Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~58 (Pagi Yang Indah)



...Happy reading...


****


Laura mengerjapkan matanya kala ia merasa ada sesuatu beban berat yang menimpa perutnya. Ia tersenyum tipis ketika melihat tangan leon yang memeluknya dengan sangat erat, Laura memberanikan diri menghadap ke arah sang suami yang masih tertidur dengan nyenyaknya, tangan lentiknya menyusuri wajah Leon yang sangat tampan. Dari mata, pipi, hidung mancung Leon hingga bibir tebal suaminya tak luput dari sentuhan tangan Laura.


"Aku tak menyangka sudah menjadi seorang istri dari pria kaku dan dingin seperti mas Leon," gumam Laura di dalam hatinya.


Cup...


Dengan gemas Laura mengecup bibir Leon dengan sekilas. Leon yang sebenarnya juga sudah bangun saat tangan sang istri menyentuh wajahnya hanya terdiam dan masih menutup matanya karena penasaran apa yang akan dilakukan Laura kepadanya, ternyata apa yang dilakukan Laura sungguh membuat dirinya terkejut karena Laura berani mengecup bibirnya walau sekilas.


"Seperti itukah caramu membangunkan suamimu, Sayang?" tanya Leon dengan serak khas suara bangun tidurnya.


Laura yang terkejut dengan suara Leon sedikit menjauh dari tubuh suaminya tetapi Leon semakin merapatkan pelukan mereka hingga Leon menggeram merasakan kenyalnya dada Laura saat bertabrakan dengan dada bidangnya. "Kamu membangunkan yang ada di bawah," ucap Leon dengan berat.


Laura gugup bukan main saat tangan Leon menuntun tangannya untuk memegang milik pria itu. "M-mas apa yang kamu lakukan?" tanya Laura dengan gugup.


Leon menatap Laura dengan penuh cinta. "Dia ingin berkenalan lagi denganmu. Berpisah selama 4 bulan lamanya membuat dia kesepian dan tak mau bangun," ucap Leon dengan frontal membuat kedua pipi Laura bersemu merah.


"T-tapi aku lapar," ucap Laura yang berusaha menghindari dari serangan pagi yang dilakukan oleh Leon.


"Saya juga lapar! Lapar ingin memakan kamu," bisik Leon dengan serak di telinga Laura membuat wanita itu kegelian dengan aksi suaminya.


"Kita sudah menjadi suami istri dan Mas masih berkata formal kepadaku," ucap Laura dengan mengerucutkan bibirnya kesal membuat Leon terkekeh karena di luar dugaannya Laura akan protes dengan bahasa yang ia pakai.


"Jadi kamu mau saya bagaimana?" tanya Leon yang berpura-pura tidak paham. Tangannya sudah berada di dada Laura memainkan benda kenyal itu dengan gemas membuat Laura mendesah lirih.


"Jangan saya-saya ih, aku bukan lagi rekan kerja Mas Leon!" protes Laura dengan lirih karena menahan ******* yang hendak keluar dari bibirnya.


"Kamu memang bukan rekan kerja Mas, Sayang. Tapi rekan hidup, rekan mengurus keluarga, dan yang paling penting rekan memuaskan di ranjang," ucap Leon dengan tegas. Jakunnya sudah naik turun menyaksikan Laura yang sudah bergerak tak karuan karena ulah tangannya.


"Eugh... Mas Leon," ucap Laura dengan lirih saat tangan Leon semakin menyentuh titik sensitifnya di bawah sana.


"Vitamin pagi, Sayang!" ucap Leon menaiki tubuh Laura dan sedikit melebarkan paha Laura agar miliknya bisa masuk dengan mudah.


"Mas nakal!" ucap Laura saat keduanya sudah menyatu.


"Tapi sukakan dinakalin sama suami?" tanya Leon menggoda istrinya. Laura menutup kedua matanya dengan tangan karena godaan suaminya. Dengan sigap Leon menarik tangan istrinya untuk ia genggam bersamaan dengan gerakannya yang semakin teratur, akhirnya mereka mengulangi kegiatan panas mereka di pagi hari hingga peluh kembali membanjiri keduanya.


