Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~2 (Berusaha Tegar)



...Happy reading...


****


Ika memperhatikan anaknya yang asyik melamun dengan buku tebal di tangannya. Ia menghampiri Cut dengan perlahan dan duduk di sebelah anaknya hingga Cut terkejut.


"Mama, hampir saja Cut jantungan!" ucap Cut mengelus dadanya.


Ika tersenyum dan memeluk anaknya dengan erat, rasanya sangat merindukan Cut. Anak kecil yang dulu sangat menggemaskan kini sudah dewasa dan terlihat sangat cantik sekali.


"Kamu melamun Mama perhatikan sejak tadi. Ada masalah apa? Tentang Dio tadi?" tanya Ika tepat sasaran. Ya sejak mereka sampai di bandara dan setelah menyapa keluarga Cut, Dio langsung pergi begitu saja meninggalkan mobilnya agar di bawa oleh Cut.


Cut tersenyum berusaha untuk tegar, dia bukan anak-anak lagi yang menangis karena terluka walau sebenarnya ia ingin. Tetapi sikap dewasanya sangat mendominasi Cut sejak kecil hingga membentuk Cut yang seperti ini.


"Emang salah ya Ma kalau Cut mencintai bang Dio?" tanya Cut dengan lirih.


"Enggak ada yang salah tentang cinta, Sayang. Tetapi Mama peringatkan jangan terlalu mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai kita. Rasanya sangat menyakitkan, Nak. Lebih baik dicintai dari pada mencintai," ucap Ika menasihati anaknya.


Cut menghela napasnya dengan perlahan. "Iya Ma. Cut akan melapaskan bang Dio jika suatu saat dia memang tak mengharapkan Cut. Tetapi biarkan Cut berjuang terlebih dahulu, bolehkan, Ma?" ucap Cut meminta pendapat mamanya.


"Boleh, Sayang. Tapi jika kamu lelah Mama mohon kamu berhenti. Karena di luar sana ada lelaki yang pasti akan memperjuangkanmu," ucap Ika dengan tersenyum. "Gimana dengan kuliah kamu, Nak? Lancar?" tanya Ika dengan lembut.


"Lancar, Ma. Cut menikmati semuanya walau terasa berat. Besok juga Cut ujian," ucap Cut dengan tersenyum.


"Jangan terlalu memforsir tubuh dan otak kamu untuk belajar terus menerus, Sayang. Kamu juga butuh liburan. Setelah ujian semester kamu mau pulang ke Medan, kan?" ucap Ika dengan lembut.


"Lihat jadwal dulu ya, Ma. Aku kan sekarang sudah mulai membantu dokter-dokter di rumah sakit termasuk bang Dio," ucap Cut dengan pelan.


"Ya sudah. Terserah kamu tapi Mama, papa dan adik-adik kamu berharap kamu bisa pulang ke Medan walau sebentar," ucap Ika pasrah. "Sekarang tidur, jangan belajar mulu! Mama yakin kamu bisa lancar menjawab soal-soal ujian besok," ujar Ika dengan lembut.


"Iya, Ma. Selamat Malam!"


"Selamat malam, Sayang!"


****


"Bang ini kunci mobilnya," ucap Cut menyerahkan kunci mobil kepada Dio. Dio menerimanya dengan ekspresi yang sangat datar.


"Hmmm."


Cut menghela napasnya. Ia lalu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam makan siang. Setelah selesai ujian dari pagi sampai siang, Cut langsung ke rumah sakit untuk mengembalikan mobil Dio.


"Meisya, bisa bantu saya?" tanya seorang dokter yang baru saja datang menyelamatkan Cut dari kebekuannya bersama dengan Dio.


"Bantu apa dokter Brian?" tanya Cut dengan sopan.


"Mendata seluruh pasien saya hari ini. Apa kamu sudah makan? Jika belum kamu bisa makan terlebih dahulu setelah itu ke ruangan saya," ucap Dokter Brian dengan perhatian.


Cut bukannya tidak tahu jika dokter Brian menaruh rasa kepadanya tetapi mereka berbeda. Tuhan mereka berbeda! Dan Cut tidak memiliki rasa untuk Brian yang ada di dalam hatinya hanya ada Dio.


"Saya belum lapar, Dok! Saya bisa langsung membantu Dokter dengan segera kebetulan dua jam lagi saya harus pulang karena kedua orang tua saya dan adik-adik saya baru saja berkunjung ke Jakarta," ucap Cut dengan sopan.


"Makan dulu baru kamu bisa membantu saya. Calon seorang dokter harus bisa menjaga kesehatannya sendiri! Bukan begitu Dokter Dio?" ucap Dokter Brian dengan tegas.


"Iya betul. Seorang Dokter harus bisa menjaga kesehatannya sendiri baru bisa membantu pasiennya!" ucap Dio dengan tegas.


"Baiklah saya akan makan di kantin rumah sakit," ucap Cut dengan pasrah.


"Saya temani!" ucap Dokter Brian dengan cepat membuat Dio langsung menatap ke arah Brian dengan tajam. Mengapa ia merasa tidak suka dengan kedekatan Brian dan Cut?


"T-tidak usah dokter. S-saya bisa makan sendiri saja, pasien Dokter pasti sudah menunggu," ucap Cut menolak dengan halus. "Permisi!" Dengan cepat Cut berjalan ke kantin rumah sakit meninggalkan Dio dan Brian yang menatap kepergiaannya dalam diam.


Ada apa dengan Dio? Mengapa ia tidak suka setiap kali ada lelaki yang mendekati Cut?


****


Author khilaf🙊🙊🙊


Kalau gak rame awas nih.


Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya.