
...Happy reading...
****
2 tahun mengejar cinta duda cuek yang tampan bagaimana menurutmu?
Itulah yang dilakukan Ivana Aulia Anggara yang sekarang sudah berusia 22 tahun kini bisa menggeret Rama Dwi Putra yang sekarang sudah 32 tahun ke penghulu dengan sedikit paksaan dan ancaman jika Ivana akan menghancurkan cafe miliknya yang susah-susah ia bangun dengan kerja kerasnya selama 2 tahun untuk melupakan Ika yang sudah bahagia dengan ke-4 anaknya oh tidak sekarang kabarnya Ika sedang mengandung kembali saat usia si kembar 2 tahun. Itu sebuah ketidaksengajaan dikarenakan Ika kebobolan sama seperti Ica.
Senyum Ivana mengembang saat kata 'sah' sudah menggema di rumahnya. Pernikahan mereka dilakukan secara sederhana karena permintaan Rama sendiri, tentu saja Ivana langsung menyetujuinya dengan cepat. Pesta pernikahan tidak masalah baginya, tidak diadakan pun tidak apa-apa karena ia sudah sangat bahagia bisa menjadi istri Rama.
Tuan Boby Anggara dan nyonya Anindya Anggara awalnya sempat mengajukan protes karena pernikahan anak semata wayang mereka tidak diadakan semeriah mungkin. Bagaimana tidak kesal? Mereka adalah orang terkaya di negara selain keluarga Brawijaya dan juga Mahendra, tentu saja mereka sangat di hormati oleh yang lainnya. Lalu anak mereka menikah dengan sangat sederhana dan tidak ada pesta sedikit pun. Pasti orang-orang akan bergosip jika keluarga Anggara sudah bangkrut. Mengingat itu membuat telinga nyonya Anindya seakan keluar asap, harta mereka tidak akan habis tujuh turunan sekali pun kecuali Tuhan yang berkendak untuk mengambil harta mereka. Terkadang cinta itu membuat orang buta dan itulah yang Ivana rasakan seperti nyonya Anindya sewaktu muda, sikap bar-barnya untuk mengejar cinta Boby Anggara ternyata menurun pada Ivana. Untung Ivana tidak segila Anindya yang memasukkan obat perangsang di minuman Boby Anggara agar mau menikah dengannya. Ivana hanya sedikit memgancam pada Rama dan akhirnya Rama mau menikah dengannya walau dalam keadaan terpaksa. Sungguh aneh gadis yang menjadi istrinya ini, itulah yang Rama pikirkan sejak tadi.
Saat ini Rama maupun Ivana sudah berada di dalam kamar. Pikiran Ivana sudah melanglang buana ke langit ke tujuh, padahal kenyataannya sekarang Rama lebih sibuk memainkan ponselnya daripada melirik istri cantiknya yang sudah memakai pakaian santainya. Karena kesal diabaikan oleh Rama, Ivana merebut ponsel Rama dengan cepat. Tidak sopan memang tetapi ia ingin membuat Rama mencintainya.
"Kamu apa-apaan sih?" ucap Rama dengan kesal dan berusaha merebut ponselnya. Terjadilah rebut-rebutan ponsel di dalam kamar hingga kamar mewah itu berantakan.
"Lebih penting ponsel dari pada aku ya?" tanya Ivana dengan napas tersengal-sengal karena berlari.
"Itu kamu tahu!" ucap Rama dengan ketus.
Ivana mencibikkan bibirnya dengan kesal. Otaknya sedang mencari cara agar malam pertama mereka terlaksana dengan indah.
"Yakin lebih penting ponsel ini dari pada aku?" tanya Ivana dengan tenang tetapi berhasil membuat Rama was-was.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rama waspada.
"Menurut Mas Rama apa?" tanya Ivana balik membuat Rama mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Sini ponselnya!" ucap Rama dengan kesal.
"Enggak!" ucap Ivana dengan tenang. Ia melangkah ke balkon kamarnya. Di bawah sana ada kolam renang. Kebiasaan Ivana jika ingin berenang langsung melompat dari balkon kamarnya yang berada di lantai dua.
"Ivana, kembalikan gak!" teriak Rama dengan kesal.
"Jawab dulu. Lebih penting ponsel ini atau aku?" tanya Ivana dengan dalam.
Rama mengusap wajahnya dengan kasar. "Kembalikan ponsel saya! Di sana banyak pekerjaan saya!" ucap Rama yang berusaha sabar menghadapi Ivana.
"Gak mau!" ucap Ivana dengan nada yang dibuat se-imut mungkin. Yakinlah jika sekarang banyak orang yang melihatnya pasti akan merasa gemas dengan ekspresi wajahnya tetapi tidak dengan Rama, ia sangat kesal dan muak melihat wajah Ivana. Rama sama sekali tidak tertarik dengan Ivana karena kekesalan yang lebih dominan di hatinya karena Ivana. Bayangkan selama 2 tahun hidup Rama dihantui oleh sikap bar-bar Ivana.
Plung...
"Ups... Aku gak sengaja menjatuhkannya Mas," ucap Ivana dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Awas!" ucap Rama dengan dingin, ia ingin mengambil ponsel yang terjatuh di kolam renang. Ia sangat kesal dan ingin marah sekarang karena pasti ponselnya sudah rusak terkena air.
"Mas mau ngapain?" tanya Ivana dengan panik.
