Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~87 (Menceritakan Masa Lalu)



...Happy reading...


****


"Bisakah kita wujudkan keinginan Cut menjadikan kamu mamanya dalam artian mama sambung untuk Cut. Apakah kamu mau menikah dengan Abang? Kita sudah sama-sama dewasa. Apakah kamu mau?" tanya Sultan dengan serius.


Ika menatap Sultan dengan salah tingkah. Ia tidak tahu jika Sultan akan melamarnya secepat ini. Aish kenapa juga ia sangat gugup berbeda dengan kedekatannya dengan Rama dulu, Sultan bisa mengobrak-abrik hati dan jantungnya seakan Ika bisa sesak napas sekarang. Tapi bagaimana dengan masa lalunya? Apa Sultan mau menerimanya? Gelisah! Itu yang sekarang Ika rasakan.


"A-aku..."


Sultan menatap raut wajah Ika dengan menautkan kedua alisnya karena sekarang ekspresi gadis yang berada di depannya ini terlihat tertekan. Apa karena ucapannya tadi Ika tertekan? Apa mungkin ia terlalu cepat meminta Ika menjadi istrinya? Tetapi sesuatu yang baik tidak baik untuk ditunda bukan? Atau Ika memiliki pasangan yang berada di Jakarta? Banyak pertanyaan muncul di kepala Sultan sampai ia tidak menyadari jika Ika menatapnya dengan dalam.


"A-aku bukan gadis baik-baik, Bang! Aku kotor! Bagaimana mungkin Abang mengajak gadis kotor sepertiku untuk menikah," ucap Ika dengan serak karena saat ini airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


"A-apa maksudmu, Dek?" tanya Sultan dengan terbata. Ia bisa membaca dari ekspresi wajah Ika jika ada yang tidak beres dengan Ika. Ada apa dengan Ika? Gadis itu terlihat bersedih sekarang hal yang jarang ditunjukkan untuknya, biasanya Ika selalu tersenyum dan tertawa yang membuat Sultan bahagia. Sultan ingin memeluk Ika untuk menenangkan Ika tetapi ia tidak mempunyai keberanian sebesar itu.


Ika menarik napas dengan dalam dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Aku akan menceritakan semuanya ke Abang. Dan setelah itu Abang pasti jijik melihatku," ucap Ika dengan sendu menahan rasa sakit yang ia rasakan pada hatinya saat ini.


"Bisakah kita bicara di luar saja? A-aku tidak mungkin menceritakan semuanya di kamar Cut," gumam Ika dengan lirih.


"Ya sudah. Ayo duduk di ruang tamu saja!" ucap Sultan dengan lembut. Tanpa sadar ia menggandeng tangan Ika dan menariknya duduk di sofa ruang tamu. Ika menahan napasnya saat genggaman tangan Sultan membuatnya sangat nyaman. Apa ia bisa merasakan genggaman tangan ini lagi saat dirinya menceritakan semuanya pada Sultan? Ika yakin setelah ini Sultan akan memandangnya dengan jijik! Tetapi Ika harus jujur kepada Sultan, ia tidak ingin terjadi masalah nantinya. Bukankah terbuka itu lebih baik walau nantinya sangat menyakitkan?


"Ceritakan semuanya Abang akan mendengarkannya!" ucap Sultan dengan lembut.


Ika menerawang semua kejadian demi kejadian yang terjadi di dalam kehidupannya. "Tiga tahun lalu aku mempunyai pacar. Aku mengira semua akan berjalan dengan baik sampai kami menikah, tetapi ternyata tidak. Aku ingin dia segera menikahiku tetapi dia selalu mengelak beralasan jika dia belum sebanding dengan keluargaku yang kaya. Dia hanya anak jalanan yang dipekerjakan kakaku hingga menjadi manager di restoran kakakku. Hingga aku terbuai kenikmatan dunia...." Ika menelan ludahnya dengan kasar saat Sultan menatapnya dengan tajam. Dengan sekuat tenaga yang ia punya Ika melanjutkan ucapannya saat Sultan hanya terdiam mendengar ucapannya.


Sultan yang masih syok dengan kejujuran Ika hanya bisa terdiam menatap datar ke arah Ika membuat gadis itu tahu jika Sultan kecewa kepadanya. Tidak sanggup mendengar penolakan Sultan kepadanya, Ika bangun dari duduknya, ia ingin berlari keluar rumah Sultan. Ika sangat malu dengan Sultan tetapi tarikan tangan Sultan membuat Ika terduduk kembali.


"Menangislah sepuasnya!" ucap Sultan dengan dingin. Sekarang Ika berada diperlukannya, ia tidak tega melihat Ika seperti ini. Entahlah hatinya merasa kecewa dengan pengakuan Ika tetapi ia tidak tega melihat Ika seperti ini. Ika terisak di pelukan Sultan, pelukannya memang tidak erat tetapi wangi tubuh Sultan membuat Ika sedikit tenang.


"Aku tidak bisa di sini terus. Jika Cut mencariku bilang jika aku ada urusan!" ucap Ika dengan cepat. Ika menjauh dari tubuh Sultan dan langsung berlari begitu saja. Sultan membiarkan Ika pergi lalu setelahnya Sultan mendesah dengan berat. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia tadi sudah menyentuh Ika? Ah semakin tidak benar semuanya!


Sedangkan Ika ia memasuki rumahnya dengan perasaan hancur, ia yakin setelah ini pasti Sultan akan membencinya dan Sultan tidak mengizinkan dirinya bertemu Cut.


"Hiks... Aku ingin bahagia tetapi kenapa terlihat sangat sulit? Apa Tuhan menghukumku?" gumam Ika dengan terisak. Ika terus menangis hingga dirinya melupakan perutnya belum di isi nasi sebutir pun.


"Mas Rama sudah bahagia dengan Kirana. kenapa aku sangat sulit untuk bahagia. Tuhan maafkan semua kesalahanku. Hiks...." Ika terus bergumam dengan lirih. Ia mencintai Sultan tetapi ia sadar Sultan adalah pria yang sangat baik dan dirinya adalah gadis yang kotor. Lelah menangis Ika tertidur dengan perasaan yang masih sangat hancur, ia tidak sanggup mendapat kebencian dari Sultan. Sungguh itu sangat menyakitkan hatinya.


"Aku hanya ingin bahagia!"


****


Duh nyesek uy.


Gimana dengan part ini?


Ramein part ini!


Like, vote, dan coment yang banyak ya!