Laura sangat terlihat lelah melayani suaminya yang seakan tidak pernah puas dengan tubuhnya, kini keduanya tergeletak tak berdaya di atas kasur setelah mendapat pelepasan untuk kesekian kalinya. Leon selalu mengucapkan terima kasih setelah sehabis bercinta hingga ketukan pintu dan teriakan anak kecil mengejutkan keduanya.


"Pakai bajumu, Sayang. Dirga datang," ucap Leon dengan cepat. Laura mengangguk dan dengan panik ia memakai bajunya serta Leon sebelum membukakan pintu untuk anaknya.


Leon membuka pintu kamarnya dan terlihat Dirga bersama dengan mertuanya yang juga menginap di hotel. "Ayah lama," rajuk Dirga membuat Leon merasa bersalah dan menggendong anaknya.


Ratna memandang menantunya dengan tersenyum geli karena banyak tanda kemerahan di leher Leon yang pasti karena ulah anaknya. "Jangan terus-terusan melakukannya, ingat Laura sedang hamil muda," ucap Ratna mengingatkan tetapi dirinya juga masih tersenyum geli saat brrbicara membuat Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ratna terkekeh. "Bisa bahaya jika guncangannya terlalu keras," ucap Ratna dengan terkekeh membuat Leon merasa semakin malu.


"Ya sudah, Mama ke kamar dulu. Kalian segera turunlah, kami menunggu untuk sarapan," ucap Ratna yang diangguki oleh Leon. Baru kali ini Leon sangat malu berbicara dengan seseorang yaitu dengan mertuanya sendiri.


"Dirga gak nangis kan tidur sama nenek?" tanya Leon saat mereka masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Laura tidak ada di atas kasur, berarti sang istri berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Ndak, Ayah. Dilga ndak angis, tapi Dilga nanti ndak au tidul cama nenek dan kakak agi," ucap Dirga saat keduanya sudah duduk di kasur.


"Kenapa gak mau tidur sama nenek dan kakek?" tanya Leon dengan bingung.


Dirga menyilangkan kedua tangannya di dada. "Dilga mau tidul cama Ayah dan bunda. Cekalang kita udah bica tidul beltiga, kan Yah?" ucap Dirga dengan mata yang sangat tajam seperti Leon.


Leon mengusap kepala anak sambungnya dengan gemas. "Boleh, asal Dirga gak ngompol. Kata Bunda kemarin Dirga ngompol. Ayah gak mau ah kalau Dirga ngompol, bau pesing nanti kasur Ayah sama bunda," ucap Leon dengan jahil.


"Kemalin Dilga ndak cengaja, Yah. Dilga mimpi pipis. Janji Dilga ndak ngompol agi," ucap Dirga dengan mata berkaca-kaca karena ia sudah sangat ingin tidur dengan kedua orang tuanya.


"Lagi ngobrolin apa sih para lelaki ganteng?" tanya Laura yang baru keluar dari kamar mandi.


"Nda, kemalin Dilga ndak cengaja ngompol. Dilga janji ndak ngompol agi. Dilga mau tidul sama ayah cama bunda," ucap Dirga dengan lucu membuat Laura gemas dan menatap suaminya.


"Boleh. Dirga udah mau jadi kakak loh. Jadi jangan ngompol terus," ucap Laura yang diangguki semangat oleh Dirga.


"Ayah mau mandi dulu. Dirga sama bunda ya," ucap Leon dengan lembut.


"Dilga uga mau mandi cama ayah. Dilga belum mandi," teriak Dirga dengan cepat berada di gendongan Leon kembali membuat Leon terkekeh.


"Oke, let's go jagoan Ayah," ucap Leon membawa Dirga ke kamar mandi sebelum itu ia mengecup kening istrinya.


Laura menatap kepergian Leon dan Dirga dengan berkaca-kaca, ia terharu dengan kasih sayang Leon kepada anaknya. "Terima kasih, mas. Berkat mas Leon, Dirga merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku bahagia sekali jika mas sangat menerima anakku. Ketakutan terbesarku dulu adalah mas hanya menyukaiku tanpa menyukai anakku ternyata aku salah kamu bahkan sangat menyayangi anakku walau anak itu adalah anak kandung musuh mas sendiri."


****


Update lagi.


Tapi kok sepi ya?


Gak semangat nih kalau sepi.


Ramein lagi gak nih?


Ramein dengan like, vote, komentar, dan favoritkan cerita ini ya.


Aku tunggu keramaian kalian.