"AKU INGIN MENGAMBILNYA! KAMU SENGAJA MENJATUHKANNYA, KAN! KAMU BENAR-BENAR PEREMPUAN TIDAK PUNYA HARGA DIRI! RELA MENGEJAR PRIA YANG TAK MENCINTAIMU DAN SEKARANG KELAKUANMU BENAR-BENAR MEMBUATKU MUAK, IVANA!" teriak Rama dengan marah. Kata-katanya tidak sadar membuat Ivana mematung. Segitu tidak berharganya kah Ivana di hadapan Rama? Apa benar ia tidak punya harga diri? Semua file di ponsel Rama sudah ia simpan di laptopnya, sengaja ia melakukan itu secara diam-diam saat Rama mandi tadi, ternyata ia tidak sepenting ponsel Rama yang jatuh di sana.
"Biar aku yang ambil!" ucap Ivana dengan datar.
Dan..
Byurrrr..
Rama tercengang melihat Ivana yang sangat berani terjun dari balkon ke kolam renang, awalnya tadi Rama ingin mengambilnya tetapi melihat ketinggian balkon dengan kolam renang membuat nyali Rama sedikit menciut. Tetapi tidak dengan Ivana gadis itu dengan tenang langsung terjun begitu saja.
"Ivana!" teriak Rama saat berusaha menolong Ivana yang terlihat diam dan menutup mata dengan memegang ponselnya.
"Hey, bangun!" ucap Rama dengan panik setelah berhasil membawa Ivana ke pinggir kolam renang.
Kemana semua orang? Kenapa rumah sebesar ini seperti tidak ada penghuninya? Dengan rasa panik yang terus mendesak hatinya. Rama memberikan napas buatan kepada Ivana.
"Ciuman pertamaku!" gumam Ivana di dalam hati. Ya, gadis itu hanya berpura-pura saja untuk melihat bagaimana kepedulian Rama kepadanya.
Uhuk....uhuk..
Ivana berpura-pura batuk untuk melancarkan sandiwaranya saat ini. Ia melihat napas kelegaan dari Rama setelah melihat matanya yang terbuka. Dalam hati Ivana tersenyum senang. Baiklah sekarang ia akan memainkan peran seakan sudah menyerah dengan cintanya seperti saran mamanya semalam, ah sungguh mamanya dalam satu frekuensi yang sama untuk menaklukkan makhluk cuek yang sayangnya menjadi suami mereka.
"Ponselnya sudah aku dapatkan. Nanti akan aku perbaiki," ucap Ivana dengan datar.
Rama menyelisik wajah Ivana seperti ada yang aneh dalam wajah Ivana. Tentu saja tatapan itu membuat Ivana gugup tetapi ia harus bisa melancarkan rencananya membuat Rama jatuh cinta kepadanya.
Rama menanggap wajah datar Ivana entah mengapa membuat Rama cemas. Jujur saja 2 tahun hidupnya direcoki Ivana membuat rasa itu muncul secara perlahan tetapi Rama tidak ingin mengakuinya karena sikap Ivana yang terkadang membuatnya kesal.
"Gak usah bantu aku!" ucap Ivana dengan datar saat Rama ingin membantunya berdiri.
"Ivana kamu tadi tenggelam!" geram Rama.
"Cuma tenggelam di kolam renang, belum mati," jawab Ivana dengan enteng. "Percuma saja aku memaksa pernikahan ini jika ponsel saja lebih berharga dari pada aku. Jadi, menurutku tadi jika aku tidak terselamatkan tidak masalah bagimu," ucap Ivana dengan ketus.
"Ivana!" ucap Rama penuh penekanan. Ia mendekati Ivana dengan aura yang menggelap membuat Ivana mundur dengan takut.
"Kamu pikir pernikahan ini sebuah mainan hmmm! Sekarang kamu tidak akan bisa mundur lagi dari pernikahan ini karena kita sudah sah di mata agama dan hukum. Aku akan membuat kamu menyesal telah mengancamku!" ucap Rama dengan dingin.
"Kyaaa...." Ivana berteriak saat merasakan tubuhnya melayang. Ivana tidak tahu jika baju tipisnya yang terkena air membuat mencetak seluruh tubuhnya dengan sangat jelas dan itulah yang membuat Rama menggelap dan suaranya terkesan berat.
Ivana tersenyum dalam hati saat Rama menggendongnya menuju kamar mereka. Suasana yang tadinya terasa dingin terasa sangat panas saat Rama mencumbunya dengan mesra.
Ivana bersorak dengan senang. Inilah yang ia inginkan sejak tadi dan ia harus berterima kasih dengan ponsel dan kolam renang. "Kamu sudah tidak bisa lepas dariku Ivana!" ucap Rama dengan berat.
"Itu yang aku inginkan Mas. Tidak bisa lepas darimu!" ucap Ivana dengan menahan desah*annya.
"Kuharap kamu tidak menyesal nantinya!" ucap Rama dengan menyeringai.
"Tidak akan!" jawab Ivana dengan tegas. Dan setelah itu hanya suara desah*an keduanya di dalam kamar yang terdengar. Ivana sudah menjadi istri seutuhnya untuk Rama.
"Mas, tadi itu di pinggir kolam renang adalah ciuman pertamaku!" ucap Ivana dengan malu-malu setelah mereka selesai bercinta.
"Apa? Kamu tahu?" tanya Rama terkejut.
"Kan aku cuma pura-pura," jawab Ivana dengan menggigit bibir bawahnya.
"Shitt... Awas saja kamu Ivana malam ini aku tidak akan melepaskanmu walaupun kamu meminta ampun dariku!"
*****
Gimana extra partnya guys?
Senang dong ya!
Jangan lupa rameikan lagi.