Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~64 (Kebersamaan)



...Maafnya selalu gak sesuai hari updatenya. karena sibuk. Jangan lupa baca cerita author juga yang berjudul "Gairah Sang Dokter Duda" yang pastinya sangat seru loh update tiap hari insya Allah. Tinggalkan jejak kalian di sana ya....


... ...


...happy reading...


****


2 tahun kemudian....


Keluarga Cut maupun Ihsan sudah berkumpul untuk merayakan kelulusan Cut menjadi dokter psikiater setelah selesai koas Cut akan langsung bekerja di rumah sakit, mengingat Cut sangat pintar maka banyak rumah sakit yang menginginkan dirinya bekerja di sana. Tetapi Cut sudah memutuskan memilih rumah sakit yang dekat dari rumahnya agar ia bisa tetap mengawasi Mashita yang sedang aktif-aktifnya.


"Bunda cantik," ucap Mashita yang memang sudah sangat pintar berbicaranya di umurnya yang sudah 2 tahun itu. Mashita sangat cerewet sekali yang membuat Cut dan Ihsan gemas kepada anaknya tersebut.


"Shita juga cantik," sahut Cut menjawil pipi gembul Mashita dengan gemas sambil tertawa bersama.


Ika manatap anak dan cucunya dengan tertawa pelan. Kedua perempuan berbeda generasi tersebut sangat dekat sekali, tingkah lucu Mashita adalah penghilang penat yang Cut dan Ihsan saat mereka lelah bekerja.


Saat Cut mengetahui penyakitnya, Ihsan terus berobat hingga dua tahun ini Ihsan tidak merasakan sakit kepala kembali.


"Ayo kita berangkat," ucap Ihsan menggendong Mashita. "Ya ampun ini perut isinya apa sih kok gembul banget gini?" tanya Ihsan dengan menggelitik perut anaknya dengan perlahan yang membuat Mashita terkikik geli.


"Oleh-oleh dari nenek. Hihihi ampun Ayah nanti Mashita ngompol," ucap Mashita dengan geli.


"Hahaha emang apa sih oleh-oleh nenek dari Medan sampai buat perut Mashita begini?" tanya Ihsan dengan terkekeh.


"Buanyak Ayah! Iya kan, Nek?" ucap Mashita menatap Ika yang sedang menatapnya juga.


Ika mengangguk. "Iya banyak, Sayang!" ucap Ika dengan tersenyum.


"Tuh Yah. Banyak," ucap Mashita dengan lucunya yang membuat Ihsan dan Cut tertawa termasuk para keluarganya yang lain.


"Yuk kita berangkat. Jangan kelamaan ngobrol," ujar Sultan yang diangguki oleh yang lainnya.


"Sini Shita sama nenek," ucap Ika dengan lembut karena dirinya sangat merindukan Mashita yang jarang ia jumpai karena perbedaan daerah di antara mereka. Ika ingin sekali berkumpul dengan keluarganya di Jakarta apalagi Saera yang sudah tua membutuhkan dirinya walau ada kakak dan adiknya tetapi Ika ingin juga berkumpul bersama bundanya.


"Uu beratnya," ucap Ika dengan terkekeh saat Mashita sudah berada di gendongannya. Mashita hanya mengelus perutnya sendiri dengan menyengir ke arah Ika.


"Shita sama nenek ya. Bunda sama Ayah pacaran dulu," ucap Ihsan dengan mengedipkan kedua matanya.


"Pacaran itu apa, Yah?" tanya Mashita dengan polosnya.


"Ehmmmm.....berduaan sama Bunda," ucap Ihsan dengan menggarukkan kepalanya merasa salah berbicara kepada anaknya yang sangat cerewet tersebut.


"Ayo kita berangkat saja sekarang kasihan nenek buyut Saera sudah lama menunggu kita," ucap Cut menghindari pertanyaan Mashita yang pasti akan panjang itu. Gadis kecil itu tidak cukup dengan satu lertanyaan saja jika dirinya merasa tidak mengerti.


*****


"Akhirnya kita bisa pacaran dulu, Sayang!" ucap Ihsan yang berada di dalam mobil hanya berdua dengan sang istri.


