa lelaki itu tidak bekerja? Aduh, kenapa Ika jadi memikirkan Sultan sih?


Sultan masih melihat kepergian Ika dengan intens. "Apa gadis itu habis menangis?" tanya Sultan pada hatinya.


"Cut, ayo mandi. Setelah itu kita pergi ke swalayan. Ada pekerjaan yang harus Papa urus," ucap Sultan yang diangguki lesu oleh Cut.


Kenapa harus mandi dan mandi? Mungkin itu adalah isi hati Cut yang tidak bisa ia ucapan secara langsung karena ia tahu kesibukkan sang papa, walau di rumah Sultan tetap bekerja. Menatap layar laptop berjam-jam dengan menampilkan grafik yang sama sekali tidak dimengerti oleh Cut.


******


Gimana dengan part ini?


Ada yang sama seperti Ika melihat bang Sultan bertelanjang dada? Apalagi terkena air 😲😲😲🤣🤣🤣


Kasihan Rama🤭🤭🤭


Ramein lagi dengan like, vote, dan coment ya.