Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~65 (Kehilangan)



...Hangan lupa ramaikan part ini ya. Mampir juga ke novel author 'Gairah Sang Dokter Duda'...


...Happy reading...


****


"Ada apa, Pak?" tanya Dio penasaran saat Taxi yang ia tumpangi tiba-tiba saja berhenti.


Dio baru pulang ke Jakarta satu hari yang lalu dan sekarang lelaki itu sedang menghilangkan rasa bosannya dengan jalan-jalan, ia sedang malas menyetir mobil sendiri, dua tahun berada di luar negeri tetapi tidak ada satu pun kenangan antara dirinya dan Cut yang terlupakan. Bahkan banyak gadis bule yang mendekatinya tetapi Dio benar-benar menutup hatinya.


'Aku akan menunggu jandamu' itulah kata terakhir yang Dio katakan sebelum pergi meninggalkan kota kelahirannya.


"Ada kecelakaan di depan, Mas. sepertinya sangat parah terlihat mobilnya ringsek," ucap supir Taxi tersebut dengan pelan.


Deg....


"Bapak tunggu sebentar ya saya akan melihat ke sana," ucap Dio dengan perasaan yang tidak tenang.


Entah mengapa jantung Dio berdetak dengan sangat kencang mendengar kata 'kecelakaan' dari supir Taxi yang ia tumpangi saat ini. Dio keluar dari Taxi tersebut dan melihat bagaimana mobil tersebut ringsek, Dio berjalan mendekat ke arah mobil tersebut, sudah ada banyak orang yang mendekat mencoba menyelamatkan orang yang berada di dalam mobil.


"Korban yang di dalam sudah di evakuasi?" tanya Dio dengan raut wajah cemas.


"Orang-orang masih berusaha mengeluarkan korban, Mas. Ada dua orang berada di dalam dan keadaan mereka cukup parah, keduanya terjepit sehingga evakuasi sedikit memakan waktu," jawab wanita di sebalah Dio.


Dio mengangguk, ia berjalan cepat ke arah mobil membantu orang-orang menyelamatkan korban. "Biar saya bantu, Pak!" ucap Dio dengan pelan.


"Iya, Mas!" ucap bapak-bapak yang mencoba mengeluarkan korban.


Dio menerobos begitu saja, ia berhasil masuk setengah badannya. Dio mencoba mengangkat korban wanita yang berada di dalam mobil. Matanya langsung melotot syok saat melihat Cut lah yang berada di dalam mobil dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah, Cut. Bangun!" ucap Dio tercekat.


Wajah Cut sudah berumuran darah yang membuat Dio semakin panik. Dio melihat kesebelah dan ada Ihsan juga di sana dengan keadaan yang jauh lebih parah.


Dio berusaha mengeluarkan Cut yang kakinya terjepit dengan susah payah akhirnya Dio bisa mengeluarkan Cut dari dalam mobil, begitu pun dengan Ihsan yang sudah bisa di keluarkan dari dalam mobil oleh bapak-bapak yang menolong mereka.


"Cut, bangun!" ucap Dio dengan mata yang memerah menahan tangis.


Dio memeluk Cut dengan erat, dia tidak ingin kehilangan Cut. Lebih baik ia kehilangan Cut karena menikah dengan Ihsan karena ia masih bisa melihat wajah Cut walau tidak bisa memilikinya.


Dio memeriksa denyut nadi Cut dengan cepat, ia merasa sedikit lega saat merasakan denyut tersebut. Dio mengambil ponselnya dengan susah payah menghubungi pihak rumah sakit. "Cepat bawa ambulance ke jalan A. Ada kecelakaan di sini," ucap Dio dengan panik. Setelah mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya Dio langsung mematikan ponselnya.


Dengan memangku kepala Cut. Dio mencoba mengecek keadaan Ihsan. "Ihsan!" panggil Dio dengan pelan saat merasakan gerakan tangan Ihsan walau perlahan.


Mata Ihsan mulai membuka perlahan, samar-samar ia melihat Dio yang menatapnya dengan cemas. "D-dio..." panggil Ihsan dengan suara tercekat.