"Kamu ini, Bang. Sudah punya anak juga," ucap Cut dengan terkekeh pelan.


Ihsan tersenyum dengan mata sesekali melihat ke arah sang istri karena dirinya sedang fokus menyetir. Ihsan mengelus kepala sang istri yang tetbalut hijab dengan perlahan dan Cut menyender dengan nyaman di bahu sang suami dengan memeluk lengan Ihsan.


"Manja banget hari ini kenapa hmmm?" tanya Ihsan dengan tersenyum dan mengecup kening Cut.


"Pengin manja aja sama Abang. Kita sudah jarang seperti ini dan aku kangen," ucap Cut dengan lirih.


Ihsan terdiam. "Maaf ya Abang terlalu sibuk bekerja sampai kamu merasa seperti ini," ucap Ihsan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bang. Abang bekerja juga demi aku dan Shita, kan?" sahut Cut dengan tersenyum.


"Bagaimana kalau kita selesai perayaan kelulusan kamu menjadi dokter kita menginap di hotel?" usul Ihsan dengan lembut.


"Shita gimana? Aku tidak tega meninggalkan dia, Bang," ujar Cut dengan pelan.


"Ada mama dan papa juga adik-adik kamu di rumah kita. Shita pasti tidak rewel, Sayang. Ini juga ulang tahun pernikahan kita yang ke-4 kita harus merayakannya berdua siapa tahu setelah ini kamu hamil lagi, Sayang," ucap Ihsan dengan memohon.


Dengan menimang ajakan sang suami akhirnya Cut mengangguk setuju yang membuat Ihsan bahagia. Akhirnya mereka bisa berduaan tanpa ada yang menganggu kemesraan mereka tanpa harus bersembunyi malam-malam menunggu Shita tidur jika ia menginginkan sang istri.


*****


Mereka merayakan kelulusan Cut sekaligus hari jadi pernikahan mereka yang ke-4 dengan gembira. Memboking restoran mewah untuk keluarga besar yang ikut merayakan kebahagiaan suami istri tersebut termasuk ada Dirga dan Vera bersama kedua jagoan kembar mereka yang hanya berbeda beberapa bulan saja dengan Mashita.


Galih dan Ghani tampak tampan dengan balutan kemaja berwarna putih dan jas hitam yang mereka kenakan sungguh dua pria kecil itu sangat menuruni sifat Dirga yang dingin. keduanya hanya diam memperhatikan pesta keluarga mereka dan memperhatikan Mashita yang cerewet mengobrol bersama mereka.


"Iya dengerin kok," jawab Galih memaksakan senyumannya.


"Galih, Ghani gak asyik ah!" ucap Shita merajuk.


Leon hanya memperhatikan interaksi cucunya dengan anak keponakannya tersebut. Ia hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sikap cuek kedua cucunya tetapi sangat posesif kepada Mashita jika sudah mengobrol dengan anak lelaki seusia mereka. Galih dan Ghani merasa tidak suka jika Mashita akrab dengan teman lelaki seusia mereka. Sungguh saudara yang sangat posesif bukan?


Mashita memilih memperhatikan kedua orang tuanya. Ia tersenyum senang melihat kedua orang tuanya berdansa. Selesai berdansa Ihsan dan Cut akan meniup lilin pada kue yang sudah di pesan dengan sangat cantik.


"Shita sini, Sayang. Kita tiup lilinnya bersama," ucap Cut dengan tersenyum.


Mashita langsung turun dari kursinya dengan perlahan. Ia berlari ke arah orang tuanya, senyumnya mengembang saat mengingat kue yang ada di hadapannya lumayan tinggi dan sangat cantik.


Ihsan menggendong anaknya dengan perlahan. Ia mengecup pipi gembul sang anak dengan gemas.


"Ayo tiup lilinnya," ucap Ika dengan bahagia.


Cut, Ihsan, dan Mashita menangguk dengan semangat ketiganya meniup lilin tersebut bersamaan.


"Yeee...." teriak Mashita dengan bahagia.


