
...Ramein part ini. Sampai jumpa di hari jumat ya gengs. Jangan lupa like, vote dan kementar sebanyak-banyaknya ya....
...Happy reading...
****
Hal yang membahagiakan ketika melihat wajah seseorang yang kita cintai tertidur damai di pelukan kita, itulah yang dirasakan Ihsan saat bangun tidur sudah ada Cut di sampingnya. Ihsan tersenyum lembut menatap Cut yang damai di pelukannya, setelah subuh keduanya kembali tertidur dengan aktivitas panas tentunya. Tubuh Cut adalah candu Ihsan yang membuat Ihsan tidak pernah puas menyentuh sang istri hingga Cut sangat kelelahan melayaninya.
"Kenapa aku jadi sangat mesum sekali ya?" tanya Ihsan dengan terkekeh membayangkan aktivitas panasnya dengan Cut yang membuat Ihsan meneguk ludahnya dengan kasar.
Ihsan menatap istrinya dengan gemas tak mungkin ia meminta jatahnya kembali karena setelah subuh tadi Ihsan kembali memintanya kepada Cut.
Cup...
Cup..
Cup..
Ihsan mengecup seluruh wajah istrinya dengan gemas. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya seorang Ihsan sekarang. Yang jelas Ihsan sangat-sangat bahagia bisa memiliki Cut di dalam hidupnya.
Cut melenguh karena merasa terganggu dengan ciuman Ihsan. Ia mengerjabkan kedua matanya dengan perlahan, matanya sudah terbuka dan ia disambut dengan senyuman manis Ihsan.
"Masih ngantuk!" rengek Cut dengan manja membuat Ihsan terkekeh geli.
"Sudah jam 10, Sayang. Bangun yuk! Emangnya gak lapar?" tanya Ihsan mengusap pipi Cut dengan lembut.
"Sebentar lagi, Abang. Badan aku sakit semua gara-gara Abang," ucap Cut dengan lirih.
Ihsan menarik hidup Cut dengan perlahan. Ia membenarkan letak tidur istrinya. "Habisnya candu banget. Ternyata rasanya seperti itu ya," ucap Ihsan dengan tersenyum geli.
Cut mencubit perut Ihsan dengan kuat. "Mesum!"
"Aduh! Sakit, Dek!" ucap Ihsan mengusap perutnya.
"Hehehe...maaf sayangku," ucap Cut mengusap perut Ihsan yang ia cubit. "Habisnya Abang mesum sih!" lanjut Cut dengan mengerucutkan bibirnya.
"Wajarlah, Sayang. Kan baru merasakan sesuatu yang enak. Surga dunia bersama istri tercinta," jelas Ihsan dengan tersenyum.
Keduanya tertawa bersama menikmati suasana di pagi hari setelah menjadi suami istri. Dan setelah puas bermalas-malasan di kasur barulah Ihsan dan Cut mandi bersama.
****
Reisya menatap kakaknya dengan menahan tawanya saat melihat cara berjalan Cut yang cukup aneh.
"Kak Cut kenapa seperti habis selesai sunat? Jalannya sedikit mengangkang hahaha!" ucap Reisya dengan tertawa membuat semua orang menatap Cut yang sedang berjalan bersama dengan Ihsan.
Ika dan Sultan mengulum senyumannya mereka tentu tahu apa yang terjadi dengan anak mereka. Ihsan sebagai tersangkanya hanya tersenyum kikuk menatap mertuanya. Sedangkan Cut menunduk malu menatap keluarganya apalagi karena celetukan Raisya yang mengomentari cara berjalannya yang cukup aneh.
"Lembur, San?" tanya Sultan dengan menahan senyumnya.
"Hah?" pikiran Ihsan mendadak blank dengan pertanyaan papa mertuanya tetapi lima detik kemudian ia paham apa yang Sultan maksud. Ihsan terkekeh menanggapi ucapan Sultan, bukannya malu ia menatap Cut dengan geli.
"Iya, Pa. Biar cucu Papa dan Mama cepat jadi. Jadi lembur sampai pagi," ucap Ihsan dengan terkekeh.
"Abang malu!" bisik Cut dengan gemas.
"Papa dan Bang Ihsan bahas apa sih? lembur? Emang Bang Ihsan langsung kerja kok lembur?" tanya Meisya dengan polosnya.
