
...Happy reading...
****
Laura mengeryit heran saat melihat dua pasang sepatu mahal terletak di depan pintu rumahnya saat ia baru saja pulang dari warung bu Endah. Dengan perasaan yang was-was Laura mempercepat langkahnya, ia takut yang masuk ke dalam rumahnya adalah sang mantan suami yang mungkin akan mengambil Dirga darinya, Laura sangat takut Dirga diambil oleh Zico entah mengapa dirinya bisa berpikir seperti itu saat ini. Dengan nafas yang memburu Laura mengedarkan pandangannya dan sangat lega ketika melihat Intan menggendong Dirga tetapi yang membuat heran adalah dua lelaki yang duduk dengan tenang di sofa sederhana miliknya.
"Ah... Kak Laura sudah pulang. Untung saja Kakak cepat pulang karena Intan tidak tahu harus melakukan apa, soalnya ada tamu yang mencari Kakak," ucap Intan dengan perasaan yang begitu lega. Intan memberikan Dirga pada Laura dengan hati-hati, semua gerak-gerik Laura tidak lepas dari Leon yang menatapnya dengan sangat tenang saat ini.
"Intan buatkan minum untuk tamu Kakak dulu ya," ucap Intan yang diangguki oleh Laura dengan lirih. Perasaannya sungguh tak menentu sekarang tetapi ia merasa lega jika Leon sudah mengetahui jika dirinya sudah menikah dari Intan jika gadis itu memberitahukannya kepada Leon maupun Ryan.
"Kamu sudah pulang?" tanya Leon dengan tenang.
"Kenapa kalian berdua ada di rumah saya?" tanya Laura tanpa menjawab pertanyaan Leon.
"Tanyakan saja pada orang yang berada di sampingku," ucap Ryan dengan menghela nafas malas karena kelakuan Leon ketika suka dengan seseorang lebih menyusahkan dari pada biasanya.
Laura menatap tajam ke arah Leon. Yang ditatap seperti itu hanya mengedikkan bahunya dengan acuh. "Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucap Leon dengan datar. Padahal yang sebenarnya adalah ia ingin menemui Laura, gadis yang berada di depannya ini sungguh membuat hidupnya jungkir balik.
"Pulanglah! Saya sangat lelah untuk meladeni anda! Apalagi saya sudah menikah apa kata tetangga saya jika ada dua orang lelaki yang datang ke rumah wanita yang sudah bersuami?" ucap Laura dengan datar.
"Menikah? Istri yang sudah bercerai dengan suaminya masih disebut memiliki suami begitu?" tanya Leon dengan menyeringai karena dirinya sudah tahu dari Intan. Intan yang tak tahu harus menjawab apa saat Leon bertanya kepadanya lebih berkata jujur karena Intan tidak bisa berbohong. Walaupun Laura adalah seorang janda Leon akan mengejar Laura, awalnya memang lelaki itu terkejut tetapi itu tidak berlangsung lama karena Laura sering mengatakan jika dirinya sudah menikah.
"Kenapa anda sangat keras kepala sekali Pak? Apa maksud tujuan anda selalu mengganggu saya?" tanya Laura yang mulai kesal dengan Leon.
Leon ingin menjawab namun kedatangan Intan yang membawa minum menghentikan ucapannya yang masih berada di dalam tenggorokan.
"Kak, Intan pulang dulu ya. Ibu sama Bapak sudah menunggu," pamit Intan yang tidak mau mengganggu pembicaraan orang dewasa saat ini.
Laura ingin sekali menahan Intan tetapi dirinya merasa tidak enak kepada Intan yang sudah menjaga Dirga hampir seharian saat dirinya bekerja akhirnya mengangguk menyetujui. "Terima kasih sudah menjaga Dirga hari ini Intan," ucap Laura dengan lembut membuat Intan tersenyum.
"Sama-sama Kak. Intan pulang ya!" ucap Intan dengan ramah.
Setelah kepulangan Intan, Laura kembali menatap Leon dengan datar. "Pak Ryan apakah bisa anda menyuruh bos anda pulang dari rumah saya?" tanya Laura dengan tenang.
Leon menatap tajam ke arah Ryan membuat Ryan menatap ke arah keduanya secara bergantian. "Ah sepertinya saya harus keluar sebentar untuk mencari angin. Bos saya akan pulang ketika sudah puas berbicara dengan anda Nona. Saya permisi," ucap Ryan dengan cepat. Ryan keluar begitu saja dari rumah Laura suasana di dalam sungguh sangat mencekam lebih baik ia menelepon Ica dan bermanja pada kekasihnya dari pada harus mendengar dua orang yang seperti kucing dan tikus saat bertemu.
"Saya menyukai kamu!" ucap Leon dengan datar membuat Laura melotot ke arah Leon.
Leon menyeringai ia berjalan mendekat ke arah Laura. Menatap Laura dengan tajam. "Saya tidak peduli dengan statusmu yang sudah menjadi janda. Kamu milik saya sekarang Laura!" ucap Leon dengan dingin membuat Laura sangat kesal sekali kepada Leon.
"Anda sudah gila! Saya tidak suka kepada anda! Sekali pun anda memaksa saya tidak akan pernah menerima anda!" teriak Laura dengan nafas yang memburu membuat Dirga terkejut dan menangis dengan kencang membuat Laura panik dan berusaha menenangkan Dirga saat perasaannya sedang marah kepada Leon.
Leon dengan cepat mengambil Dirga dari gendongan Laura. "Dirga suka jika Om yang menjadi ayah Dirga?" tanya Leon tanpa memperdulikan Laura yang ingin mengambil Dirga dari gendongannya kembali.
"Om akan menyayangi Dirga seperti anak Om sendiri," ucap Leon dengan santai. Tangis Dirga entah mengapa langsung berhenti membuat Leon tersenyum dengan tipis. Baru kali ini dirinya tersenyum entahlah Leon seakan memiliki ikatan batin dengan Dirga.
"Kembalikan anak saya Pak! Bapak pulanglah saya takut tetangga curiga," ucap Laura yang sudah lelah berdebat dengan Leon saat ini.
Saat ini mereka sudah sama-sama berdiri. Leon melangkah mendekati Laura hingga wanita itu mundur begitu saja karena merasa takut dengan tatapan Leon yang begitu sangat intens kepadanya. Tubuh Laura sudah membentur tembok membuat wanita itu tidak bisa kemana-mana.
Cup...
Leon mengecup kening Laura dengan lama. Laura tidak bisa berkutik karena takut menyakiti Dirga yang berada di gendongan Leon. "Saya akan pulang ketika memastikan calon istri dan anak saya baik-baik saja," ucap Leon dengan tegas. Tatapannya begitu sangat dalam kepada Laura membuat degup jantung Laura tidak menentu saat ini, membuat bibir Laura keluh sekedar untuk menyangkal semua yang diucapkan Leon kepadanya.
"Saya bukan milik..."
"Saya tidak menerima penolakan dalam hidup saya. Sekarang kamu dan Dirga adalah milik saya!" ucap Leon dengan tajam.
"SAYA BUKAN MILIK ANDA!"
"Sekali lagi kamu menolak saya pastikan kamu akan menjadi milik saya! Selamanya!"
****
Aduh om Leon suka deh ðŸ¤
Gimana part ini?
Ayo ramaikan!
Jangan lupa, like, vote dan komentarnya ya!