
...Happy reading...
****
Zico menyeringai mendekat ke arah Laura yang semakin takut dengan kehadiran Zico di rumahnya. Dari mana lelaki itu tahu rumahnya? Kenapa bisa Zico menemukannya di sini? Wajah pria itu sangat menyeramkan sekarang, seperti ada obsesi yang berkobar di matanya ketika melihat Laura dan Zico.
"K-kamu kenapa bisa di sini?" tanya Laura dengan terbata. Tangannya memeluk Dirga erat, mencoba melindungi Dirga dari kejahatan Zico. Anak itu juga langsung terdiam dari tangisnya karena sangat takut dengan tatapan Zico. Dapat Laura rasakan detak jantung anaknya memburu karena takut bahkan ia melihat bibir Dirga sedikit memucat.
Segitu takutkah Dirga terhadap ayah kandungnya sendiri? Tetapi bersama dengan Leon, Dirga terlihat tenang! Mengapa semuanya sangat terbalik?
"Bukannya kamu senang aku berada di sini?" tanya Zico menyeringai tangannya hendak mengelus pipi Laura tetapi langsung ditepis oleh wanita itu dengan kencang.
"Aku sama sekali tidak mengharapkan kehadiranmu! Bahkan aku menyesali pernikahan kita!" ucap Laura dengan lantang membuat Zico menatap Laura dengan marah.
Zico kembali melangkah maju. Ia melihat Dirga yang sangat ketakutan karena dirinya. "Kamu sudah mencuci otak anakku agar dia takut denganku, hah?" ucap Zico dengan menahan amarah yang luar biasa. Ia merasa tidak terima jika Dirga menatap takut ke arahnya. Seakan ia adalah iblis yang sangat menakutkan di mata anaknya sendiri.
"Kamu memang pantas dibenci!" ucap Laura dengan sarkas. Walaupun ia takut dengan Zico, ia berusaha untuk kuat dan tidak terlihat lemah di mata Zico.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku dan aku juga mencintaimu. Kamu tahu sebelum perjodohan itu aku memang ingin berniat melamarmu tetapi semua sirna setelah orang tua kita menjodohkan kita dengan embel-embel bisnis. Dan... Aku baru menyadari semuanya jika keluargaku lah yang butuh bantuan keluargamu," ucap Zico dengan lirih dan sorot mata yang penuh luka. Tetapi Laura tidak lagi bersimpati, ia sudah menutup hatinya untuk pria yang sudah menorehkan luka di hatinya sangat dalam bahkan membuat dirinya tidak ingin menikah lagi.
"Semua sudah terlambat! Rasa cinta itu sudah musnah sejak dulu!" ucap Laura dengan tenang membuat amarah Zico bangkit kembali.
Zico mengambil paksa Dirga yang berada di dalam gendongan Laura, membuat anaknya menangis dengan kencang dan berusaha memberontak.
"Epasin Dilga, Om! Hiks... Hiks... Dilga atut, Nda!" ucap Dirga dengan berteriak.
"Kembalikan Dirga!" teriak Laura dengan kencang. Ia menangis sejadi-jadinya kala Zico merebut Dirga dengan kasar darinya.
"Dirga adalah anakku. Jika kamu tidak ingin rujuk denganku, maka aku akan membawa Dirga bersamaku!" ucap Zico dengan lantang dan penuh ancaman menatap ke arah Laura.
"Aku tidak ingin rujuk denganmu!" teriak Laura dengan penuh emosi yang menguasai dirinya.
Zico menyeringai menatap ke arah Laura. Kalau begitu bersiaplah bertemu di pengadilan untuk hak asuh Dirga. Aku akan menghalalkan segala cara agar hak asuh Dirga jatuh ke tanganku!" ucap Zico dengan tajam. Ancamannya tidak main-main kali ini, ia hanya ingin Laura kembali kepadanya. Obsesi membutakan mata hatinya jika mantan istri dan anaknya terluka karena perbuatannya.
"Kamu tidak berhak atas Dirga karena sejak awal kamu tidak menginginkan Dirga! Semua yang terjadi pada kita adalah sebuah kesalahan dan sekarang kembalikan Dirga kepadaku!" ucap Laura dengan cemas. Tangannya ingin merebut Dirga kembali, namun dengan cepat Zico mendorong Laura hingga wanita itu terjatuh dan meringis kesakitan memegang perutnya.
"Kita akan bertemu di pengadilan!" ucap Zico dengan tenang. Tatapannya seperti iblis yamg sangat menyeramkan.
"Nda.. Olong Dilga! Dilga au cama Nda.. Hiks...hiks..."
"Jangan bawa anakku!" teriak Laura berusaha mengejar Zico tetapi ia tidak mampu. Perutnya terasa sangat sakit sakali.
"Akhhh...." Laura mengerang memegang perutnya. Ia terus menangis meraung memanggil nama Dirga.
"Kak Laura!" panggil Intan dengan panik saat melihat Laura terduduk dengan bersandarkan pintu memanggil nama Dirga hingga suaranya pun serak.
"Kembalikan Dirga, aku mohon!" ucap Laura dengan terisak. Semua sangat menyakitkan untuknya. Yang terjadi hari ini sangat menyiksa hatinya.
"Dirga di mana, Kak? Kenapa Kakak seperti ini?" tanya Intan dengan panik.
"Hiks...hiks... Dirga dibawa oleh Zico. Aku mohon bawa Dirga kepadaku!" ucap Laura dengan lirih. Ia seperti orang stres saat mengingat Dirga tak lagi bersamanya.
"Dirga dibawa oleh Zico? Ayah kandung Dirga, kan Kak?" tanya Intan dengan cemas membuat Laura mengangguk dengan lirih.
"Astaga Kak. Darah!" pekik Intan dengan panik saat melihat darah yang mengalir disela-sela paha wanita itu.
Intan sangat takut melihat wajah Laura yang pucat pias. Bahkan mata wanita itu perlahan mulai tertutup dengan rapat.
"Kak Laura, bangun!" teriak Intan. Gadis itu sangat cemas sekali karena melihat keadaan Laura yang sangat mengenaskan. Semua orang terlihat sangat sepi karena jam segini orang-orang sudah sibuk bekerja. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih ketika melihat Laura sudah tak sadarkan diri di depan matanya dengan darah yang mengalir disela-sela pahanya.
*****
Gimana dengan part ini?
Tegang?
Tarik nafas buang!
Huft... Kok gantung thor?
Iya author mau nangis dulu. Nangis berjamaah yuk!
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!
Author tunggu semangatnya!