"Sebaiknya kamu jangan banyak bicara dulu. Kita akan ke rumah sakit setelah ambulance datang," ucap Dio dengan pelan.


Ihsan menggeleng, ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Dio walau sangat terasa sulit untuknya. Dio yang paham mencoba mendekatkan telinganya pada Ihsan.


"A-aku sudah tidak bisa menjaga Cut dan Mashita. T-tolong jaga istri dan anakku dengan baik, a-aku percaya padamu Dio!" ucap Ihsan dengan terbata dan suara yang amat pelan bahkan nyaris hampir tak terdengar jika Dio tidak mendekat ke arah Ihsan.


"Jangan bicara seperti itu! Kamu masih bisa menjaga Cut dan anakmu, kita akan ke rumah sakit," ucap Dio dengan tegas.


Ihsan hanya tersenyum. Perlahan matanya kembali terpejam membawa cintanya kepada Cut sampai ke alam keabadian.


"Ihsan!" panggil Dio dengan panik.


Tidak lama ambulance datang. "Tolong bantu angkat korban!" ucap Dio dengan tegas.


Ihsan dan Cut sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulance, sebelum pergi Dio memberikan uang kepada supir Taxi tersebut yang sudah lama menunggunya, lalu Dio ikut masuk ke mobil ambulance.


"Dok, ini bukan Mesya dan suaminya?" tanya petugas ambulance.


"Benar! Cepat bawa mereka ke rumah sakit! Saya akan memeriksa keadaan mereka di sini," sahut Dio dengan panik.


"Baik, Dok!"


"Aku mohon bertahanlah!" ucap Dio dengan lirih menatap keduanya.


****


Ika dan Sultan sudah sampai di rumah bersama keluarga yang lainnya. Mashita sudah tidur dengan nyenyak.


"Bunda, ayah!" teriak Mashita dengan kencang bahkan anak kecil itu sudah menangis sesugukan yang membuat Ika dan Sultan terkejut.


"Shita kenapa, Sayang?" tanya Ika dengan panik.


"Hiks...Shita mau bunda dan ayah! Mau bunda, ayah!" ucap Mashita menangis histeris.


"Pa, Mashita tiba-tiba badannya panas banget!" ucap Ika dengan panik.


"Rizki, Rifki, Resya, Meira kalian di rumah saja ya. Papa dan Mama mau bawa Mashita ke rumah sakit," ucap Sultan dengan tegas.


"Iya, Pa. Hati-hati ya Pa, Ma. Kalau ada apa-apa kabari kami semua," ucap Rifki mewakili adik-adiknya.


"Bunda di rumah saja ya dengan Ica! Ika ke rumah sakit dulu," ucap Ika pada bundannya.


"Kalian hati-hati," ucap Saera dengan cemas dengan keadaan cicitnya.


"Iya, Bun!" ucap Ika berusaha tersenyum.


Sultan membawa mobilnya dengan cepat. "Ya Allah, Nak!" ucap Ika dengan menangis.


"Sebaiknya mama telepon Cut dan Ihsan," ucap Ika dengan sedih.


Ika mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Cut. "Tidak aktif, Pa!" ucap Ika dengan cemas.


"Coba telepon Ihsan," ucap Sultan berusaha tenang.


Ika mengangguk dan mencoba menelepon menantunya tersebut. "Tidak aktif juga. Pasti mereka sengaja mematikan ponsel mereka," ucap Ika.


Drrrttt...drrrttt.


"Ponsel Papa bunyi siapa tahu mereka," ucap Ika dengan cepat.


"Angkat Ma!" ucap Sultan menyuruh istrinya karena dirinya sedang menyetir.


"Hal...."


"Halo, Tan. Ini Dio, Dio mau mengabarkan jika Ihsan dan Cut kecelakaan!" ucap Dio dengan lirih.


Ika terdiam. Ponsel yang ia pegang sebentar lagi akan jatuh, bersamaan dengan air matanya yang mengenang di pelupuk matanya.


"K-kamu tidak sedang bercanda kan, Dio? Kamu sedang berada di luar negeri!" ucap Ika dengan terbata.