"Shita lihat kakek sini. Foto dulu sama ayah dan bunda," ucap Sultan mengarahkan kameranya ke arah anak dan cucunya.


Ketiganya berpose dengan senyum yang mengembang. Hingga lensa kamera memotrek ketiganya dengan sangat apik. Ini akan menjadi kenang-kenangan yang sangat indah untuk ketiganya.


Acara tetap terlaksana dengan suasana yang sangat membahagiakan hingga malam akhirnya datang menyapa mereka. Semua keluarga sudah keluar dari restoran untuk kembali pulang tetapi tidak dengan Ihsan dan Cut yang akan menginap di hotel berdua.


"Daa, Sayang. Jangan rewel ya besok ayah dan bunda pulang," ucap Cut melambaikan tangannya ke arah Mashita yang sudah memasuki mobil bersama kedua orang tuanya.


"Dadahhh Bunda, Ayah," sahut Mashita dengan gembira. Awalnya dirinya tidak ingin berpisah dari kedua orang tuanya tetapi karena bujukan dari om dan tantenya jika mereka akan bermain bersama maka Mashita mau ikut bersama dengan nenek dan kakeknya.


Ihsan ikut melambaikan tangannya ke arah Mashita. Ihsan melajukan mobilnya setelah mobil yang lainnya melaju. Kini, keduanya menuju hotel yang sudah Ihsan pesan untuk semalam.


"Aku bahagia banget hari ini, Bang!" ucap Cut dengan memeluk lengan Ihsan dengan tersenyum.


Ihsan tersenyum tipis dengan mengecup bibir sang istri dengan sekilas.


"Abang juga bahagia, Sayang. Terima kasih atas kesabarannya selama ini," ucap Ihsan dengan tersenyum.


"Malam ini kita akan membuat adik untuk Mashita, Sayang. Biar anak kita ada temannya," ucap Ihsan membuat Cut mengangguk malu.


Keduanya saling terdiam menikmati malam dengan sangat indah. Ihsan memejamkan matanya saat kepalanya kembali merasa pusing. Kenapa sakit kepalanya datang kembali di saat yang tidak tepat seperti ini? Padahal selama dua tahun ini Ihsan tidak merasakan sakit lagi.


Cut tidak merasa curiga dengan keadaan Ihsan sekarang karena Ihsan terlihat biasa saja hingga mobil yang Ihsan kendarai mulai berjalan dengan sangat aneh.


"Abang mobilnya kenapa?" tanya Cut dengan panik.


Ihsan diam karena tiba-tiba telinganya berdengung sakit. Cut panik melihat wajah pucat sang suami. "Abang berhenti biar Cut yang membawa mobilnya," ucap Cut dengan panik.


Cut mencoba mengendalikan setirnya. Ihsan terus mengerang kesakitan.


"Abang berhentikan mobilnya. Aku yakin Abang bisa," ucap Cut dengan cemas.


Ihsan mencoba fokus dengan mengemudinya walau rasa sakit terus semakin menjadi. Tetapi kenapa kakinya tidsk bisa digerakkan?


"Abang bertahan ya!"


"S-sayang," ucap Ihsan dengan napas yang tersendat karena menahan rasa sakit pada kepalanya dan juga mencoba menginjak rem agar mobil mereka berhenti tetpi Ihsan tidak bisa melakukan itu.


"ABANG AWAS!!!" teriak Cut histeris saat ada mobil yang melaju kencang ke arah mereka.


"Aaaaa...."


Brakkkk.....


Kecelakaan itu tidak bisa terelakan lagi karena Ihsan tidak bisa mengendalikan mobilnya lagi. Mobil Ihsan menabrak membatas jalan hingga remuk.


"A-Abang....."


"M-maafkan Abang, Sayang!"


Ihsan menggenggam tangan Cut dengan susah payah. Darah segar terus keluar dari kepala Ihsan hingga lelaki itu kehilangan kesadarannya begitu pun dengan Cut.


Mereka tidak tahu jika kebahagiaan yang mereka rasakan tadi menjadi kesakitan yang akan sangat membekas di hati. Perpisahan adalah kesakitan yang membuat takdir begitu kejam untuk keduanya.