"Mama jangan bahas itu di sini! Cut malu!" rengek Cut dengan kedua pipi yang memerah.
Ihsan, Sultan dan Ika terkekeh tetapi ke-dua anak Sultan yang beranjak remaja itu hanya menatap orang dewasa itu dengan bingung lalu kembali acuh dan fokus pada ponsel mereka masing-masing karena Rifki dan Rizki sedang menemani keluarga yang lain untuk jalan-jalan.
"Kalian belum makan, kan? Ayo makan! Kejar setoran sampai lupa makan. Duh cucu mama masih di adon sampai pagi," ucap Ika dengan geli.
"Mama!" rengek Cut dengan malu.
"Biarin aja Ma. Kalau Mama mau kita juga bisa buat adonan anak bungsu satu lagi," ucap Sultan dengan terkekeh.
"GAK MAU PUNYA ADIK!" teriak Meisya dengan marah membuat Sultan dan ika menatap anak bungsunya dengan meringis.
"Papa cuma bercanda Meisya. Jangan cemberut gitu dong," ucap Sultan menenangkan anaknya. Meisya selalu bereaksi berlebihan saat ada yang menggodanya tentang adik baru.
"Meisya gak mau punya adik! Meisya akan marah kalau papa dan mama punya anak bungsu selain Meisya," ucap Meisya dengan lirih.
"Iya-iya kamu gak akan punya adik dari Mama dan papa. Kamu bakal punya adik dari kak Cut dan bang Ihsan. Jangan marah lagi, Sayang. Cantiknya anak Mama senyum dong," ucap Ika dengan lembut.
Meisya menghapus air matanya dengan kasar lalu ia menenggelamkan wajahnya di perut Ika. Sultan dan Ika menghela napasnya membiarkan Meisya menenangkan moodnya yang buruk.
"Kalian langsung pulang ke Jakarta besok?" tanya Sultan memecahkan keheningan setelah acara ngambek Meisya.
"Iya, Pa. Seminggu lagi Cut sudah masuk kampus. Ihsan juga harus ngajar. Lagian kami juga akan mengadakan acara untuk merayakan pernikahan kami di Jakarta bersama teman-teman Ihsan dan juga Cut," jelas Ihsan yang dibalas anggukan oleh Sultan.
"Keluarga yang lainnya kemana, Ma?" tanya Cut tidak melihat keberadaan nenek dan keluarganya.
"Lagi jalan-jalan sebelum besok pulang ke Jakarta. Mama sama papa sengaja gak ikut karena adik kamu sedikit demam. Makanya merengek sejak tadi, apalagi tadi bahas soal adik tambah buruklah moodnya ini," ucap Ika mengelus kepala Meisya yang masih berada di perutnya. Diantara anaknya yang lain Meisya lah yang terlalu manja.
"Reisya kenapa gak ikut?" tanya Ihsan sambil menerima suapan dari istrinya.
"Malas, Bang. Enakan rebahan di hotel," jawab Reisya dengan santai.
"Rebahan mulu kerjaannya," cibir Cut membuat Reisya terkekeh.
"Pa, badan Meisya tambah panas!" ucap Ika dengan cemas.
"Yang bener, Ma? Coba Papa periksa panasnya!" ucap Sultan dengan cemas.
"Bawa ke kamar aja, Pa. Biar Cut periksa," ucap Cut khawatir.
"Kamu bawa alatnya, Dek?" tanya Ihsan menatap istrinya.
Cut mengangguk karena ia selalu bawa alat kedokteran yang Sultan berikan sejak dirinya masuk kedokteran.
"Meisya, sini Papa gendong, Nak!" ucap Sultan dengan lembut.
Dengan pusing yang menyerangnya Meisya merentangkan kedua tangannya agar bisa digendong oleh Sultan. Meisya bersandar di dada Sultan dengan nyaman.
"Anak itu biasanya aktif. Lihat dia sakit begitu jadi kasihan," ucap Ihsan yang diangguki oleh Cut.
"Habis main hujan jadi begitu, Bang. Aku periksa Meisya dulu ya," ucap Cut dengan tersenyum.
"Abang ikut. Takut istri Abang diculik," ucap Ihsan mengedipkan matanya.
"Dasar!"