"Dio tidak bercanda, Tan. Dio sudah pulang kemarin. Ihsan dan Cut sudah berada di rumah sakit! Tante dan Om bisa ke sini. Dio akan jelaskan dengan detail nanti, kalau gitu Dio matikan dulu, Tan!" ucap Dio dengan suara bergetar.


"Kenapa, Ma? Kenapa Mama menangis? Jangan buat Papa cemas," ucap Sultan dengan pelan.


"C-cut dan Ihsan kecelakaan, Pa!" ucap Ika dengan menangis.


Deg..


"A-apa?" tanya Sultan dengan tercekat.


"Cepat, Pa! Mama mau melihat keadaan Cut dan Ihsan. Mashita juga semakin panas badannya," ucap Ika dengan menangis. Perasaannya campur aduk sekarang. Cobaan apa lagi ini Ya Allah? Batin Ika menjerit.


*****


Dio melihat kedatangan kedua orang tua Cut dengan panik. "Dio tolong panggilkan Dokter. Mashita badannya panas banget hiks..." ucap Ika dengan cemas.


"Ya Allah, Biar Mashita sama saya tangani, Tan. Tante dan Om bisa menunggu Cut dan Ihsan di sini, mereka masih di tangani oleh dokter," ucap Dio dengan cemas.


Ika menangguk, ia memberikan Mashita kepada Dio dan dengan cepat Dio membawa Mashita ke IGD.


Ika memeluk suaminya dan menangis di sana. "Tenang, Ma!" ucap Sultan dengan sendu, ia berusaha tegar di depan sang istri yang terlihat kacau.


"Bagaimana Mama bisa tenang kalau anak kita dan cucu kita sedang sakit, Pa? Mama tidak mau kehilangan lagi hiks...hiks..." racau Ika dengan pelan.


Sultan memeluk sang istri dengan erat. hatinya juga hancur mendengar kabar jika Cut dan Ihsan kecelakaan, Sultan menangis tanpa suara.


Tidak lama dokter membuka pintu yang membuat keduanya langsung memghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaan anak dan menantu saya, Dok?" tanya Sultan dengan cemas.


Dokter tersebut menghela napasnya dengan perlahan. "Maaf kami tidak bisa menyelamatkan suami Meisya. Sedangkan keadaan Meisya kritis, kami juga tidak bisa menyelamatkan kandungannya. Meisya harus melakukan operasi karena ada pendarahan di otak," ucap dokter tersebut dengan pelan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan pasiennya.


Jederrr...


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun," ucap Sultan dan Ika secara bersamaan. Mereka tidak tahu jika Cut sedang hamil, mungkin anaknya itu juga tidak mengetahui dirinya sedang hamil muda. Bagaimana mereka menjelaskan kepada Cut nantinya jika suami dan calon anaknya tidak selamat.


"A-anak saya hamil, Dok?" tanya Ika dengan terbata tubuhnya hampir ambruk jika Sultan tidak menopamg tubuhnya.


Dokter mengangguk. "Usia kandungannya sekitar 8 minggu tetapi sayang kami tidak bisa menyelamatkannya. Kami membutuhkan persetujuan bapak dan ibu untuk melakukan operasi pada Meisya sedangkan jenazah suami Meisya akan segera kami urus," ucap dokter tersebut dengan tegas.


"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan anak saya, Dok!" ucap Sultan dengan tegas.


"Hikss...hikss..Ihsan tidak mungkin meninggal kan, Pa? Sokter salah pasti memeriksa Ihsan! Bagaimana caranya kita memberitahukan Cut nantinya. Bagaimana dengan Mashita? Merdka pasti terpukul Pa!"


Ika menangis dipelukan Sultan. Tidak ada yang bisa merubah takdir hidup seseorang, kematian tidak ada yang bisa menduga. Yang tadinya bahagia bisa saja di terpa musibah dan ini adalah hari yang sangat menyedihkan untuk keluarga Sultan. Kehilangan menantu dan calon cucu mereka secara bersamaan belum juga dengan keadaan Cut yang kritis dan Mashita yang demam.